99 Day'S

99 Day'S
Membawa Elina Pergi



" Kau puas sekarang, kau sudah berhasil menghancurkan keluarga kami dan merubah sikap kakakku " ujar Elina


“ SEKARANG PERGILAH DARI SINI J*L*ANG SIALAN ” ujar Elina membentak Nindy


PLAKKKKK


Rafael yang mulai kesal dengan Elina mulai menyiksanya, Elina yang disiksa oleh Rafael hanya bisa pasrah, dan lagi lagi Nindy berpura pura baik dihadapan Rafael


“ Rafael jangan sakitin Elina, tidak apa apa aku sudah terbiasa dengan cacian seperti itu, suatu hari nanti Elina juga akan menerimaku ” ujar Nindy menghentikan Rafael yang siap memukul Elina


“ Cihh, sampai kapan pun aku gak akan sudi menerimamu ” ujar Elina


“ ELINA ” ujar Rafael marah


“ Apa? Kenapa? Mau memukulku lagi, silahkan pukul aku sesuka hati kakak, sampai aku mati pun aku gak akan sudi menerimanya ” ujar Elina dengan air mata yang keluar membasahi pipinya


Rafael ingin memukuli Elina kembali, tetapi sekali lagi dihentikan oleh Nindy


“ Sudah cukup Rafael, jangan sakiti Elina lagi ” ujar Nindy sambil mengenggam tangan Rafael dan air mata yang mengalir


“ Seharusnya kamu beruntung El, Nindy selalu memikirkan tentangmu, kenapa kamu selalu saja menjelek jelekkannya hah?, Nindy selalu peduli denganmu tetapi kamu… ” ujar Rafael


“ Peduli? ” ujar Elina dengan smirk dibibirnya


“ Sejak kapan j*l*ng ini memperdulikanku yang dia perdulikan hanya uang uang dan uang saja ” ujar Elina


“ Elina cukup, aku sudah muak denganmu, jangan buat aku benar benar mengabisimu disini ” ujar Rafael


“ Kalian berdua bawa Elina kekamarnya ” ujar Rafael kepada kedua anak buahnya


“ Kenapa? Habisi aku sekarang juga, aku sudah muak dengan perlakuan kakak yang seperti ini ” ujar Elina


“ Pengecut ” ujar Elina dengan smirk diwajahnya


“ Apa kau bilang? ” ujar Rafael yang sudah tidak bisa menahan amarahnya


Rafael menjambak rambut Elina dengan keras dan membawa Elina kekamar mandi, sesampainya disana Rafael menyalakan kran wastefel tersebut, setelah terisi penuh dia menyeburkan wajah Elina ke air tersebut, Elina memegang tangan Rafael yang berada di kepalanya untuk menghentikannya, tetapi Elina tidak berhasil, tak selang beberapa lama Rafael mendengar suara keributan di bawah, Rafael pun langsung mengangkat wajah Elina dari air dan menghempaskan kasar tubuh Elina ke lantai hingga membentur dinding, dia pun pergi kearah jendela untuk melihat siapa yang membuat keributan.


Beberapa jam yang lalu


“ Bagaimana? Kamu sudah menemukannya? ” tanya Jazztin kepada salah satu anak buah yang sedang melacak keberadaan Elina


“ Sebentar ” ujar salah satu anak buah tersebut


Beberapa menit kemudian


“ Aku menemukannya ” teriak anak buah tersebut


“ Dimana? ” tanya Jazztin


“ Handphone milik bu Elina terakhir aktif di wilayah pinggiran kota ” ujar salah satu anak buah tersebut


“ Aku akan kesana sekarang ” ujar Jazztin


“ Aku akan ikut denganmu ” ujar Akila


“ Kami juga akan ikut dengan bapak ” ujar salah satu anak buah tersebut


“ Baiklah ayo ” ujar Jazztin


Mereka pun mencari - cari Elina wilayah tersebut, hingga mereka pun menemukannya, mereka langsung pergi kesana dan memaksa masuk kedalam rumah tersebut, hingga terjadilah keributan disana, Akila tidak bisa tinggal diam menunggu dia juga bertarung melawan anak buah Rafael dan menerobos masuk kedalam rumah tersebut, setelah berhasih dia segera mencari keberadaan Elina, hingga dia berhenti di sebuah ruangan dan melihat