
Jazztin pun keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Elina dan Rafael yang duduk di sofa, “ Katakan semuanya ” ujar Jazztin saat dia sudah berada di depan Elina dan Rafael, “ Hei tenanglah Jazztin, duduklah terlebih dahulu ” ujar Akila melewatinya dan duduk di antara Elina dan Rafael, Jazztin pun duduk di hadapan mereka bertiga, setelah Jazztin duduk seorang pelayan menghampirinya dengan minuman di tangannya, pelayan tersebut pun meletakkan minuman tersebut di atas meja depan Jazztin
Jazztin mengambil minuman tersebut dan meminumnya tanpa curiga mereka bertiga mencampurkan sesuatu di minuman tersebut, dan di sela sela minumnya Jazztin berkata “ Jadi benar, kau sudah tiada ” ujar Jazztin dengan menatap Akila, Akila hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kepalanya, “ Bagaimana bisa terjadi? Sebenarnya apa yang kau lakukan hingga kau bisa kehilangan nyawamu seperti ini ” ujar Jazztin dengan menundukkan kepalanya dan tangannya yang menggenggam kuat gelas yang dia pegang
“ Aku tidak terlalu ingat semuanya, ingatanku seperti sesuatu yang salah, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa meninggal dan aku juga tidak tahu bagaimana kakakku bisa meninggal, yang aku ingat hanyalah suara seseorang yang mengatakan bahwa aku meninggal karena tertembak dan kakakku meninggal kerena papamu ” jelas Akila dengan panjang lebar, Jazztin yang mendengarnya terkejut dan melihat ke arah Akila
“ Lalu kalian menyembunyikannya dariku ” ujar Jazztin tidak percaya bahwa orang yang di percayainya menyembunyikan hal sebesar ini dari dirirnya, “ Maaf, kami tidak bermaksud menyembunyikannya darimu ” ujar Elina, mereka bertiga terkejut karena tiba tiba saja gelas yang di genggam Jazztin pecah dan mengakibatkan tangan Jazztin terluka, setelah gelas yang di genggamnya pecah Jazztin berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka bertiga tanpa mengatakan sepatah kata pun
“ Jazztin ” ujar Elina dan Akila bersamaan, Akila dan Elina ingin mengejar Jazztin tapi di tahan oleh Rafael , “ Biarkan dia sendiri ” ujar Rafael, “ Kau gila membiarkannya sendirian, tangannya terluka, apa kau tidak melihatnya hah ” ujar Akila dan Elina bersamaan dengan nada yang sedikit meninggi, “ Biarkan dia menyendiri, percayalah padaku dia tidak akan melakukan hal yang tidak tidak, besok kita akan berbicara dengan dia lagi ” ujar Rafael
seteah itu Rafael pergi ke kamarnya yang berada di markas Elina
Sementara itu setelah keluar dari markas Elina, Jazztin berjalan tanpa arah dengan tangannya yang masih terluka, di saat dia berjalan, Jazztin melihat seorang wanita paruh baya yang sedang memunguti barang belanjaannya yang berserakan di jalan, Jazztin menghampiri wanita paruh baya tersebut dan membantunya memunguti barang belanjaannya tersebut
“ Terima kasih nak ” ujar wanita paruh baya tersebut kepada Jazztin, Jazztin hanya menanggapinya dengan tersenyum, di saat Jazztin ingin melangkah pergi tetapi Jazztin berhenti setelah mendengar apa yang di katakan wanita paruh baya tersebut, “ Oh nak tanganmu berdarah ” ujar wanita paruh baya tersebut, “ Darah? ” batin Jazztin dan jazztin pun melihat ke tangannya, Jazztin benar benar tidak sadar bahwa tangannya terluka, “ Maafkan aku bi, barang belanjaan bibi jadi kotor karena darahku ” ujar Jazztin, “ Tidak apa apa, kamu ikutlah bibi ” ujar wanita paruh baya tersebut