360 DAYS

360 DAYS
ku harap hanya mimpi



Terimakasih selalu atas dukungan pembaca semuaa😘


.


.


Lanjut yaa💋


.


.


"Maass.. Mass...". Aku merasakan panggilan Irene, dan bahuku terguncang. Aku membuka mata, dan melihat Isteriku yang tengah menatapku dengan wajah kebingungan. Aku berusaha bangun. Irene bergeser, dan masih menatapku dengan bingung. Aku menarik nafas beberapa kali, sampai akhirnya Aku bisa menenangkan diri.


"Mas mimpi apa?". Irene bertanya padaku. Aku menggeleng, kemudian meraih pundak isteriku, mendekatkan ke pelukanku.


Aku mengucap syukur, Karena apa yang terjadi hanya mimpiku saja. Aku mengusap air mataku, mimpi itu terasa sangat nyata sekali.


Aku mengingat kembali wajah Irene di dalam mimpiku. Wajah sedih itu... Aku segera menepisnya.


"Mas??". Suara Irene menyadarkanku kembali. Aku melonggarkan pelukanku, kemudian meraup wajahnya. Aku memandanginya sampai puas.


"Mas sangat mencintai kamu, tunggu sampai Mas selesai diklat yaa.. Cuman sebentar..".


Irene mengangguk kemudian tersenyum.


"Iya Mass... Aku juga cinta sama Kamu Mas.. Sangaatttt". Irene mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup bibirku sedikit lama.


Aku melirik jam dinding, baru pukul 3 pagi.


"Kamu tidur saja lagi, Yang...".


"Mas juga..". Irene kembali berbaring di tempat tidur.


Akpun turut berbaring. Masih asa satu jam lagi, sebelum jadwal rutin bangun pagi.


Aku melirik Irene yang sudah memejamkan matanya, dan bernafas teratur. Menandakan bahwa Ibu hamil ini sudah masuk ke alam mimpi.


Aku mencoba memejamkan mata kembali, Namun bayangan saat sebuah mobil menabrak tubuh Irene mendadak muncul. Aku menggeleng, tidak bisa seperti ini.. Itu hanya mimpi...


Aku tidur menyamping, menghadap Irene. Meneliti setiap inci pahatan wajah Irene. Aku menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi Isteriku.


'Semoga Alloh mengizinkan kita selalu bersama..'. Doaku dalam hati.


***


POV Author:


Rama sedang menunggu kedatangan Ibu untuk menjemput Irene, serta menunggu Pak Ari yang akan berangkat bersama ke Semarang. Sebuah motor memasuki halaman rumah, Rama tahu betul siapa.


"Padahal janjian jam 9 loh Pak.. sudah datang saja..". Rama berkelakar, begitu rekannya, Pak Ari sudah turun dari motor, dan berjalan mendekat ke teras.


"Iya nih Pak.. Baru pertama ke sini kan, takutnya kesasar". Dua lelaki satu profesi itu kemudian bersalaman dengan akrab.


Rama mempersilahkan tamunya duduk, kemudian meminta Isterinya membuatkan minuman. Sembari menunggu kedatangan Ibu.


"Silahkan Pak diminum.." Rama mempersilahkan rekannya minum, Sementara Irene kembali masuk ke dalam rumah, begitu selesai menyerahkan satu nampan berisi dua gelas teh hangat, dan satu toples kue kering.


"Saya menunggu Ibu saya dulu ya Pak.. Mau jemput Isteri.. Sementara saya diklat, saya nitip isteri ke Ibu..". Rama menjelaskan, tanpa diminta. Takut rekannya itu bertanya- tanya, mengapa mereka tidak segera berangkat.


Pak Ari mengangguk mengerti. Dia melihat Isteri rekannya itu tengah mengadung, jadi pantas saja, sebagai suami siaga, harus tetap memikirkan penjagaan sang isteri.


"Iya Pak.. Memang isteri hamil itu harus selalu mendapat penjagaan..". Pak Ari, Guru muda itu memang belum menikah, namun menyaksikan saudara- saudaranya yang mengalami, tentu saja dia mempunyai sedikit pengetahuan.


Kedua lelaki itu mengobrol perihal diklat yang akan berlangsung, Pak Ari yang baru pertama kalinya mempunyai kesempatan mengikuti acara diklat, begitu antusias bertanya.


Sebuah mobil memasuki halaman rumah. Pak Ari berdiri hendak membenarkan posisi motornya.


"Tidak usah pak.. Muat buat masuk mobil, tenang saja.. Hehe".


Rama bangkit dan menyambut Ibunya. Ibunya mengangguk sekilas ke rekan kerja anaknya.


"Irene sudah siap?". Ibu bertanya,


"Sebentar Bu.. tadi sudah..".


Rama masuk ke dalam rumah, sementara Ibu tetap menunggu di teras, bersama Pak Ari.


Rama membuka pintu kamar, dan mendapati Isterinya yang tengah menghadap cermin lemari. Irene menoleh begitu tahu suaminya membuka pintu, kemudian tersenyum. Sementara itu Rama yang hendak masuk ke kamar, hanya bisa diam dengan pandangan lurus pada sang Isteri.


Gaun itu....?


"Mas???". Irene mendekati suaminya yang terlihat terkejut. Irene menyentuh lengan suaminya.


"Kenapa Mas???". Rama segera tersadar, dan menggeleng dengan kuat. Irene dibuat bingung dengan tingkah suaminya itu. Rama tersenyum kaku. Dia tidak bisa menepis bahwa Isterinya pagi ini terlihat bersinar dan sangat cantik. Namun disisi lain, Mimpi itu membuatnya bersedih.


"Ini gaun Nenek yang belikan Mas.. Cuman kedodoran, jadi nggak pernah ku pakai.. Hehee Bagus kan Mas???".


"Ibu sudah menunggu di depan, Ayo...".


Rama meraih jemari Isterinya, menuntun Isterinya keluar kamar, menuju teras dimana disana ada Ibu dan juga rekannya yang tengah menunggu.


Rama berjalan dan menggandeng dengan perasaan yang tidak menentu. Gaun Irene mengingatkan dia akan mimpi semalam. Rasa khawatir menyelimuti Rama.


Sesampainya di teras, Rama diam beberapa saat, mencoba menenangkan degupan jantungnya.


Dia menatap Isterinya yang juga sama sedang menatapnya.


"Hati- hati di jalan ya Mas.. Kabarin kalau Mas sedang istirahat atau sudah sampai". Irene berpesan pada suaminya.


"Baik- baik di rumah sama Ibu ya..". Irene mengangguk.


Setelah menyerahkan penjagaan Irene pada sang Ibu, dia membimbing Isterinya untuk memasuki mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi kakak sulungnya.


Dia menunggu Isterinya berangkat.


Irene membuka jendela mobil, kemudian melambai pada sang suami. Rama membalasnya, dan memberikan senyum penuh cinta pada sang Isteri.


Setelah mobil yang ditumpangi Irene keluar dari gerbang, dan menghilang dari pandangan, Rama menghembuskan nafas berat, seberat kekhawatirannya pagi ini.


"Mari Pak..".


Dengan berat hati, Akhirnya Rama berangkat ke Semarang.


'Ku harap itu hanya mimpi, karena Aku akan sangat merindukan dia kedepannya.. Lindungilah Isteri dan Anakku Ya Tuhaan'. Pinta Rama pada Tuhannya dengan permohonan yang sangat.


***


POV Rama:


Aku memegang hapeku, perjalanan sudah dua jam, dan Aku melakukan hal yang sama sejak tadi. Meneliti pesan masuk di aplikasi chat berwarna hijau.


"Pak.. Kita berhenti sebentar ya..".


Akhirnyaa Aku tidak sabar dengan ketidakpastian, meminta rekanku menghentikan motor.


"Iya Pak..".


Motor berhenti di rest area pom bensin. Aku segera turun dan melakukan panggilan Ke nomor isteriku, seperti keinginanku sejak tadi.


Tidak aktif.


Tidak habis akal, Aku menghubungi nomor Ibu. Dan ternyata nomor Ibupun sama, sedang tidak aktif. Aku mendesah frustasi. Bisa- bisanya dua nomor berbeda pemilik sama- sama tidak aktif.


Aku mencari kontak ayah di hapeku. Segera ku buat panggilan. Suara salam Ayah dari seberang membuat Aku sedikit lega, karena ada yang bisa kumintai keterangan.


"Waalaikumsalam Yah.. Irene sudah sampai rumah kan Yah?". Aku bertanya to the point.


"Ayah sedang tidak di rumah.. Tapi sepertinya belum, Ibumu belum kasih kabar ke Ayah.. Kenapa Nak?".


Aku menjauhkan hapeku dan mengumpat sangat pelan, agar ayah tidak mendengar.


Kekhawatiranku semakin mengumpul saja.


"Coba Ayah telpon dulu ke sopir Kakakmu..". Ayah sepertinya memahami kekhawatiranku.


"Biar Rama saja Yah.. Ini ada nomornya..".


Sambungan telpon segera ku akhiri. Dan Aku segera mendial nomor sopir kakak sulung.


"Dimana Pak?".


Aku belum menjawab salam dari sopir, ketidaksabaran dan kekhawatiran ku akui memang membutakan segalanya.


"Tadi mampir ke rumah Bibi Irene, Mas.. Sekarang sedang ke pasar ini.. Saya di mobil nunggu Ibu dan Mba Irene..".


Lega lah dadaku dari gumpalan kekhawatiran.


Isteriku baik- baik saja dan itu sangat melegakan.


.


.


Bersambung💋


.


.


Deg- degan banget Aku, takut Irene kenapa- kenapa..🤧🤧🤧