
Terima kasih untuk pembaca setia karyaku yang masih bertahan di sini💋
.
Lanjut ya😘
.
.
Seperti kemauannya, sore ini Aku membawa Irene ke pasar sore alias pasar jajan. Tempat yang beberapa waktu lalu pernah kami kunjungi juga. Seperti anak ayam yang baru lepas dari kandang, Irene berjalan ke sana kemari, membeli setiap jajan yang dia inginkan.
"Sudaah?". Tanyaku, begitu dia sudah ada di hadapanku, membawa 2 plastik berisi penuh jajan, wajahnya terlihat kelelahan. Bagaimana tidak, dia berjalan dari ujung ke ujung hanya untuk melihat makanan yang disukainya.🤦♀️
"Hehe sudah Mas.. Ayok saat nya kita makan..". Ajaknya padaku. Aku mengikutinya, menuju sebuah bangku panjang di dekat pohon. Lampu mulai menyala, tanda petang menyapa. Beberapa pedagang sengaja memasang lampu kerlap kerlip di gerobag dagangannya.
"Habis ini mau kemana lagi?". Tanyaku, di sela makan.
"Pulang aja apa ya Mas?".
"Ya sudah.. Habiskan dulu makanannya, nanti kita pulang". Irene hanya mengangguk.
***
Seminggu sudah, Keluarga Irene juga sudah mengantarkan Aku dan Isteriku ke rumah keluargaku. Kemarin, sebelum penyerahan ke keluargaku, Aku sudah menanyakan kembali pada Irene tentang kesanggupannya tinggal di rumahku. Dia setuju untuk tinggal bersama keluargaku. Aku berharap itu benar kesanggupan dari hatinya.
"Kamu yang betah di sini ya, Nak? Ibu senang sekali, kamu mau tinggal di sini..". Ibu mengelus tangan Irene dengan sayang. Sementara itu, Irene hanya tersenyum merespon kalimat Ibu.
"Istirahatlah di kamar.. Ibu sudah merapihkan kamar kalian tadi pagi".
"Iya bu.. Ayo Sayang kita ke kamar..".
Ini kali pertama Irene memasuki kamarku. Tentu saja. Dia memang dulu berulang kali berkunjung, namun belum pernah sama sekali Dia mengintip kamar ini. Tapi ntah saat Aku tidak ada di rumah. Tetapi sejauh ini, Irene tidak pernah bercerita pernah mengintip kamarku.
Selepas merapihkan pakaiannya dan diletakkan di dalam lemari, bersama pakaianku, Irene mengajakku keluar dari kamar. Aku menurut saja, mungkin dia ingin mengobrol dengan Ibu.
"Suamimu itu suka makanan apapun, Nak.. Seperti yang dia katakan ke kamu.. Hehehe". Ibu melirik ke arahku, begitupun Irene. Rupanya 2 orang itu tadi berbisik membicarakanku. Hmmm...
"Syukurlah Bu.. Soalnya kemarin Irene tanya Mas Rama suka makan apa, dia bilang sembarang gitu.. Kirain bercanda..". Irene melirikku lagi sambil tersenyum simpul.
"Besok Kita belanja ke pasar ya Nak.. mm Akhirnya ada yang nemenin Ibu belanja juga.." Kata Ibu.
"Iya Bu, boleehh".
Dua orang yang sangat ku sayangi itu, terus melanjutkan obrolan hingga petang menjelang.
***
"Nanti bawa motornya tidak usah ngebut ya Yang..". Pesanku.
"Iya Mas..". Seperti kebiasaan, Irene mencium tanganku, dan Aku mengecup keningnya dengan sayang.
"Mas berangkat dulu ya..". Aku segera berlalu menuju motor kesayanganku, yang sebelumnya merupakan motor ayah, hehe.
Aku melirik ke spion motor, melihat Isteriku yang melambaikan tangan.
Hampir satu jam mengendarai motor, Aku tiba di tempat kerja. Aku menyapa beberapa rekan guru yang sampai bersamaan denganku.
"Setiap hari makin seger aja Pak Rama.. Hehe". Ucap seorang rekan, dia guru Geografi.
"Iya ini Pak.. Sudah ada yang mengurus sih Haha". Responku sambil tertawa.
Yaa Aku merasakan perbedaan pada diriku dari hari ke hari sejak Aku menikahi Irene. Aku merasa lebih bahagia, san bertambah dari hari ke hari.
***
Hay hayyy.. Mohon maaf ya, baru update lagi.. Semoga masih mengingat alur ceritanya.. hehee😁🤭
Aku nggak cari2 alasan mengapa tidak pernah up😛