
Halo halo pembaca novel sekalian..
Alhamdulillah setelah lama nggak nulis, akhirnya Aku memberanikan lagi menulis. Ini karya ketigaku. Judulnya : (Tak Akan) Bisa Bersama.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brakkkk !!!
Moncong speedboat menghantam batu besar tanpa ampun. Penumpangnya yang berjumlah enam orang itu terhempas ke segala arah. Wajah takut tergambar jelas, sebelum akhirnya tubuh mereka jatuh bebas ke dalam air.
Happ.. Happ.. Happ..
Tubuh mereka terombang ambing, diantara gelombang dan batu- batu besar sungai Kay*n. Beberapa kali mereka mencoba menarik nafas diantara sesak akibat tertarik pusaran air.
***
Hah Hah Hah.....
Gadis itu bangun dengan nafas memburu. Buliran keringat nampak di keningnya. Menunjukkan bahwa mimpi yang baru dialami itu begitu menyeramkan. Dia memejamkan mata demi meredam rasa takut yang muncul.
Kejadian itu yang selalu dia mimpikan setiap malam.
Ayudya Herfarini, atau kerap disapa Rini, mencoba bangun dari ranjangnya, tangannya yang tremor menapak di meja kecil yang ada di sisi kepala ranjang. Setelah dirasa seimbang, Dia mulai berjalan keluar kamar, menuju dapur mini yang ada di dalam kontrakannya.
Dia mengambil gelas kaca, kemudian mengisinya dengan air yang berasal dari dispenser. Setelah tandas satu gelas, Dia menghela nafas berat.
Setitik dua titik tiga titik berlanjut menjadi linangan air mata jatuh dari kelopak matanya.
Isakan mulai muncul dari bibir mungilnya. Reflek, tangan kirinya membekap mulutnya yang tidak sopan mengeluarkan suara.
Takut dan penyesalan. Dua hal yang pasti akan dia rasakan begitu drama mimpi buruk telah selesai.
Jika ada yang bertanya, mengapa penyesalan menyertai sebuah ketakutan?
Maka, jawabannya hanya satu, biarkan waktu yang menjawab semuanya.
***
Rini menatap pantulan dirinya yang berada di dalam cermin berukuran setengah badan. Dia melihat matanya sedikit merah dan bengkak. Dia mengambil bedak padat di meja rias, kemudian mulai memoles wajahnya.
Sisa malam setelah terbangun dari mimpi, Rini habiskan dengan tangisan dan penyesalan. Tak ayal itu membuat matanya bengkak.
Setelah selesai memoles bedak, wajah itu masih terlihat sama.
Pasti nanti banyak yang tanya. Hmm. Keluh gadis itu.
Pada akhirnya, Gadis itu memutuskan untuk memakai kacamata.
Setelah dirasa cukup tertutupi sisa- sisa perbuatannya, Dia segera mengambil ransel kerjanya. Kunci motor yang berada di gantungan dekat pintu keluar kamar dia ambil.
Dia keluar dari kontrakan tepat jam 7 pagi.
Beberapa kali Dia menyapa tetangga sebelahnya, yang juga akan berangkat bekerja.
Motor matic bermerek Var*o melaju membelah jalanan kota Tan**ng Se*or yang sudah mulai ramai. (Kedepannya Aku akan menggunakan nama Kota T, untuk menyebut Kota Tan**ng Se*or yaaa).
Rini mencoba menikmati pagi ini. Seperti hari- hari sebelumnya, semua terasa hambar.
Lampu traffic light menunjukkan warna merah, Rini menghentikan laju motornya. Dan menunggu lampu berubah warna menjadi hijau.
Sebuah mobil berwarna merah bata berhenti di sisi kanannya. Matanya tak asing dengan mobil itu, Dia melirik.
Kaca jendela mobil yang terbuka membuatnya dapat melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam kendaraan itu. Rini sudah menduga, dan memang benar adanya.
Gadis itu segera mengalihkan pandangannya. Dadanya berdesir sejak melihat mobil merah bata itu berhenti tepat di sebelah motornya. Dia berharap lampu jalan segera berubah hijau. Lampu yang tidak kunjung berubah warna membuat Rini gelisah, reflek tangan kirinya mengetuk- ngetuk stang motor.
Klakson dari kendaraan di belakang Rini menyentak lamunan gadis itu. Rini melirik lampu trafic, dan menghembuskan nafas lega. Dia segera menarik gas, dan secepat mungkin berlalu.
.
.
Jangan lupa mampir untuk baca yaah.. Tinggalkan jejak juga, biar Aku tahu kalau kalian membaca karya ku💋💋