360 DAYS

360 DAYS
Tidak menghubungi



Terimakasih untuk pembaca yang sudah memberikan dukungan untuk karya ini yaaa🥰


.


.


Lanjut😘


.


.


POV Rama:


Selesai mengajar di jam pertama, Aku disibukkan dengan rencana lomba mata pelajaran yang akan berlangsung di sekolah tempatku bekerja. Undangan lomba sudah dikirimkan ke berbagai sekolah dua hari yang lalu. Sebagai seseorang yang diberi amanat oleh Kepala Sekolah untuk menjadi Ketua Panitia perlombaam, Aku harus melaksanakan kewajibanku dengan baik.


"Sekolah yang kemarin kita undang sudah ada yang merespon Pak.. Mereka sudah mengkonfirmasi akan mengikutkan siswa nya mengikuti lomba". Bu Suci sedang memberikan informasi. Aku mendengarkan dengan seksama.


Rapat panitia perlombaan sudah selesai dilakukan, Aku melirik jam tanganku. Sudah jam waktu pulang sekolah. Namun sepertinya Aku belum bisa pulang.


Aku mengambil hape di saku kemeja putih yang sedang Aku kenakan. Tidak ada pesan masuk. Hmmm.. Irene masih merajuk.


Apa Aku keterlaluan karena tidak memberikan izin? Batinku. Ahh Aku jadi menyesal..


"Permisi Pak...". Suara seorang murid membuyarkan lamunanku.


"Iya ada apa, Van?". Ivan murid kelas 3 jurusan IPA, berdiri di hadapanku.


"Ruangan sudah siap Pak.. Sudah bisa digunakan..". Aku mengangguk menerima laporan dari muridku itu.


"Baik, terimakasih.. Kalian bisa masuk ke ruangan dulu, dan persiapkan diri untuk tambahan materi nanti".


"Siap pak". Dia segera berlalu dari hadapanku. Dan Aku kembali menatap hapeku yang sunyi.


***


Sembari menunggu murid- muridku menyelesaikan latihan soal yang ku berikan, Aku keluar ruangan dan memandang lingkungan sekitar sekolah yang sudah mulai sepi. Gelisah karena memikirkan kondisi Irene di rumah, Aku segera mengambil ponselku, dan menekan tombol memanggil pada kontak yang kuberi nama 'isteri'.


Di nada dering kedua, panggilanku diangkat.


"Assalamualaikum". Suara Irene di seberang membuatku lega. Aku mendengar suara- suara bising di seberang telpon.


Apa irene sedang pergi? Walaupun Aku tidak mengizinkan?


"Dimana?". Tanyaku, tanpa membalas salam Irene.


"Di rumah lah Mas.. Kenapa?". Tanya Irene, sepertinya dia heran dengan pertanyaanku. Aku mendengus.


"Mas pulang sore, karena ada tambahan pelajaran untuk kelas tiga". Aku menjelaskan. Walaupun kesal, tetap Aku harus mengabari isteriku itu. Sekesal- kesalnya Aku, mendengar suaranya terdengar baik- baik saja, membuatku bersyukur.


"Iya Mas.. Hati- hati di jalan nanti kalau pulang".


Aku mengakhiri panggilan begitu selesai mengobrol sebentar dengan Irene.


Aku masuk kembali ke ruangan, Aku melihat muridku sedang sibuk mengerjakan soal di hadapan mereka. Seperti biasa, Aku berkeliling dari meja ke meja untuk melihat Muridku mengerjakan.


"Cek lagi jawaban yang ini...". Aku menunjuk hasil pekerjaan salah satu muridku.


"Iya Pak..". Aku berlalu dan mengecek perkerjaan muridku yang lainnya.


Selama menjadi Guru dan mengajar banyak murid dengan banyak karakter, Aku bersyukur karena Mereka tidak pernah berada di bawah rata- rata. Matematika, mata pelajaran yang biasa menjadi momok menakutkan untuk siswa siswi, nyatanya tidak berlaku untuk murid- muridku.


"Kita bisa bahas sama- sama soal yang tadi.. Bapak minta 5 orang maju ke depan, dan mengerjakan soal masing- masing satu". Tanpa menunjuk siapa yang harus maju, Mereka dengan suka rela maju ke depan kelas, menuju papan tulis dan mulai menuliskan jawaban untuk soal yang tadi Aku berikan.


***


Aku memarkirkan motor di garasi, kemudian segera beranjak menuju rumah. Irene rupanya tidak menyambutku. Buktinya dia tidak berada di teras seperti sebelum- sebelumnya.


Aku tidak menuju kamar, karena rasa haus tiba- tiba menyerangku. Aku mengambil air di dalam kulkas, aku melirik segelas jus jeruk yang ada di meja dapur, yang tinggal separuh.


Suasana rumah sepi, seperti tidak ada orang, tapi kenapa pintu utama terbuka?


Aku bertanya- tanya.


Aku menuju kamar, dan hendak membuka pintu, namun ternyata pintu di kunci. Apa Irene tidak ada di rumah?


"Kamu?".


Dihadapanku berdiri Jojo, sahabat isteriku.


"Hehe Iyaa..". Gadis itu beringsut mundur, kemudian membangun kan Isteriku, yang tidur sambil tengkurap.


Aku menggelengkan kepalaku, rupanya mereka berdua sedang menonton drama alay yang berisi cowo gemulau itu. Ya ampuuuunnn...!


"Mas sudah pulang?" Suara lirih Irene mengalihkanku.


"Iya baru saja pulang..".


Jojo, kulihat sahabat isteriku itu segera membereskan laptop dan makanan ringan yang berada di ranjang, dan segera undur diri.


"Aku ke depan ya Ren.. Nunggu Raka bawain pesenan kita Heheh.. Permisi ya Pak". Aku mendengus mendengar Joji masih memanggilku dengan panggilan menyebalkan itu.


"Iya Jo.. Jangan dihabisin loh". Aku menggeleng mendengar jawaban isteriku. Bisa ku tebak, pasti dia memesan makanan.


"Mas ganti baju dulu, nanti Aku ambilin makan ya..". Tawar Irene.


"Tadi sudah makan di sekolah, Yang.. Pas rapat dapat nasi kotak". Jawabku sambil melepas kemeja.


"Oh iya udah.."


"Ayah sama Ibu nggak di rumah? sepi..".


" Iya Mas.. tadi pergi, ke rumah Mba Hana katanya" Jawabnya sembari menerima kemejaku. Dia meletakkan nya di keranjang baju kotor yang berada di pojok kamar.


"Aku ke depan ya Mas.. Kayaknya Raka udah pulang. Mas nanti ke depan yaa kita makan bareng- bareng..".


Aku mengangguk, Irene berlalu dari kamar.


Pikiran burukku yang tadi siang sempat terlintas, segera terhempas. Irene tidak pergi, dan dia mengerti Aku yang tidak mengizinkannya. Aku tersenyum menatap pantulan diriku di cermin. Sepertinya mulai sekarang, Aku tidak perlu khawatir berlebihan.


***


"Mas kamu ngasih raka PR apa nggak? Dari tadi anak ini santai banget".


"Ada tugas apa tidak, Ka?". Aku balik bertanya. Saking seringnya memberi tugas setiap kali selesai mata pelajaran, membuatku sedikit lupa.


"Kayaknya tidak, Pak.. Heheee". Muridku, sekaligus sepupu ipar, tertawa.


Sejak Aku menikahi adik sepupunya, Sikap Raka terhadapku sedikit berubah. Dia lebih santai. Mungkin karena merasa lebih tua dari segi keturunan kali ya?


"Kamu yang sopan ke guru kamu, bocah..". Jojo menoyor kepala Raka, membuat Irene tertawa, dan Akupun tidak tahan untuk tidak tertawa.


Raka mendelik pada jojo.


"Guru kan kalo di sekolah, kalo lagi kayak gini, ya adik sepupu, kayak Irene lah.. Ya nggak Pak?". Bocah itu mencari pembelaan. Aku mengangkat bahuku. Membuat Raka merengut.


***


Kunjungan sahabat Irene berlangsung hingga menjelang petang hari, Membuatku harus merelakan isteriku dikuasai oleh sahabatnya itu. Aku mengajak Raka bermain catur di teras rumah. Untuk mengusir rasa bosan, karena dicueki oleh Irene.


"Terimakasih ya Jo.. Hati- hati di jalan yaaa". Irene melambaikan tangannya pada sahabatnya yang sudah berada di atas motor.


"Mas kira tadi kamu pergi nggak bilang- bilang..". Begitu Jojo berlalu, Aku mulai berbicara.


"Nggak ngirim chat juga..". Ucapku lagi.


Irene nyengir,


"Tadi asyik ngobrol sama Jojo, Mas.. Sama nonton, jadi sampe lupa ke hape".


Aku menggelengkan kepalaku. Aku merangkulnya dan segera memasuki rumah.


.


.


Bersambung😘