
Hingga suara seseorang menghentikan kegiatan Akila dan Elina, mereka berdua menatap kearah pintu untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan Jazztin
“ Siapa yang mengizinkanmu untuk kekantor hari ini, Elina? ” ujar Jazztin dengan suara sedikit meninggi
“ Aku tau maafkan aku, tapi aku sudah sembuh ” ujar Elina
“ Dengan luka dikepalamu itu, kamu pikir bisa sembuh dengan cepat, sekarang ayo pulang aku akan mengantarkanmu ” ujar Jazztin sambil menarik tangan Elina
Tapi seseorang masuk ke ruangan tersebut dan melepaskan tangan Jazztin dari tangan Elina dan menarik tangan Elina membawanya pergi dari situ, Akila menghentikan orang tersebut dengan berlari cepat kearah pintu dan menutup pintu tersebut
Jazztin terkejut dengan kedatangan orang tersebut dan juga dia terkejut saat melihat Akila yang bisa berlari begitu cepat kearah pintu
“ Kau kira bisa membawanya pergi dari sini ” ujar Akila menatap Rafael
“ Kenapa aku tidak bisa membawanya pergi? Dia adikku jadi aku berhak ” ujar Rafael
“ Adik? ” ujar Jazztin dengan tertawa
“ Setelah apa yang kamu perbuat kepada Elina, apa kau masih bisa disebut sebagai seorang kakak? ” ujar Jazztin
Pertengkaran antara mereka pun terjadi hingga
DORRRR
Jazztin dan Rafael pun terkejut mendengar suara tembakan tersebut dan melihat Akila dan Elina yang sudah jatuh kelantai dengan kepala Akila yang terbentur meja kerja jazztin, Akila berdiri dan mencoba melihat kearah gedung diseberang kantor jazztin, dia melihat seseorang dia atas gedung tersebut dengan senjata ditangannya, saat Akila ingin menajamkan penglihatannya untuk melihat siapa orang tersebut, tiba tiba saja tembakan secara acak terjadi
Orang tersebut menembak ke segala arah tanpa menargetkan siapa pun, mereka berlindung tetapi seseorang tersebut lebih pintar satu tembakan tepat mengenai dada Elina, Akila Jazztin dan Rafael menghampiri Elina dan Rafael menggendong Elina pergi ke mobilnya untuk membawanya ke rumah sakit, setelah satu tembakan tersebut mengenai Elina, tembakan pun berhenti, dan Akila mencoba untuk melihat kearah gedung tersebut tapi dia tidak menemukan seseorang disana, Akila pun menyusul Rafael dan Jazztin yang membawa Elina ke rumah sakit
“ Arghh, kenapa jadi seperti ini? ” ujar Nindy dengan membuang barang barang yang ada di meja
Sementara orang yang di temui oleh Nindy hanya diam disofa dan melihat Nindy yang sudah kacau
“ Lalu maumu apa, kau ingin aku membunuhnya seperti aku membunuh orang itu ” ujarnya sambil melemparkan pisau ke sebuah foto yang ada di dinding
“ Memangnya kau bisa, kau saja tidak becus membunuh orang itu apa lagi akan membunuh yang satu ini ” ujar Nindy
“ Yaaa ” teriak marah orang tersebut
“ Memang benarkan, orang itu saja masih hidup sampai sekarang dan dulu kau bilang apa ‘aku sudah membunuhnya’ ” ujar Nindy
“ Kamu tenang saja orang itu hanya hidup sementara saja, orang itu tidak akan selamanya ada di dunia ini ” ujar orang tersebut
“ Apa maksudmu? ” tanya Nindy bingung dengan yang dikatakan oleh orang tersebut
“ Apa kau percaya dengan tugas sebelum pergi ke akhirat? Aku pikir hal seperti itu tidak pernah terjadi tapi itu terjadi kepada orang itu ” ujar orang tersebut
“ Jadi maksudmu bahwa orang itu hanya bisa hidup sementara di dunia ini karena tugas dari Tuhan dan akan pergi setelah tugasnya selesai ” ujar Nindy
“ Yaps, benar sekali ” ujar orang tersebut
“ Kamu harus membantunya menyelesaikan tugasnya ” ujar Nindy dengan smirknya