360 DAYS

360 DAYS
Aku ingin kamu move on



Terimakasih yang sudah membaca dan memberikan dukungan pada karya ini.. jangan lupa like dan tinggalkan komentar yaa🥰


.


.


Lanjut😘


.


.


Irene memasuki kamar kos nya. Kamar ini sudah menemaninya selama hampir 4 tahun, dan setelah wisuda nanti dia harus meninggalkannya, meninggalkan semua kenangan. Saat bahagia, saat sedih, saat pusing memikirkan tugas, saat galau memikirkan perasaanya sendiri, semua dia lewati di kamar ini. Irene meletakkan tasnya serampangan di atas kasur. Dia sendiri langsung merebahkan tubuhnya.


Kring kring kring


Bunyi hape nya berdering, Dia segera meraih tas kecil yang berada di ujung kasur, dan mengambil ponsel. Tampak nama fifi muncul di hapenya beserta foto mereka berdua.


"Halo Sayangkuuuuu". Fifi berteriak dari ujung telpon.


Irene mendengus dan mengelus telinganya yang berdenging.


"Ya ampun fiiii.. habis makan apa kamu? Tiap telpon pasti tambah kenceng suaranya".


"Hishh kamu ini yaa.. kalo di deketku dah ku tekuk kamuuu..". Fifi berkata dengan kesal di luar sana. Irene hanya tertawa mendengar ancaman Fifi.


"Ada apa??". Tanya Irene.


"Jadi pulang kan lusa?". Tanyanya tak sabaran.


"Jadi donk.. kenapa emang? dah kangen yaa hehehe". Irene meledek sabahatnya itu. Sementara yang diledek hanya mendengus.


Mereka kemudian mengobrol banyak hal, terutama tentang pendidikan masing- masing. Fifi yang masuk kuliah satu tahun setelah lulus, baru akan KKN bulan depan. Fifi kuliah di universitas di Kabupaten yang sama dengan SMA mereka dulu. Mereka tidak sering bertemu, namun momen saat Irene pulang kampung adalah hal yang paling ditunggu Fifi, Apalagi saat mendengar Irene akan wisuda. Fifi benar- benar bahagia.


Setelah satu jam berbicara tak tentu arah, akhirnya sambungan telpon terputus karena baterai hape Irene habis.


"Ishhhh lagi asyik ghibah juga, malah modar !!!". Irene mendengus kesal, dia segera saja mengecas hapenya ke kabel yang sudah terhubung ke listrik. Dia kembali rebahan di kasur, Menatap langit kamar.


Dia merasa ada yang kurang dengan kebahagiaannya kali ini. Yaa.. Momen wisuda adalah hal yang paling dia tunggu selama ini. Dia menunggu seseorang memenuhi janjinya. Janji yang memotivasi dirinya untuk menyelesaikan kuliah dengan baik dan cepat.


'Aku selalu menunggu saat- saat itu Kak.. Apa kamu mengingat kata- katamu sendiri?'


Irene bertanya pada sosok tak tampak yang berada jauh di sana.


Tetapi mengingat kejadian selama ini, Dia tidak yakin apakah orang itu mengingat kalimatnya sendiri. Apalagi dulu Dia dulu pergi dengan perasaan kecewa dan sakit hati. Ya, Irene mengakui dia dulu sangat kecewa dan sakit hati.


'Ku kira dia cinta, ternyata hanya berempati'. Namun dengan bodohnya, Irene masih percaya kalimat terakhir Pria itu, saat mereka di taman dulu.


"Selesaikan pendidikanmu di sana dengan baik, Saya akan menjadi orang pertama yang datang di saat kelulusanmu"


Kalimat singkat itu masih Irene ingat dengan jelas.


"Aku sudah selesai, Kak.. penuhilah janjimu..". Irene menyeka sudut matanya. Dia selalu merasa mellow jika sedang memikirkan orang itu.


"Jika tidak bisa lagi datang sebagai Pria jantan, maka datanglah sebagai.. Kakak". Irene menutup wajahnya dengan bantal. Dadanya berdenyut nyeri begitu mengingat bahwa sosok itu hanya boleh dia miliki sebagai Kakak. Selama ini dia berusaha menyangkal bahwa perlakuan Lelaki itu padanya hanya sebagai Kakak, namun sekeras apapun usaha Irene, Kalimat Ibu menghentikan sangkalan itu.


"Ibu yang meminta dia menjaga dan menyenangkanmu, Nak.. Ibu sangat menyayangi kamu..".


Ucapan Itu dia dapat empat tahun yang lalu, sehari sebelum dia meninggalkan tempat kelahirannya.


***


Tok tok tok


Irene membuka matanya begitu mendengar suara ketukan di pintu kamar kosnya. Dia mengucek matanya yang terasa berat. Dia membuka pintu.


"Aku dari tadi ketok pintu loh.. tidur?". Jojo nyelonong masuk ke kamar Irene dan duduk di kasur temannya.


"Masih masalah yang sama?". Jojo bertanya,


"Bener nggak habis nangis, Aku tidur tadi, ya wajar kayak gini Joo". Irene mengelak. Dia memperlihatkan senyumannya pada temannya itu.


"Sudah saatnya move on, Beb.. Kakak senior yang waktu itu masih hubungin kamu?".


"Hehe.. masih..". Irene meringis lebar. Jojo menjentikkan jarinya,


"Kamu bisa mulai dengan dia, Ren.. Aku saksinya, Dia itu serius sama kamu...". Jojo mulai mengompori.


Irene ingat, beberapa kali dia jalan bareng Kakak seniornya, bukan berdua, karena dia selalu memaksa Jojo menemaninya. Irene merasa tidak enak jika harus jalan berdua.


"Dia ganteng, keren, tajir, dan yang utama, dia serius sama kamu, beb..". Jojo kembali mengompori Irene. Sementara teman yang dia kompori hanya tersenyum.


Memang Kak Taqy, Kakak senior mereka, orang yang sesempurna itu. Irene sendiri kadang merasa heran, bagaimana bisa lelaki sempurna seperti itu bisa menyukainya yang biasa saja ini.


"Oh iya tadi ketuk pintu mau ngomong apa an?. Irene menepuk lengan Jojo. Jojo meringis dan mengelus lengannya.


"Aku mau bilang, lusa nggak bisa pulang..".


"Yahh gimana siii..". Irene tampak kecewa.


"Lha gimana lagi Ren.. Dosbing (dosen pembimbing skripsi) bilang lusa bimbingan, soalnya seminggu dia mau pergi gitu...". Jojo menghembuskan nafas kesal. Ya dia kesal gagal pulang kampung, namun skripsi segala galanya buat dia.


"Ya udah nggak papa, lusa Aku bisa balik sendiri.. Kamu semangat yaa beb". Irene memeluk Jojo dengan erat, menyalurkan energi positif pada temannya.


"Siapa bilang pulang sendiri?". Jojo tersenyum misterius, itu membuat Irene penasaran.


"Ya kan nggak jadi sama kamu, ya sendiri kan?".


"Aku udah minta tolong ke Kak Taqy untuk anter kamu pulang... hehe".


"Ya ampun Jojoooooo....". Irene mendelik kesal. Dia memukuli Jojo menggunakan guling. Jojo dengan gesit menangkis setiap pukulan Irene. Dia masih tertawa lebar.


"Jadi dosbing cuman alasan kamu aja? hiss nyebelin banget kamu.. dah keluar lah.. Aku nggak jadi pulang aja kalo gitu !!". Irene merengut kesal, dia melempar guling sembarangan.


"Aku nggak bohong, Ren.. emang bener, Aku takut aja kamu pulang sendiri, makannya Aku minta tolong ke Kak Taqy...". Jojo menjelaskan.


"Ya tapi nggak ke dia juga kali, Jooo.. Nanti Aku bilang ke dia kalo Aku nggak jadi pulang lah". Irene meraih hape yang masih di cas.


"Aku cuman pengin kamu move on, Ren..". Jojo berkata dengan nada sedih. Irene tidak jadi menyalakan Hape. Dia menoleh ke arah Jojo. Temannya itu memperlihatkan raut sedih. Irene jadi merasa tidak enak. Jojo begitu memikirkan perasaannya, namun dia sendiri tidak peduli dengan perasaannya sendiri. Dia masih berkutat dengan rasa sakit hati dan pengharapan tanpa ujung.


"Baiklah, Aku pulang bareng Kak Taqy". Irene memutuskan dengan ragu. Sebuah senyuman muncul di bibir imut Jojo. Dia kemudian merangkul Irene dengan erat.


***


"Irene tunggu ya Kak.."


Irene mematikan sambungan telepon. Kak Taqy menghubunginya, menanyakan apakah dia sudah bersiap. Jujur Irene merasa deg- deg an, ini pertama kalinya dia membawa laki- laki ke rumah kakeknya.


"Eh kan bukan pertama kali, Ren.. Jadi nggak usah deg- deg an.. Lagi pula Kak Taqy cuman nganter kan..". Irene berkata pada dirinya sendiri. Sejak beberapa menit yang lalu, Dia merasa cemas, entah karena apa...


.


.


'Semoga perjalanan ini baik- baik saja, selamat sampai tujuan'. Doa Irene dalam hati.


.


.


Bersambung😘