360 DAYS

360 DAYS
Bimbingan



Terimakasih yang sudah mampir membaca🥰


Maaf ya kalau kisahnya nggak sat set sat set hehe, soalnya Aku mau bikin ini berjalan alami (tanpa ada embel- embel perjodohan, pemaksaan kehendak dll), apalagi posisi mereka kan Guru dan Murid, tentu harus memikirkan Etika hubungan diantara keduanya. Biar cinta mengalir dengan sendirinya. gitu. hehe. seperti pepatah jawa "Tresno jalaran soko kulino". Cinta datang karena terbiasa. Kurang lebih begitu artinya🤭.


Beberapa bagian memang ada di kehidupan nyata, tetapi selebihnya bener- bener khayalan ku tingkat dewi🤣.


.


.


Lanjuttt😘


"Ini kisi- kisi materi yang akan dilombakan, kurang lebih akan seperti ini.. untuk soal yang keluar, Bapak sudah rangkumkan buat kamu dari soal- soal tahun sebelumnya.. nah yang ini.. buat gambaran kamu aja". Aku menjelaskan pada murid di hadapanku, sambil menunjuk- nunjuk lembaran kertas di meja. Murid itu mengangguk tanda paham.


"Kamu bisa pelajari ini dulu, nanti Bapak pinjami Buku buat belajar, kalau ada yang bingung, bisa nanti kita diskusi".


"Iya Pak..".


Setelah diskusi mengenai siapa murid yang akan diikutsertakan dalam perlombaan dua minggu mendatang, Akhirnya dipilihlah beberapa siswa terbaik yang SMA miliki. Ada yang menggelitikku saat rapat penentuan beberapa hari yang lalu. Salah satu murid menjadi rebutan guru Biologi dan Fisika. Dua rekanku sama- sama menginginkan murid tersebut mewakili sekolah di lomba mata pelajaran yang mereka pegang. Aku yang sebenarnya juga menginginkan murid tersebut ikut di lomba mapel (mata pelajaran) yang ku pegang, tidak ikut berebut. Bagiku, semua murid yang kupilih mempunyai kesempatan yang sama, walaupun diantara murid- murid itu ada yang lebih menonjol. Sampai Akhirnya, Kepala Sekolah memutuskan, Murid yang tadi diperebutkan oleh Guru Biologi dan Fisika, diikutkan untuk mata pelajaran Matematika, yang ku ampu.


Aku tertawa dalam hati. Entah mengapa seperti merasa menang tanpa berjuang😁.


"Saya permisi dulu pak". Irene beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan ruangan guru. Yaa, murid yang dimaksud adalah Irene. Tidak dipungkiri, dia memang berprestasi, dia Pandai di semua mata pelajaran sulit. Dia pantas membuktikan kemampuannya di lomba ini.


***


Bimbingan untuk murid yang mengikuti lomba matematika kulakukan bersama murid les privat. Hari ini terakhir bimbingan, Karena dua hari lagi lomba akan diadakan. Dua hari itu bisa digunakan untuk berlatih sendiri di rumah. Murid les sudah pergi setengah jam yang lalu, tersisa Irene yang masih di rumah orangtuaku ini.


Ibu menahan Irene agar jangan pulang dahulu setelah selesai bimbingan tadi, Beliau sedang asyik mengobrol dengan Irene. Aku masuk ke kamar dan tidak ikut Ibu mengobrol. Aku membaringkan tubuhku di kasur, sebenarnya Aku penasaran dengan apa yang sedang Ibu bicarakan dengan Muridku itu, tetapi jika Aku ikut, malah nanti diabaikan seperti saat di pasar waktu itu😌. Waktu sudah beranjak menuju malam, Aku keluar kamar, Rumah Irene berbeda Kabupaten, Jika dia terlalu lama disini, bisa- bisa dia pulang sudah malam. Kulihat, Ibu dan anak itu masih duduk berdua dan mengobrol. Ya ampuuun tidak selesai- selesai🤦‍♀️.


"Irene masih di sini?". Tanyaku. Lebih kepada mengingatkan, karena hari sudah mulai petang.


"Hehe Iya pak". Irene nyengir sambil menatapku, dari matanya tampak meminta pertolongan, sepertinya dia memikirkan hal yang sama denganku, bahwa hari beranjak petang dan dia harus pulang. Ibu melihat ke arahku juga.


"Hari sudah petang Bu, Irene harus pulang, Rumahnya kan jauh dari sini Bu". Aku berkata pada Ibu.


"Saking asyiknya ngbrol sampe nggak tahu sudah petang yaa.. hehe". Ibu tertawa, tangannya menyentuh tangan Irene.


"Sebaiknya menginap di tempat Bibi mu, Nak.. Biar besok kamu berangkat dengan anak ibu..". Ibu memberikan saran, Aku setuju, namun kalimat terakhir Aku secara tegas tidak setuju. Berangkat bersama? oh tidaakkk🥴 Aku menggelengkan kepala, namun untungnya Ibu tidak melihatku, bisa- bisa Ibu mengungkit soal anak yatim piatu, seperti biasanya saat menitipkan makanan untuk Irene.


"Iya Bu, Ini niatnya Irene mau ke rumah Bibi". Jawab Anak itu. Aku menghembuskan nafas berat. Jadi besok pasti Ibu akan memaksaku memboncengkan muridku🥲. Sabaarrrr..


"Irene pamit ya Bu, terimakasih ya Bu, malah Irene jadi merepotkan Ibu hehe". Irene menyalami tangan Ibu penuh hormat.


"Tidak apa- apa, Nak.. Ibu malah senang, Besok- besok main lagi ya.. jangan cuman karena ikut lomba". Pinta Ibu. Irene mengangguk.


Aku mengantar Irene hingga ke teras depan Rumah. Gadis itu terlihat malu- malu berjalan di sebelahku, Aku jadi teringat kebiasaannya dikelas, yang senang menatapku sambil tersenyum tak jelas.


"Mengapa kamu kalau di kelas senang sekali senyum sendiri sambil liatin saya?" Pertanyaan Itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku melihat Irene tersenyum canggung.


"Hehe, Sebenarnyaa....". Irene tampak malu- malu mau mengatakan sesuatu, dia memegangi jilbab warna maroon yang dia gunakan. Aku memperhatikan gerak geriknya. Aku menebak- nebak jawaban yang sekiranya akan dia keluarkan.


"Sebenarnya Bapak mirip sama Mendiang Ayah saya.. hehe".


Aku terdiam beberapa detik, mencerna maksud ucapan Irene. 'Aku?? Aku disamakan dengan Bapak- Bapak? Tidak masuk akal sekaliii'


Gadis itu segera meninggalkan teras rumah orangtuaku.


Sedangkan Aku masih berdiri, masih tidak percaya dengan yang dikatakan Irene.


"Apakah aku perlu berkaca?" Tanyaku pada diri sendiri. hmmm,


***


Aku masuk ke dalam rumah, Ibu sudah tidak terlihat di ruang tamu, tempat tadi Ibu mengobrol dengan Irene. Aku menutup pintu depan dan segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Adzan maghrib sudah berkumandang. Selesai menunaikan kewajibanku, Aku berbaring di kasur. Hari ini rasanya lelah sekali.


Aku mulai memejamkan mata, saat sebuah pesan masuk ke hapeku.


Drrt drttt


Irene:


Sya sdah berada di rmah Pak.. Jd bpk tidak perlu khawatir besok berangkat dg sya😬🙂


Aku:


Oh iya.. td diantar siapa?


Irene:


Dijemput Kakek, Pak


Aku:


Ok, selamat istirahat, bljrnya tdk usah terlalu diforsir, dua hari ini latihan soal sja.


Irene:


Siap Pak🙃


Aku meletakkan hapeku. Aku bisa bernafas lega, setidaknya ledekan dari rekan guru tidak akan menjalar kemana- mana. Saat Ibu menitipkan makanan, seperti awal Aku meminta Irene mengambil sendiri di motorku, dan tentu saja itu berhasil menghindarkan Aku dari ledekan rekan guru. Tetapi.. Aku masih teringat dengan ucapan Irene yang mengatakan Aku seperti mendiang Ayahnya. Aku jadi penasaran.


.


.


Apakah memang mirip?


.


.


.


Bersambung😘


(Wah Irene bener- bener yaa.. masa nyamain song jong ki sama bapak- bapak😅, jelas nggak terima donk.. Hehee)