99 Day'S

99 Day'S
Akila mencoba berfikir positif



Sebenarnya Jazztin berbohong ke Akila, dia mengatakan hal tersebut agar dia bisa dekat dengan Akila tapi tentang dokumen yang menumpuk itu memang benar, sesampainya Akila di kantor Jazztin, dia langsung pergi ke ruangan Jazztin, dan disaat dia membuka pintunya betapa terkejutnya dia dengan dokumen yang berserakan dimana mana


sedangkan Jazztin hanya sibuk bertelponan dengan seseorang sambil memunggungi Akila, Akila pun melipat tangannya di depan dada, setelah Jazztin selesai dengan telponnya dia pun membalikkan kursinya dan terkejut melihat Akila melipat tangan di depan dada dan memasang wajah marahnya.


“ Ya Jazztin apakah begini sikapmu?, kamu seorang CEO, berikan contoh yang baik bagi bawahanmu ” ujar Akila


“ Oh kamu sudah sampai, hehehe maaf ” ujar Jazztin


Setelah mengatakan hal tersebut Jazztin berdiri dari duduknya dan membereskan kekacauan di ruangannya dan setelah semuanya rapi mereka pun menyelesaikan beberapa dokumen bersama, 4 jam pun berlalu akhirnya mereka selesai mengerjakannya, Akila meregangkan ototnya dan berbicara dengan Jazztin agar dia mengizinkannya untuk pulang ke apartement


“ Tin sudah selesai semuanya kan ” ujar Akila memastikan


" Sudah semuanya, makasih ya udah membantuku " ujar Jazztin


" Kalau begitu aku pulang ya " ujar Akila


“ Mau makan dulu ” ujar Jazztin


“ Tidak usah, nanti aku makan di apartement saja ” ujar Akila


“ Baiklah, maaf ya aku tidak bisa mengantarmu ” ujar Jazztin


“ Iya tidak apa apa, urus saja tentang rapatmu nanti ” ujar Akila


Akila pun pergi dari kantor Jazztin, 4 jam yang lalu setelah Jazztin menelpon Akila dia sengaja memberantakkan ruangannya seolah oleh dia tidak sengaja melakukannya karena terlalu banyak kerjaan yang menumpuk, dan setelah selesai memberantakannya ada seseorang yang menelponnya dia pun mengangkatnya dia tidak tau kalau Akila sudah ada dibelakangnya, rencananya yang ingin membereskan ruangannya bersama dengan Akila menjadi gagal gara gara ada orang yang menelponnya, dan dia malah kena marah oleh Akila dan membersihkan ruangannya sendiri.


Disaat perjalan pulang Akila menelpon Elina menanyakan keberadaannya, tapi Elina sama sekali tidak menjawabnya, Akila terus menerus menelponnya tapi sama sekali tidak di angkat oleh Elina, Akila berfikir mungkin saja Elina sedang sibuk jadi tidak mengangkat telponnya, Akila mencoba berfikir positif, tak lama kemudian dia pun sampai di apartement.


Sesampainya di apartement Akila langsung menuju ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuh dan otaknya, setelah lama beristirahat Akila pun memutuskan untuk membersihkan badannya dulu setelah itu membuat makan malam, setelah membersihkan badannya Akila mendengar Handphone nya berdering, Akila pun melihat siapa yang menelponnya ternyata Elina.


Dia langsung mengangkatnya


“ Hai La, ada apa menelponku? ” tanya Elina dari seberang sana


“ Enggak kenapa napa sih ” ujar Akila


" Tapi kata Jazztin kamu pergi keluar kota, di kota mana? " tambah Akila


“ Iya aku sedang di kota tempat kamu tinggal dulu ” ujar Elina


“ Buat apa kamu disana? ” tanya Akila


“ Mungkin ada sebuah petunjuk disini, jadi aku kesini ” ujar Elina


“ Dan kamu menemukannya? ” tanya Akila


“ Aku menemukan dokter yang dulu menanganimu setelah kejadian malam itu ” ujar Elina


“ Kamu menemukannya ” ujar Akila tidak percaya


“ Iya aku menemukannya, akan aku ceritakan segalanya setelah aku kembali, aku tutup dulu telponnya ” ujar Elina


“ Iya ” ujar Akila


End Call


Setelah panggilan tersebut berakhir Akila langsung menuju ke dapur untuk memasak makan malam untuk dirinya dan Jazztin, sementara di tempat Elina


“ Bagaimana dok, keadaanya? ” tanya Elina kepada seorang dokter


“ Maafkan saya, pasien tidak bisa diselamatkan ” ujar sang dokter