
Terimakasih untuk dukungan pembaca sekalian pada karyaku ini. this novel is nothing without readers🥲
.
Lanjut yaa💋
.
Pintu ruang perawatan terbuka. Aku melihat suamiku berdiri di ambang pintu dengan wajah yang berbinar. Tetapi Aku melihat dia berbeda, lebih kunyel barangkali? walaupun masih terlihat gagah dengan seragam kerjanya. Aku menarik sudut bibirku.
Dia memelukku dengan erat, setelah dia mendekat. Aku menghirup aroma tubuh suamiku, tidak ada yang berubah, hanya tidak begitu menyengat, mungkin dia mengurangi jumlah parfum?.
"Terimakasih sudah bangun sayaang...". Aku mendengar suamiku berbisik lirih. Aku tersenyum, dan mengangguk pelan.
Selama hampir dua minggu ini, Aku mengalami banyak hal. Aku bertemu kedua orangtuaku, dan Kakek nenekku. Rupanya rasa rinduku yang begitu besar pada meraka yang membuatku bertahan sangat lama dalam ketidaksadaran. Hingga akhirnya Aku terlempar ke peristiwa dimana Aku mengalami kecelakaan. Yang mengherankan adalah, Aku melihat suamiku yang terkapar di aspal, bukan Aku.
Aku pernah mengalami ini, menyaksikan dia hampir meregang nyawa di hadapanku. Aku takut. Aku tidak mau kehilangan dia. Tidak mau!!
Hingga tiba saat cahaya terang menghampiriku. Membuat mataku mengerjap karena silau. Dan... Aku tersadar dari mimpi panjang selama dua minggu.
***
Aku sangat bersyukur, begitu mengetahui bahwa bayi yang ada di rahimku selamat. Karena saat kecelakaan itu terjadi, Aku tidak ingat persis, yang Aku rasakan hanya tubuhku yang sangat ringan, menyusul perih di sekujur tubuh.
"Sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk Bapak dan Ibu.. Bayinya sehat, dan aktif bergerak..".
Dokter berbicara penuh kagum, sambil tangannya masih menggerakkan alat di atas perut buncitku. Aku pun melihat Mas Rama berbinar melihat layar monitor yang memperlihatkan bayi kami. Ibu yang turut mendampingi pun sama bahagianya.
Setelah kondisi ku membaik, walaupun rasa sakit masih kurasaakan, Mas Rama dan Ibu memintaku untuk USG, memastikan bahwa calon jagoan kami benar baik adanya. Dan aku menurut saja, Karena Aku sendiri pun ingin mengetahui keadaan anak kami.
"Saya sudah meresepkan vitamin ya Bu. silahkan diminum dengan rutin, bulan depan usahakan untuk kontrol lagi yaa..". Dokter memberi nasehat,
"Baik Dok..". Suamiku yang menjawab.
Kami bertiga keluar dari ruangan pemeriksaan milik dokter kandungan.
Di luar sudah ada Bibi dan Pamanku, serta Ayah mertua yang memang sejak awal sudah menunggu di depan ruangan.
Aku tersenyum pada Bibi dan Paman. Jika saja Aku tidak egois merasa sangat kehilangan orang- orang yang menjaga dan merawatku, mungkin Aku akan tersadar lebih cepat. Tidak membuat mereka khawatir selama dua minggu ini.
Benar kata Mba Tata waktu itu, bahwa saat kita kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengikhlaskan. Satu kata kerja yang sangat mudah diucapkan, namun dalam mengerjakannya membutuhkan usaha ekstra.
"Gimana calon cucu bibi, Nak?". Bibi mendekatiku, dan mengelus perut buncitku.
"Alhamdulillah Bi.. Sehat, dan aktif..".
Semua orang mengucapkan syukur.
Dari sini, Aku merasakan bahwa masih banyak orang yang peduli dan menyayangiku, dan Aku tidak boleh berkutat dengan kesedihanku karena kehilangan pengganti Ayah Ibu. Kini, Aku sudah mendapatkan suami. Dia adalah rumah yang nyaman, dan tempat bersandar yang kokoh.
***
"Mas... Terimakasih yaa..". Aku melingkarkan tanganku di lengan Mas Rama. Kemudian menyandarkan kepalaku di lengan atas.
Kami dalam perjalanan pulang menuju rumah Mertua. Ibu bilang nanti malam ada acara syukuran karena Aku sudah tersadar, dan syukuran atas selamatnya Aku dan calon cucu mereka.
"Mas yang harus nya bilang seperti itu..". Suamiku mengelus dan membenarkan posisi rambutku yang tergerai, menutup wajah.
Perban yang kemarin sempat menutup kepalaku, sudah dilepaskan, diganti dengan perban kecil.
"Terimakasih kalian sudah kembali, Mas tidak akan sanggup kehilangan kalian..". Suamiku berucap dengan nada sedih. Aku merasakan puncak kepalaku di kecup.
***
Beberapa waktu berlalu, Kami akhirnya sampai di rumah Ayah Ibu. Sudah ramai orang, sepertinya semua iparku sedang berkumpul. Aku tersenyum begitu melihat ponakan mas Rama yang sedang bermain di teras, dan beberapa anak tetangga yang ikut bermain.
Mas Rama mendorong kursi rodaku, menuju teras. Anak- anak kecil segera menyingkir, dan mengikuti kami masuk ke ruang tamu.
Mba Tata dan Mba Hana menghampiriku kemudian memelukku secara bergantian. Senyum menghiasi wajah mereka.
"Mba senang kamu kembali, Ren.. Sehat terus ya, dan cepat pulih..".
"Terimakasih mbaa". Aku mengulas senyum.
Beberapa Ibu tetangga yang sepertinya sedang membantu Ibu memasak juga menghampiriku, mendoakan kesembuhanku dan kesehatanku serta jabang bayiku.
"Rama, Isterimu suruh istirahat dulu, masuklah ke kamar."
Ibu mendekat, dan memelukku.
"Iya Bu.. Rama dan Irene ke kamar dulu..". Ibu mengangguk.
Aku dan Mas Rama beranjak menuju kamar.
***
Ah sudah satu tahun kami melewatinya, Mas Rama mengingat hari anniversary kami kah?
Aku bertanya- tanya.
Saat Aku masih belum siuman, harusnya hari itu kami merayakan anniversary kami. Namun takdir berkata lain.
"Kenapa dilihatin gitu? Lihat yang asli lebih ganteng kan???".
Aku menoleh, mendapati suamiku sudah berdiri di tepi ranjang. Suaranya membuka pintu tidak terdengar sama sekali, atau jangan- jangan tingkat pendengaranku berkurang? Ohh tidaakkkk🥴
"Hiss sejak kapan Mas di situ? Kaget tauu...". Aku memanyunkan bibir.
"Sejak kamu senyum- senyum lihatin gambar Mas.. Hehee..."
Suamiku duduk di tepi ranjang, dan merangkulku.
"Coba lihat Mas.. Lebih ganteng aslinya..".
Aku memutar bola mataku.
"hmmm...".
"Mau ikut keluar nggak? Sudah mau mulai acaranya. Kalo nggak, biar mas yang di luar..".
"Ikut Mas.. Tapi ambilin Aku jilbab ya di lemari..".
Mas Rama mengangguk, dan segera bangkit menuju lemari, mengambil jilbab berwarna coklat muda, warna senada dengan baju yang tengah ku pakai.
"Makasih Mas...".
Suamiku selesai membantuku mengenakan Jilbab. Diapun membimbingku untuk berdiri.
"Aku nggak mau pake kursi roda Mas.. Aku bisa jalan, walaupun pelan kok.." Ucapku, begitu melihat suamiku mau beralih mengambil kursi roda yang bedada di pojok ruangan.
"Bener?". Aku mengangguk mantap.
Akhirnya kami keluar dari kamar, menuju ruang tamu yang saat ini sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Sofa di ruang tamu sudah dialihkan, ruang tamu terasa longgar, dan mampu memuat lebih banyak orang.
Aku duduk bersender di tembok, bersama Ibu dan Iparku. Bibi- bibiku pun duduk tak jauh dari Aku.
Acara syukuran kemudian berlangsung dengan khidmat. Aku menitikkan air mataku, merasakan kasih sayang orang- orang disekelilingku yang ternyata begitu besar. Aku beruntung dibesarkan di lingkungan keluarga yang saling menyayangi, walaupun Aku tidak penuh merasakan kasih sayang Ayah Ibu karena mereka harus menghadap sang Pemilik.
Aku melirik suamiku yang tengah khusyuk membaca ayat al-Qur'an bersama orang- orang.
"Terimakasih sudah menjadi rumahku, dan menjadi sandaran yang kuat untukku, Mas.." Ucapku dalam hati.
***
Layaknya sudut 360 derajat yang kemudian kembali ke sudut 0 derajat, Begitulah hidup. Setiap kita, pasti akan kembali menjadi 0, entah dengan perpisahan, atau yang lebih menyakitkan adalah kehilangan.
Seperti 360 hari pernikahan kami kemarin, Saat Aku berada di antara pilihan untuk ikut bersama mereka yang sudah tiada, atau kembali ke orang yang saat itu sedang menungguku, Aku merasa berada di titik nol. Untuk memulai atau menyudahi.
Rupanya Tuhan masih memberikan Aku kesempatan untuk memulai kembali. Iam back from zero, after 360 DAYS... (Aku kembali lagi dari nol, setelah 360 hari...)
.
.
Tamaattt💋
Alhamdulillah, Akhirnya aku bisa menyelesaikan karyaku 360 DAYS ini dengan lancar. Walaupun harus merubah sedikit alur di bagian endingnya. Yang penting pembacaku senang, karena tujuanku menulis, selain menyalurkan hobi dan imajinasi, juga untuk menyenangkan pembaca sekalian.
Terimakaih untuk like, komen dan saran- saran untuk ku. Jujur Aku semakin semangat melihat komentar kalian, karena Aku merasa karyaku dihargai🤧🤧🤧
.
.
Sampai jumpa di lain novel yaahh..
Jangan lupa baca novelku yang genre horor hehe.. Nggak horor- horor amat, karena othornya juga penakut🤣🤣🤣😭😭
.
.
FLYING LECTURER.
Diambil dari kisah nyata, selama author menjalani masa pendidikan di bangku perkuliahan..💋