
Akila yang melihat temannya sedang kesakitan tidak tinggal diam
“ Maaf tuan, saya sedang berbicara dengannya dan anda seenaknya saja membawanya pergi ” ujar Akila kepada orang tersebut dengan memegang tangan Elina yang dicengkram olehnya, orang tersebut sama sekali tidak memperdulikan Akila dan terus berjalan sambil menarik paksa Elina
“ Ya tuan, saya sedang bicara dengan anda ” ujar Akila menghadang orang tersebut
“ Sebenarnya apa masalahmu? ” ujar kakak Elina menahan amarahnya
“ Apa seperti ini kelakuanmu kepada adikmu?, kau tidak melihat betapa kesakitannya adikmu ini hah ” ujar Akila yang sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi
“ Ini urusanku dengan adikku, kau jangan ikut campur dalam hal ini, mengerti ” ujar kakaknya Elina dengan satu tanganya mencengkram pipi Akila
Akila menyingkirkan tangan kakaknya Elina dari wajahnya dengan kasar
“ Jelas ini urusanku\, mana bisa aku membiarkan Elina bersama dengan seorang kakak sebr*ngs*k dirimu ” ujar Akila
Orang tersebut menampar Akila dengan cukup keras hingga membuat Akila tersungkur kelantai, orang tersebut berlutut mensejajarkan dirinya dengan Akila serta mencengkram pipi Akila dengan sangat kuat
“ Ini balasanmu karna kamu sudah berani masuk campur urusanku dengan adikku dan sudah berani ngatain aku br*ngs*k ” ujar kakaknya Elina sambil melepaskan tangan dari wajah Akila dengan sangat kasar
Setelah itu dia pun berdiri dan mencengkram tangan Elina kembali sambil memaksanya pergi
“ Ya, Aku ga takut dengan kamu, lepasin Elina, kalau kamu ingin nyakitin Elina lawan aku dulu kalau kamu berani ” teriak Akila dan berdiri dengan amarah yang tidak terkendalikan disaat kakaknya Elina ingin menghampiri Akila, tanganya ditahan oleh Elina
“ Sudah kak Rafael, sudah cukup jangan sakitin temen Elin ” ujar Elina dengan tanganya yang memegang tangan kakaknya tersebut
“ Sudah Kila, tenangkan dirimu, aku akan menemuimu setelah aku menyelesaikan masalahku dengan kak Rafael ” ujar Elina menatap Akila dengan raut wajah memohon
“ Argghhh ” ujar Akila kesal sambil mengobrak abrik dompetnya mencari handphonenya
Setelah menemukannya dia mencoba untuk menyalakannya tetapi sama sekali tidak menyala
“ Aiisshhhh, kenapa harus sekarang sih? ” ujar Akila
Dan dia langsung pergi dari situ setelah membayar pesanannya dengan Elina dan kekacauan yang dia buat dengan Rafael, Akila pergi kekantor Jazztin, sesampainya disana dia segera keruangan Jazztin dan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu
Saat dia membuka pintu, dia sama sekali tidak menemukan Jazztin disana, dan Akila pun memutuskan untuk menanyakan keberadaan Jazztin oleh salah satu karyawan disana, disaat dia ingin pergi menghampiri Jazztin, ada suara seseorang yang terdengar sangat familiar bagi Akila
“ Oh Akila ada apa? ” tanya Jazztin setelah sampai didepan Akila
“ Jazztin, Eli… ” ucapan Akila belum selesai sudah diserobot dulu oleh Jazztin
“ Ini, Kenapa pipimu memerah? Apakah kamu ditampar seseorang? Katakan siapa orangnya? ” tanya Jazztin bertubi tubi
“ Ini tidak penting yang penting sekarang itu… ” ucapan Akila lagi lagi dipotong oleh Jazztin
“ Tidak penting gimana, kamu terluka, ikut aku ” ujar Jazztin menarik Akila keruangannya
“ Duduklah dulu ” ujar Jazztin medudukkan Akila di sofa dan mencari dimana keberadaan kotak P3Knya
“ Jazztin ” ujar Akila memanggilnya
Setelah menemukannya Jazztin pun duduk disamping Akila dan mengobati pipi Akila tapi disela sela kegiatan tersebut Akila menghentikan Jazztin dengan memegang lengan Jazztin