99 Day'S

99 Day'S
Sebuah Peti



Akila yang berada di samping Jazztin, memeluknya dari samping dengan tujuan untuk menenangkannya, Akila pun berkata “ Aku tau, tapi ini semua bukan kesalahanmu, ini semua adalah takdirku, memang sudah menjadi takdirku harus menjalankan semua tugas yang diberikan oleh Tuhan kepadaku dan aku tidak bisa melawan takdirku Jazztin ”, setelah Akila merasa bahwa Jazztin sudah mulai tenang, Akila melepaskan pelukannya dan bertanya dengan serius “ Kenapa kau loncat dari atap kemarin? Apakah kau sudah bosan hidup Jazztin? ”, Jazztin hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya


Elina pun bertanya “ Lalu? ”, “ Aku hanya mengetes kalian saja ” ujar Jazztin berbohong kepada mereka bertiga, “ Candaanmu keterlaluan Jazztin, jika Akila tidak sampai tepat waktu, kau benar benar akan jatuh ” ujar Elina, sementara itu di tempat lain, “ Kau benar benar tidak bisa di andalkan Eliya ” ujar Nindy dengan sangat marah, “ Yaa, kenapa kau jadi menyalahkan semuanya kepadaku hah?, kau bilang semuanya akan berhasil tapi apa Jazztin malah mengetahui semuanya dari mereka bertiga ” ujar Eliya tidak mau kalah dari Nindy


Mereka terus bertengkar tanpa adanya yang mau mengalah, Eliya yang sudah capek bertengkar dengan Nindy memilih untuk mengalah dan berdamai dengan Nindy, “ Karena Akila sudah berhasil mencegah Jazztin membunuh dirinya sendiri, berarti tugas Akila akan segera berakhir ” ujar Eliya dengan senyumannya, “ Kenapa kau sangat bahagia sekali mendengar tugas Akila akan berakhir? ” tanya Nindy yang heran melihat Eliya tersenyum bahagia seperti habis memenangkan undian lotre, “ Tidak apa apa, aku hanya senang saja ” ujar Eliya


Mereka berdua pun bersenang senang karena tugas Akila yang sebentar lagi akan berakhir, ke esokkan harinya, Jazztin sudah di perbolehkan untuk pulang, sekarang ini mereka berempat lagi berkumpul di ruang bawah tanah rumah Elina, dan seketika Elina teringat akan sesuatu dan dia pun bertanya kepada Jazztin “ Tin, apakah kau membawa kunciku? ”, Jazztin hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil kunci yang Elina maksud di kantong celananya karena Jazztin salalu membawanya untuk berjaga jaga jika sewaktu waktu dia bertemu dengan Elina


“ Kau marah marah hari itu, hanya untuk membuka peti yang berisi hanyalah sebuah album foto dan juga buku diari, Na ” ujar Akila, Elina pun berkata “ Aku tidak tau kenapa, tapi rasanya aku harus membuka peti ini, dan aku selalu mengingat perkataan yang papa ucapkan padaku waktu itu ”, Jazztin pun bertanya “ Memangnya apa yang di katakan oleh papamu waktu itu? ”, “ Jika suatu hari kau ingin mengingat masa lalumu, bukalah peti ini ” ujar Elina


“ Saat pertama kali aku melihat Akila, rasanya aku pernah bertemu Akila sebelumnya tetapi dimana aku tidak bisa mengingatnya, aku juga merasakannya hal yang sama setelah melihat Eliya untuk pertama kalinya ” tambah Elina, mereka bertiga bertambah bingung dengan ucapan Elina, dan mereka berempat pun memutuskan untuk membuka album foto tersebut dan membaca buku diari tersebut