360 DAYS

360 DAYS
Mantan Calon



Terimakasih atas dukungannya untuk karya ini🥰


.


.


PoV Ibu:


Irene membawa motor dengan kecepatan sedang. Seperti perkataan tadi pagi, Aku mengajaknya untuk berbelanja di pasar. Pasar yang sama dengan saat pertama kali Aku melihat dia. Dia Anak perempuan yang baik dan manis, enak diajak mengobrol, itulah kesan pertamaku saat itu. Aku yang menginginkan kehadiran seorang anak perempuan, seketika jatuh hati melihat dia.


"Bu, Irene parkir dulu ya.. Ibu tunggu di sini dulu". Menantuku itu menuntun motor menuju ruang kosong di antara barisan motor pengunjung.


Selesainya memarkir, Dia menghampiriku.


"Ayo Bu..". Irene menggandeng tanganku. Menantuku ini sangat antusias memilih bahan untuk memasak. Aku tersenyum senang. Selama ini, inilah yang Aku inginkan. Punya teman belanja. Hana dan Tata, menantuku dari anak sulung dan anak keduaku, pernah dua kali ku ajak berbelanja, Namun rasanya berbeda dari saat ini.


"Ibuu...". Tepukan di pundak dan suara panggilan menginterupsi acara belanjaku dan Irene. Aku menengok ke belakang. Ku lihat Laila berdiri di hadapanku sekarang. Aku sempat kaget, Namun Aku segera tersenyum. Bukan hal yang aneh jika Kami bertemu, karena sebelum ini, Kami memang sering bertemu saat di pasar.


"Belanja sendiri?". Aku bertanya pada Laila. Gadis yang pernah ku gadang- gadang akan menjadi menantuku itu menggeleng ringan,


"Laila menemani Mama belanja, Bu..". Aku mengangguk paham.


Laila melirik sampingku, Ah Aku melupakan Irene sejenak.


"Ibu belanja bersama Irene..". Aku menatap menantuku, Dia tersenyum pada Laila.


"Halo Mba..". Sapa Irene dengan kaku.


"Irene lanjut cari brokoli dulu ya Bu..". Menantuku itu segera berlalu.


Sepeninggal Irene, Mama nya Laila datang, Rupanya wanita seusiaku itu tengah mencari putrinya.


"Mama pikir kamu sudah ke parkiran, ternyata masih di sini..".


"Maaf Ma".


"Eh sampean, Bu.. Belanja sendiri aja nih, Mana menantunya yang baru..". Tanya Mama Laila. Dia bertanya pertanyaan biasa saja, yang umum ditanyakan, Namun mendengar nadanya, Aku menjadi tidak suka.


"Sedang mencari brokoli itu Bu.. Dia ingin masak sendiri untuk suaminya". Aku menjawab dengan Nada yang sama dengan Mama Laila. Ku lihat dia mencebik, kesal.


" Ya sudah Bu, Laila pamit dulu ya.. salam untuk Mas rama.. Ayo Ma..".


Laila menarik lengan Mamanya. Aku menggelengkan kepala. Aku sebenarnya tidak menyangka jika akhirnya hubungan baikku dengan Mama Laila akan menjadi seperti ini. Hanya karena Laila dan Rama anakku tidak jadi menikah. Aku mengakui, Aku yang salah, karena sudah memaksakan kehendaaku pada Rama saat itu.


"Brokolinya sudah dapat, Nak?".


"Eh Ibu.. iya sudah Bu..". Aku tersenyum, Anak itu gampang sekali terkaget. Irene tampak mencari- cari seseorang. Aku paham, mungkin dia mengira Laila masih berada di sini.


"Laila sudah pulang bersama Mama nya". Irene tersenyum canggung.


Hampir dua jam Aku dan Irene berada di pasar, selain berbelanja, Aku juga mengobrol dengan beberapa pedangan di pasar, yang memang Aku mengenalnya. Aku mengenalkan menantuku dengan bangga pada mereka. Waktu itu Aku sempat mengenalkan Laila sebagai calon menantuku.


"Selamat ya Bu.. Semoga segera dapat cucu berikutnya.. Hehee". Ucap temanku itu.


"Aamiiiin Bu.."


Selesai mengobrol, Aku mengajak Irene pulang.


***


POV Rama:


Aku melirik jam tanganku. Sudah saatnya istirahat. Aku segera mengakhiri kelas, setelah sebelumnya memberi tugas untuk dikerjakan di rumah.


Aku meletakkan buku bahan ajar di meja, kemudian duduk. Aku merogoh handphone di saku celana. Aku belum menerima satu pesanpun dari Isteriku. Terakhir dia pamit akan berangkat ke pasar.


Q: Yang, sudah di rumah?


Terikirim.


Beberapa menit kemudian, hapeku bergetar. Di layar terlihat balasan dari isteriku.


oh rupanya dia baru pulang.


Q: Syukurlah.. Istirahat saja yang.


Aku meletakkan hapeku di laci. Rasanya lelah sekali hari ini. Aku merenggangkan otot- ototku. Mungkin nanti Aku akan meminta Irene memijatku. Hehee..


.


.


Bersambung😘