360 DAYS

360 DAYS
meminta bantuan



Terimakasih yang sudah membaca dan memberi dukungan ke karya ini🥰🙏


.


.


Lanjut yaa..😘


.


.


Ujian Nasional untuk kelas 12 dan Ulangan Kenaikan Kelas untuk kelas 10 dan 11 sudah usai dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Apakah semua sudah selesai? Belum. Tugasku masih banyak. Mengoreksi jawaban ulangan, memberi nilai, menulis raport, membagikannya. Yaa kesibukanku masih banyak.


'Semangatt semangattttt'. Aku menyemangati diriku sendiri.


"Pak, ini yang salah hanya jawabannya saja.. nilainya berapa ya?". Irene bertanya padaku. Aku melirik kertas yang ada di hadapannya.


" kasih 4". Irene mengangguk dan memberi nilai 4 pada nomor yang sedang dia koreksi.


Irene, anak itu membantuku mengoreksi berlembar- lembar kertas lembar jawaban ulangan milik teman se angkatannya, sejak hari pertama selesainya ulangan kenaikan kelas. Aku yang memintanya membantuku, dan dia tidak menolak.


Dia memang tidak pernah menolak setiap ajakanku, entahlah Aku tidak begitu mengerti, Apakah begitu besar perasaan dia untuk Gurunya ini?. Dan Aku?? Akupun selalu mengizinkan dia untuk mendekat.


Kejadian di pesta pernikahan Raisa saat Aku membawa Irene dan bertemu rekan guru, tidak pernah dibincangkan di kantor. Memang selepas mengantar Irene ke rumah waktu itu, Pak Hendri mengirimiku pesan, Dia meledekku. Aku tidak begitu melayani candaannya. Aku meminta satu hal saja, Aku meminta tolong padanya untuk tidak menceritakan apapun saat di kantor. Dan dia mengabulkan permintaanku. Akan panjang jika sampai dibahas di kantor. hhh, Aku tidak bisa membayangkan.


"Kak. melamun saja.. Saya sudah selesai 2 lembar ini". Irene mengetuk kertas yang sedang ku koreksi. Aku mendongak.


"Bagus. baguusss". Aku memberi jempol 2 padanya. Anak itu tersenyum lebar. Dia kembali melanjutkan mengoreksi.


"Lembar jawabanmu biar Saya yang mengoreksi !". Aku mengetuk keningnya menggunakan pulpen, begitu melihat dia memegang lembar jawab milik sendiri.


"Ehh?.. hehe iya iya Pak". Aku mengambil lembar jawab miliknya. Dan segera ku koreksi.


"Ini kamu ngasal menjawab nomor 5 yaa..". Aku melirik ke arahnya.


"Hehe, waktunya tinggal semenit Pak.. Jadi ngasal.. yang lainnya nggak kok Pak". Anak itu nyengir lebar. Aku hanya menggelengkan kepala. Benar- benar, waktu satu jam setengah harusnya cukup untuk mengerjakan semua soal.


Tiga hari berlalu dan Aku sudah menyelesaikan mengoreksi berlembar- lembar kertas jawaban muridku. Selama itu pula Aku dibantu oleh Irene. Pernah Aku meminta dia untuk istirahat saja jika dia capek, dia bisa menikmati berlibur, sebelum pembagian raport. Apalagi sedang ada acara perlombaan antar kelas. Anak itu menolak dan tetap kekeh membantuku.


"Biar Irene bantu sampai selesai, Pak". Begitulah katanya.


Hari ini dia sudah berada di rumahku pada jam 9. Dia selama ini menginap di tempat bibinya yang dekat dengan tempatku ini. Ibu yang sudah selesai melakukan semua aktifitasnya menyambut anak itu dengan sumringah, mengajaknya mengobrol, sebelum Aku menyela, karena Irene harus membantuku menulis daftar nilai matematika, agar Aku bisa segera memberikannya ke walikelas masing- masing kelas.


"Setelah ini tinggal dimasukkan ke raport kan pak?". Irene bertanya disela- sela membantuku menulis nilai.


"Iyaa.. untuk kelasmu, nunggu Bapak dapat daftar nilai dari guru yang lain, baru nanti ditulis di raport". Jawabku.


"Masih mau bantu?". Aku bertanya.


"Tentu saja". Jawabnya cepat. Aku tertawa dalam hati, sudah kuduga. Padahal bagian tercapek adalah menulis di raport hhh..


"Semester kemarin Bapak ngoreksi dan nulis sendiri?". Dia bertanya lagi. Aku mendongak, dan melihatnya yang sedang menatapku.


"Iyaa, betull..". Anak itu hanya mengangguk, dan melanjutkan lagi menulis.


***


Seperti semester kemarin, Aku mengumumkan terlebih dahulu siswa yang meraih peringkat 1, 2, dan 3.


"Irene.. selamat yaa". Aku menyebut peringkat pertama kelas.


Anak itu maju sambil tersenyum lebar. Dia sejak tadi sudah menantikan namanya dipanggil. Selepas membantuku menulis raport, dia bertanya padaku apa dia meraih peringkat pertama lagi, Aku tidak menjawab dan mengatakan tunggu saja. Anak itu merengut dan Aku hanya tertawa. Lucu dia. Eh?


"Belajar yang rajin, dan tingkatkan prestasi yaaa.."


"Siap, Pak". Dia mengedipkan sebelah matanya. Aku hanya geleng- geleng kepala. Dia semakin berani.


Aku membagikan raport semua murid, dan mengumumkan jadwal liburan yang lebih panjang dari semester 1. Murid- muridku bersorak senang, seperti yang sudah kuduga.


***


Liburan setelah ulangan kenaikan kelas hanya berlaku untuk murid, bagi guru, masih harus bertugas, yaitu menerima pendaftaran siswa siswi baru, atau PPDB. Aku mendapat jadwal menjaga stand PPDB di hari senin dan selasa, bersama beberapa guru. Kami berjaga secara bergilir. Tentu saja agar Kami menikmati liburan juga di selain hari tugas jaga.


Drrttt.. drttt.. Hape yang kuletakkan di saku baju bergetar, menunjukkan ada pesan yang masuk.


Irene:


Kak?


Anak itu sedang iseng sepertinya. Bukankah dia seharusnya menikmati liburannya?


Aku:


nikmati sj hari liburnya


beberapa detik kemudian dia membalas.


Irene:


🙃


hhh hanya emot. Aku memasukkan kembali hapeku ke dalam saku.


.


.


.


apa perlu aku mengajak dia jalan- jalan ya?


.


.


BERSAMBUNG😘


Maaf yah jika ceritanya membosankan😬🙏