
Ekstra part kedua hadiiirrr💋
.
.
Jangan lupa baca karyaku yang masih on going yah.. FLYING LECTURER.. genre horor😁
.
"Bu, ada bercak darah keluar..". Irene menemui Ibu mertuanya yang berada di halaman belakang.
Wanita hamil itu sebelumnya ke kamar mandi hendak buang air kecil. Dia melihat bercak darah di **********.
Apakah ini saatnya? Tanya nya.
Ibu menoleh, Sudah tiga kali dia melahirkan, tentu saja pengalaman tidak diragukan.
"Tanda- tanda cucu Ibu mau keluar, Nak.." Ujar Ibu dengan senang.
"Kamu jalan- jalan dulu, di dalam rumah ya.. Ibu mau cuci tangan dulu..". Imbuh sang Ibu.
Melihat Ibu mertuanya yang tenang- tenang saja, membuat Irene khawatir.
"Mas Rama gimana Bu? Tidak dikabari sekarang?".
"Nanti saja, Kalau masih bercak darah yang keluar, proses pembukaannya masih lama.. Apalagi kamu baru pertama..". Jelas sang Ibu.
"Kamu tenang saja, Ibu akan panggil Kakakmu supaya ke sini bawa mobil.. Nanti kalo sudah waktunya, bisa langsung berangkat ke tempat prakteknya Doktermu...".
Irene mengangguk, dan berusaha menenangkan diri.
Dia mulai berjalan ke teras, kemudian kembali hingga ke halaman belakang.
Dokter sudah menjelaskan tanda- tanda persalinan, dan dia paham itu. Namun saat mengalaminya langsung seperti ini, Dia merasa khawatir.
Ibu sudah kembali dari mencuci tangan, Dia mendekati menantunya, dan mengelus perut buncit sang menantu.
"Nanti kalau sudah mulai mules- mules, bilang sama Ibu yaa..". Kata sang Ibu.
Irene mengangguk. Dia berjalan seperti permintaan Ibu.
Ibu menghubungi Kakak Irene, dan meminta untuk membawa mobil ke rumah.
"Bu? Irene telpon Mas Rama yaa..".
Melihat menantunya yang terlihat khawatir, akhirnya Ibu mengangguk. Dia yakin, anaknya itu akan pulang terburu- buru begitu mengetahui Isterinya akan melahirkan. Tadi pagi saja, Dia berangkat bekerja dengan setengah hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rama sedang memberikan penjelasan materi LIMIT di kelas 12, saat sebuah panggilan masuk ke hapenya.
Lelaki yang sejak tadi pagi merasa gelisah itupun langsung merogoh saku celanannya untuk mengambil hape.
Dari Irene.
"Iya yang?"
"......"
"Ha? Iya.. iya, kamu tenang yah.. Mas pulang sekarang..".
Rama mematikan ponselnya, dan masuk kembali ke kelas. Dia langsung membubarkan kelas, dan menyuruh mereka belajar secara mandiri.
Jantungnya berdegup tak karuan saat mendengar suara isterinya, mengatakan bahwa bayi mereka akan segera keluar.
Ingin dia bertanya, kenapa baru dikabari sekarang?? Tetapi pertanyaan itu tertahan di tenggorokan.
Dia masuk ke kantor, dan menyambar tas kerjanya. Buku ajar yang biasanya ditata terlebih dahulu, dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja.
"Saya pulang dulu Pak.. Isteri mau melahirkan". Pamit Rama pada Rekan kerjanya.
q"Oh iya Pak.. Semoga lancar persalinannya yaa...".
Rama berterimakasih atas doa dari rekannya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas kamu sudah sampai?". Irene yang baru saja berjalan ke teras kaget melihat suaminya sudah ada di teras.
"Ayo kita berangkat ke tempat dokter..". Ajak Rama. Padahal Dia baru saja sampai, tetapi sudah mau mengajak pergi.
"Belum saatnya, Nak.. Nanti jika sudah mulai mulas teratur baru dibawa, biar tidak terlalu lama di klinik..". Ibu datang ke teras, saat mendengar suara motor memasuki halaman rumah.
Benar dugaannya, anak bungsunya itu pasti terburu- buru pulang.
"Tapi Bu...". Rama ingin membantah,
"Sudah kamu ganti baju dulu, biar nanti kalau Isterimu sudah siap, Ndak perlu nungguin kamu ganti baju..". Ibu menyuruh anaknya itu mengganti seragam kerja dengan baju harian.
"Aku ganti baju dulu ya...". Rama masuk ke rumah dengan segera, kemudian berganti baju.
Irene kembali berjalan ke depan hingga ke belakang. Sesekali dia akan duduk karena capek. Dia belum merasakan mules, apakah masih lama lagi?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 12 malam, saat semua orang sudah mulai tertidur, Irene merasakan bayi di dalam perutnya bergerak, seperti mendesak ingin keluar.
Dia melirik suaminya yang sudah menutup mata. Satu jam yang lalu, semua penghuni rumah masih terjaga, harap- harap cemas kalau Irene akan melahirkan, namun sampai jam 11 belum muncul tanda mulas, akhirnya mereka memutuskan beristirahat dahulu.
Sopir Kakak sulung Rama bahkan menginap di rumah keluarga Pak Pram.
Irene mendudukkan dirinya, kemudian berdiri. Dia berjalan hilir mudik seperti sore hari tadi. Bayi bergerak di dalam sana membuat Irene merasakan mulas beberapa saat, kemudian hilang.
Saat mulas itu sudah mulai tidak tertahan, Irene memanggil suaminya.
"Mass... Bangun...". Irene yang susah untuk jongkok untuk sekedar menepuk si suami, hanya bisa memanggil suaminya,
Rama langsung terbangun begitu mendengar suara sang isteri. Dia melirik jam dinding, pukul 3 Pagi.
"Aku mules Mas.. Sepertinya udah waktunya...".
Dengan sigap, Rama mengambil tas berisi perlengkapan bayi dan Ibu, yang sudah dipersiapkan jauh- jauh hari. Dia menuntun Isterinya keluar dari kamar.
Rama mendudukkan Isterinya di sofa ruang tamu, Dia sendiri menuju kamar sang Ibu.
Tok tok..
"Buu...Irene mau melahirkan Bu...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara syukuran aqiqah sekaligus pemberian nama untuk Bayi Rama dan Irene diadakan malam ini. Rumah mertua Irene sudah ramai oleh tetangga sejak pagi hari. Dimulai saat proses penyembelihan2 ekor kambing, lalu menguliti, hingga sibuknya Ibu- ibu memasak di dapur.
Irene sedang menyusui bayinya di dalam kamar. Rama memasuki kamar,
"Ayo Jagoan dibawa keluar.. Mau dicukur rambutnya..". Irene mengangguk. Dia melepas put!ng soesoe yang sedang di hisap Bayinya. Kemudian menyerahkan bayi tersebut ke gendongan suami.
Pasangan yang baru seminggu merasakan punya bayi itu segera keluar dari kamar.
Acara segera dilanjutkan dengan menggunting rambut Bayi, kemudian doa dari pak Ustadz. Tibalah saat Rama akan menyebutkan nama anak laki- laki mereka.
Irene yang seminggu ini tidak mengetahui nama yang akan diberikan Rama ke anak mereka, terlihat tenang- tenang saja. Seminggu ini dia memanggil anaknya dengan DEDEK atau kadang juga JAGOAN. Apapun nama yang akan diberikan oleh sang suami, Dia yakin itu adalah Doa terbaik yang diberikan. Seperti halnya nama yang diberikan orang tuanya.
"Bismillah.. Nak, Kami memberikan nama kepadamu Maqil Liban Zayan, Papa dan Mama berharap kamu menjadi anak laki- laki yang cerdas dan sukses dunia akhirat kelak..".
Suara 'Aamiiiin' menggema di rumah Pak Pram. Semua orang mendoakan kebaikan untuk bayi laki- laki yang baru berusia seminggu itu.
'Maqil Liban Zayan, nama dan doa yang kamu berikan sangat bagus Mas, Semoga Tuhan memampukan kita dalam mendidik Aqil dengan pendidikan yang terbaik.. Amiiin'
.
.
Yeaayyy Si Bayi udah keluar aja nih, dan udah dikasih nama juga😁
MAQIL LIBAN ZAYAN. catet ya itu nama hehee,
Barang kali mau pake nama itu, mongoo🤭💋