99 Day'S

99 Day'S
Tapi kenapa?



Akila menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dia pun menoleh dan betapa terkejutnya saat Akila tau bahwa orang yang memperhatikannya adalah Elina “ Elina ” ujar Akila terkejut dan merekapun berbicara dicafe terkedat disana dan sepi, Akila pun memberanikan bercerita segalanya kepada Elina, karna dia yakin Elina bisa menjaga rahasia tersebut


Elina yang mendengarnya tidak percaya yang terjadi, dia tidak percaya bahwa yang didepannya bukan lagi Akila yang dulu


“ Tapi bagaimana bisa ” ujar Elina


“ Aku juga tidak tau, sepertinya jiwaku masih ketarik kesini gara gara aku masih penasaran dengan kematianku ” ujar Akila


“ Aku ingin tau siapa sebenarnya yang melakukan hal tersebut kepadaku ” tambah Akila


“ Aku akan membantumu menemukan orang tersebut, aku tidak bisa melihatmu seperti ini ” ujar Elina


“ Terimakasih Na ” ujar Akila


“ Sama sama ” ujar Elina


“ Apa kamu sudah ceritakan semuanya dengan Jazztin? ” tanya Elina


“ Aku mohon jangan ceritakan semuanya kepada Jazztin ” ujar Akila memohon kepada Elina


“ Tapi kenapa? ” tanya Elina


“ Aku disini untuk membuat Jazztin tidak dalam bahaya, jika aku menceritakan segalanya kepadanya Jazztin akan dalam bahaya ” jelas Akila


“ Kita belum tau pelakunya seperti apa, kalau dia berani melakukan hal tersebut padaku dan kakakku mungkin saja dia tidak akan segan segan untuk melakukannya ke Jazztin, karena dia ikut campur dalam hal ini ” tambah Akila


“ Benar juga sih, baiklah aku tidak akan cerita ” ujar Elina


“ Tapi Akila sebaiknya cepat atau lambat Jazztin harus mengetahui hal ini ” ujar Elina


“ Aku tau, aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Jazztin ” ujar Akila


“ Akila ” Ujar Elina sambil menggenggam tangan Akila


“ Jazztin sebenarnya sangat mencintaimu, kamu tau dulu aku pernah menyatakan cintaku dia menolakku mentah mentah karna dia mencintaimu, sekarang pun dia masih mencintaimu tapi dia mengungkapkannya dengan caranya sendiri ” jelas Elina


Akila yang mendengarkannya terkejut, dia masih kepikiran perkataan Elina walaupun dia sudah ada di apartement Jazztin, dia merasa percaya dan tidak percaya dengan perkataan Elina, Akila tersadar setelah mendengar suara panggilan telpon dari Eliya, Akila pun mengangkat terlpon tersebut


“ Hai Li ” ujar Akila


“ Hai Kila ” ujar Eliya dari seberang sana


“ Maaf ganggu kamu ya La ” ujar Eliya


“ Kamu besuk sibuk atau tidak ” ujar Eliya


“ Kelihatannya sih enggak, memangnya ada apa Li? ” ujar Akila


“ Kita ketemuan yuk, udah lama gak ketemuan, aku juga baru saja sampai nih ” ujar Eliya


" Hmm, sekalian besuk aku kenalin Elina ke Eliya " batin Akila


“ Baiklah, dimana? ” tanya Akila


“ Dicafe Pandorama, jam 10 ” ujar Eliya


“ Baiklah aku akan kesana besuk ” ujar Akila


“ Sampai besuk La ” ujar Eliya


“ Iya ” ujar Akila


Mereka pun menutup panggilan secara sepihak, setelah itu Akila mencoba menghubungi Elina tapi tidak dijawab, Akila menelpon ke 2 kali tapi tetap tidak dijawab, Akila pun mulai khawatir dan disaat panggilan telpon yang ke 3 akhirnya Elina pun mengangkatnya


“ Hallo Na, kamu gak apa apa, kenapa lama sekali jawabnya ” ujar Akila


“ Hallo Akila, ini aku Jazztin ” ujar Jazztin menerima panggilan telpon Akila dari handphone Elina


“ Jazztin, Elinanya kemana? ” tanya Akila


“ Elina La, Elina, dia ” ujar Jazztin dengan nada suara yang cemas


“ Kenapa Elina? ” tanya Akila penasaran


“ Elina dia, dia ” ujar Jazztin


“ Elina kenapa? ” ujar Akila


“ Jangan bikin aku khawatir dong, cepet bilang apa yang terjadi sama Elina? ” ujar Akila


“ Dia, dia ” ucap Jazztin dengan nada gemetar


“ Dia kenapa? ” tanya Akila