360 DAYS

360 DAYS
pernyataan



Terimakasih yang sudah membaca dan memberikan dukungan pada karya ini🥰 Jangan lupa selalu tinggalkan jejak🙃🙃🙃


.


.


Lanjut yaa😘


.


.


Irene? Gumam Rama. Tanpa berpikir panjang, dia langsung membuka halaman 24. Di situ ada biodata singkat Irene. Ya itu benar Irene yang dikenalnya. Entah mengapa jantungnya langsung berdegup nyeri begitu membaca kalimat persembahan dari Irene.


'Untukmu, dari yang engkau anggap adik, dan selamanya begitu'


Rama membaca halaman pertama karya Irene.


TERSESAT DALAM LUKA


Aku..


Yang tersesat di dalam luka..


Yang terjerat di dalam luka..


Yang otenggelam di dalam lautan lara..


Yang terbius dalam lamunan cinta..


Tidak dapat menghindar dari gejolak rasa..


Bayanganmu selalu mewarnai setiap langkahku..


Aku..


Yang tidak dapat meluluhkan perasaan cintaku..


Yang tidak dapat menghindari segala mimpi tentangmu..


Yang tidak mampu jauh dari segala kenangan itu..


Tuhan..


Bantulah Aku..


Bantu Aku untuk dapat lepas dari semua ini..


***


KERINDUAN


Merenda sebuah tali kasih


Ku simpul menjadi satu hati


Gambaran jiwa yang terluka


Bagai langit meratap sendu


Kala bias cinta menghilang


Sakit itupun datang tanpa permisi


Rembulan tak menyisakan senyum


Bersama malam, ku dekap lirih arti kerinduan


Kesendirian


(Karya asli dari Kahlil Gibran)


***


DI UJUNG KATA- KATA


Masihkah ada sedikit senyum darimu


Di batas penantianku yang kini makin terbata


Jika masih ada ruang di hatimu


Untukku, sedikit saja, Tolong bicaralah


Pada tanah membentang


Pada pohon pohon rindang


Dan angin yang mengusik keangkuhan


Setidaknya biar ada tanda yang ku baca


dan ku raba


Janganlah sepi yang hadir


Janganlah semu yang membeku


Karena Aku selalu berjalan menujumu..


Rama sudah menyelesaikan 3 puisi karya Irene dalam Buku Antologi Puisi itu. Dia tidak bisa berkata apapun. Selama ini dia merasakan hal yang sama. Rindu, kesepian, dan harapan. Lelaki itu menyeka sudut matanya. Keputusannya mengajak Irene bertemu adalah keputusan terbaik.


***


Suara alarm membangunkan Rama dari tidur nyenyaknya. Lelaki itu menggeliat pelan. Kedua tangannya masih mendekap buku. Ya, Lelaki itu semalam tidur sambil mendekap Buku hadiah ulang tahunnya. Setelah puas membaca hanya karya Irene berulang- ulang, Dia akhirnya tertidur dengan pulas. Jangan lupakan Buku itu masih didekap dengan mesra, seolah itu adalah sosok yang dia rindukan.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rama sudah siap dengan seragam gurunya. Dia duduk di tepi ranjang, memasukkan buku hadiah ke dalam tasnya. Dia juga meraih ponsel yang semalam dia abaikan. Seperti kebiasaan beberapa hari ini, dia membuka aplikasi instagr@am, dan mengklik gambar pesan. Bingoo...!! Mata Lelaki itu langsung berbinar begitu melihat hal yang dia tunggu.


Irenesangdewi:


dimana?


Aku:


Saung kedungjati nanti siang, pagi saya ada jadwal mengajar..


Rama sudah mengirim balasan. Dia sedikit kecewa karena Irene hanya membalas satu kata saja. Tetapi kecewa itu sudah tertelan dengan rasa bahagia, karena akhirnya mereka bisa kembali bertemu, dengan layak. Yaa.. tidak seperti kemarin.


Rama segera keluar dari kamar dengan perasaan bahagia yang membuncah. Dia menuju meja makan, sudah ada Ayah di meja makan, namun tak terlihat Ibu.


"Ibu dimana, Yah?". Rama bertanya, setelah mendaratkan diri di kursi.


"Ke luar sebentar, Ayah tidak tahu..". Ayah menjawab, setelah itu melanjutkan menyuapkan nasi ke mulut.


Rama mengambil nasi dan lauk, kemudian memakan makanannya dengan khusyuk. Dia ingin segera melewati pagi ini, dan langsung melompat ke siang hari saja.😌


***


Siang hari...


Rama menghentikan motornya di parkiran saung kedungjati. Ini kedatangannya yang ketiga kali ke tempat ini. Dia mengedarkan pandangan, mencari seseorang, barangkali sudah ada di tempat. Dia kemudian melangkahkan kaki memasuki saung. Dia segera memilih tempat duduk. Dia sebenarnya berniat duduk di tempat yang dulu, namun sudah terisi orang. Jadilah Dia mengalah dan memilih tempat lain.


Sambil menunggu Irene datang, dia mengalihkan pandangannya ke hamparan sawah yang sudah mulai menguning. Langit siang ini sudah berubah mendung.


'Semoga sebelum hujan, dia sudah datang'. Harap Rama.


Tanpa disadari oleh Rama, di sudut saung yang lain, Dua orang gadis tengah memperhatikannya. Mereka tampak berbisik.


"Sudah sana samperin.. Tuh liat langit dah mendung.." Fifi mendorong pundak Irene untuk segera menghampiri Rama. Sementara yang di dorong terlihat ragu. Itu memang benar Pak Rama, sosok yang masih tersimpan rapat di hatinya, jadi selama ini Dia selalu memperhatikan dirinya dengan penyamaran? Mengapa tidak menghubungi sejak dulu?


Irene menepuk nepuk pipinya. Memikirkan hal itu membuat harapannya sedikit melambung.


"Nggak ada hubungannya nyamperin Pak Rama sama hujan, Fiii...". Irene merengut. Dia hanya sedang mempersiapkan mentalnya.


Irene menarik nafas perlahan, dan menghembuskannya perlahan juga. Dia melakukannya beberapa kali. Itu sedikit menenangkan debaran jantungnya.


'Baiklah.. Semangat Irenee...'.


Irene berdiri, dan mulai melangkah mendekati Pak Rama. Fifi memberi semangat tanpa bersuara. Dia berharap kisah rumit sahabatnya itu segera usai.


***


"Kak?". Irene menghentikan lamunan Rama. Lelaki itu menengok ke sumber suara, begitu dia mendapati seseorang yang dia tunggu, dia tersenyum lebar.


"Duduklah... Biar nanti kita pesan makanan..".


Irene duduk, dia meletakkan minibagnya di samping kakinya yang sila.


Pelayan mendekati meja rama, memberikan buku menu dan segera mencatat pesanan.


"Irene mau apa?". Rama bertanya dengan lembut. Sementara itu Irene terlihat gugup.


"Sama aja lah kak hehee". Irene menggaruk telinganya sambil tertawa kecil.


"..............." Pelayan menulis pesanan, dan segera beranjak.


"Datang sama siapa?". Rama bertanya.


"Dengan Fifi, Kak..". Rama mengangguk mengerti. Dia tahu Fifi adalah teman dekat Irene semasa SMA, dan mungkin juga hingga sekarang.


"Saya semalam membaca puisi karyamu..". Rama memulai. Irene mendongak, dia paham pasti buku antologi itu.


"Ah benarkah hehe.. Saya iseng gabung di ormawa (organisasi kemahasiswaan) literasi kak..".


"Itu untuk saya?".


Deg... Jantung Irene terasa berhenti sesaat. Gadis itu tidak menyangka, Lelaki di hadapannya ini akan bertanya secara gamblang. Irene terdiam, tidak bisa menjawab.


"Ehmm...". Irene memikirkan jawaban.


"Saya tidak pernah menganggap kamu adik, jika kamu ingin tahu..". Entah mendapatkan keberanian dari mana, Rama bisa mengatakan hal itu. Yang dipikirkannya sekarang adalah, terangkan sejelas mungkin agar tidak ada kesalahpahaman lagi.


Irene menutup mulutnya begitu mendengar pengakuan dari Rama. Dia selama ini, ya selama empat tahun ini menganggap bahwa dirinya hanya dianggap sebagai adik. Itu membuatnya sakit dan terluka.


"Maksud..bapak apa?". Irene terbata.


"Saya menyukai kamu sejak waktu itu hingga sekarang". Tuntas sudah Rama mengatakan semuanya. Dia merasa lega.


Irene menyeka air mata yang menetes. Dia benar- benar tidak bisa mengatakan apapun. Dia bahagia, namun egonya mengatakan,


'Mengapa baru sekarang mengungkapkannya?'


Pramusaji memotong adegan melow yang sedang terjadi. Dia meletakkan makanan pesanan dengan hati- hati. Matanya sekilas melirik gadis berjilbab pink yang sedang menyeka air mata. Pikirannya berkelana, apakah mereka baru saja putus?.


"Terimakasih mbak". Rama berkata tulus, pramusaji itu mengangguk sopan, kemudian segera meninggalkan meja nomor 25 itu.


.


.


"Bagaimana perasaanmu ke saya, Ren?". Rama mencoba mengorek informasi..


.


.


Bersambung😘