
Terimakasih yang sudah memberikan dukungan untuk karya ini.. salam sayang🥰🙏
.
.
Lanjut yaa😘
.
Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku, sudah hampir tiga jam Aku menunggu di Rumah Irene. Aku dan Kakek Irene sudah mengobrol banyak hal. Akhirnya Aku memutuskan pulang,
"Saya pamit dulu ya Kek.. mungkin Irene masih mampir ke rumah temannya". Aku berdiri dan bersalaman dengan Kakek.
"Iya Mas.. tidak apa kalau masih mau menunggu, malah saya senang ada teman mengobrol hehe". Kakek tertawa renyah. Aku turut tertawa. Panggilan ku pada Kakek Irene berubah, karena beliau yang memintanya.
Kakek mengantarkanku sampai ke depan pintu, Aku sedang memakai helmku, saat sebuah suara terdengar menyebut namaku.
"Kak Rama?"
Aku melepas helm yang baru setengah ku kenakan, dan langsung menengok ke sumber suara. Irene berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Kami terdiam untuk beberapa saat. Aku melihat matanya yang sembab, bisa ku tebak dia baru saja menangis.
"Kamu kemana saja?". Aku mendekati dia, tanpa ku duga, dia mundur.
"Saya dari rumah teman..". Anak itu menjawab, sambil melengos, menghindari tatapan mataku.
"Bapak bisa pulang sekarang..". Irene berlari masuk ke dalam Rumah tanpa menunggu Aku berkata sesuatu. Aku hanya bisa mematung di tempat. Akan seperti drama jika Aku mengejar dia, lagi pula di dalam rumah ada kakek dan nenek Irene.
Aku menghembuskan nafas berat, baiklah besok Aku akan berbicara lagi dengan dia. Aku mendekati motorku, memakai helm, dan segera melajukan kendaraan meninggalkan Rumah Irene.
***
"Laila sudah menunggumu di luar, bersiaplah cepat.."
Ibu berkata padaku saat melihatku masih mematung di depan cermin lemari, memandangi sosokku sendiri.
"Iya Bu..". Aku menjawab tanpa menatap Ibu. Aku sudah mantap dengan apa yang akan ku katakan pada Laila nanti. Aku sudah menahannya selama ini, semua demi Ibu.
Aku menuju ke teras, dimana sudah ada Laila di depan bersama Ibu. Aku melirik sekilas Laila, dan tersenyum kecil. Gadis itu membalas senyumanku.
Aku dan Laila segera pamit pada ibu. Yaa.. hari ini Aku diminta mewakili Ibu menghadiri kondangan temannya. Ibu bilang hari ini dia sedang kurang enak badan, namun ku rasa itu hanya alasan Ibu saja, agar Aku bisa pergi bersama Laila. Laila hanya diam di jok belakang.
"Nanti sepulang kondangan mampir ke saung kedungjati ya..". Aku berkata setelah kami sampai di tempat acara. Laila mengangguk.
"Iya Mas..". Kami berjalan menuju tempat acara yang terlihat Ramai. Aku jadi ingat saat dulu mendatangi pernikahan Raisa bersama Irene. hmm..
Lima belas menit kemudian, Aku sudah keluar dari tempat acara, Aku tadi sudah berbincang dengan Bu Ratna, teman Ibu, yang punya hajat.
Aku menuju parkiran motor, dan Laila mengikuti ku di belakang. Sejak tadi dia hanya diam, dan saat di dalam tadi Bu Ratna meledek bahwa kami pasangan yang serasi, Gadis itu hanya merespon tersenyum malu- malu. Aku melajukan motorku, setelah Laila naik ke jok belakang. Seperti yang sudah ku katakan tadi, Aku menuju saung kedungjati. Tempat makan lesehan yang sudah lama sekali dibangun, tempat itu begitu asri dan nyaman untuk tempat mengobrol. Aku sudah pernah ke tempat ini bersama Irene waktu itu, hadiah dariku karena dia mendapat peringkat pertama berturut- turut di dua semester, saat kelas 11.
Aku segera memesan 2 paket nasi ayam bakar begitu sampai di saung. Aku memilih tempat duduk yang waktu itu pernah Aku tempati. Laila turut duduk di tempat yang ku pilih.
Aku menatap pemandangan di belakangku. Hamparan padi luas, yang masih berwarna hijau.
"Sudah pernah ke sini, Mas?". Suara Laila.
"Iyaa sudah pernah, Kamu sendiri?". Aku menatap gadis di depanku. Kami duduk terpisah meja.
Makanan sudah disajikan di atas meja. Aku segera memakannya setelah berdoa terlebih dahulu. Kami makan dalam diam. Aku menyelesaikan makanku terlebih dahulu. Sambil menunggu Laila menyelesaikan makanannya, Aku mengambil ponsel di saku celanaku.
Ah iyaa.. Aku sudah mengganti Hapeku dengan android, hape noki@ jadul yang waktu itu, sudah pensiun, dan tidur dengan nyenyak di laci meja kamar. Waktu berjalan cepat merubah segalanya, bahkan hal sepele seperti ponselku ini.
Aku melihat sosial media inst@gram. Aku sebenarnya bukan tipikal yang menyukai hal seperti ini, menghabiskan waktu hanya menscroll beranda medsos, dan meng-kepo-in medsos orang lain. Yaa, karena suatu hal, Aku akhirnya menginstall aplikasi itu di ponselku, dan bahkan membuat akun dengan inisial bukan namaku. hahaha lucunya Aku ini🙃.
"Mas bisa mengatakan sekarang apa yang ingin disampaikan.. Aku sudah selesai makan..".
Laila mengagetkanku dengan suaranya. Aku yang sedang asyik memandangi sebuah foto, langsung meng-close ponsel. Aku duduk dengan tegap, Kali ini Aku harus tegas pada diriku sendiri. Sudah cukup waktu yang ku habiskan selama ini.
"Biarkan semua cukup sampai disini ya, La..". Aku mengakhiri kalimatku. Ku lihat gadis itu sudah menyeka air mata yang hendak jatuh. Aku merasa kasihan, namun Aku tidak bisa berbuat apa- apa.
"Maafkan Laila ya Mas.. Rupanya Laila tidak pernah bisa menggantikan Dia...". Gadis itu menatapku, dalam.
"Tidak ada yang perlu dimintakan maaf, La..". Aku berkata, sambil mengambilkan tisu untuk dia menghapus air matanya. Aku diam, begitupula dengan Laila.
Setelah suasana hati lebih kondusif, Aku mengajak Laila untuk pulang. Aku mengantarnya sampai depan Rumah. Tadi pagi dia datang ke rumahku entah diantar siapa, Aku tidak menanyakannya. Yang jelas tugasku adalah mengantarkan dia pulang.
Aku kembali ke rumahku. Begitu sampai di Rumah, Ibu sudah menyambutku di teras. Aku menarik nafasku, dan menghembuskannya perlahan. Aku harus mengatakan pada Ibu perihal yang tadi ku katakan pada Laila.
Aku mengajak Ibu ke Ruang tengah. Ternyata di Ruang tengah, ada Ayah dan kakak pertamaku. Baiklah, Aku akan mengatakannya di hadapan mereka semua.
Aku sudah duduk di sofa, di sebelahku ada kakak, dan dihadapanku ada ayah dan Ibu.
"Rama ingin mengatakan sesuatu kepada Ayah dan Ibu.. ah kebetulan ada Kakak, biar kakak menjadi saksi...". Mereka semua terlihat penasaran.
"..emm.. ini tentang Laila...". Aku menjeda ucapanku. Aku melihat Ibu, dalam sekejap Aku melihat mata Ibu telah berbinar. Seperti akan mendapat kabar bahagia. Aku tahu dengan pasti, Apa yang Aku katakan ini bukan sesuatu yang membahagiakan Ibu.
"Rama sudah mengatakan pada Laila untuk tidak melanjutkan..". Aku melihat raut terkejut Ibu, sekaligus kecewa.
"Rama tidak bisa berbohong dan menjalani dengan terpaksa hubungan ini, Bu.. Cukup 3 tahun sudah Rama jalani dengan sia- sia.. dan Aku tidak mau melanjutkannya..". Aku menatap Ibu dengan memelas. Aku berharap Ibu mengerti. Ya semua ku lakukan karena Ibu, dan tentu saja Aku harus meminta pengertian dan belas kasih Ibu. Ibu diam, tidak mengatakan apapun. Sesaat kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. Dia sangat kecewa, dan itu terlihat jelas.
"Jika itu keputusanmu, Ayah tidak bisa melarangmu, Nak..". Ayah mewakili Ibu, namun itu bukan kata hati ibu.
"Apa yang menjadi sumber kebahagiaanmu, Kami orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik..". Imbuh Ayah. Aku tersenyum, terharu dengan kalimat Ayah. Ayah yang sangat mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya, walaupun Aku tidak pernah mengatakan apa- apa pada beliau.
Kakak sulungku menepuk bahuku, dia tersenyum dan memberikan semangat lewat tepukan itu.
"Apa kamu sudah bertemu dengan Irene?". Ayah bertanya. Aku menggeleng.
"Belum Yah...".
.
.
Bagaimana Aku bisa berani bertemu dengan dia setelah kesalahpahaman ini?😔
.
.
Bersambung😘