360 DAYS

360 DAYS
Berkunjung ke rumah Ibu



Terimakasih atas dukungan berupa like dan komen pembaca sekalian.. BIG HUG🤧


.


.


lanjut yaa..


.


.


"Nanti sore ke rumah Ibu mau? Kita menginap di sana..". Sambil sarapan, Aku mengajak isteriku mengobrol. Dia mengangguk, dan menjawab dengan singkat.


"Boleh".


"Mas pulang sekitar jam 2.. Kamu siap- siap ya.. Nggak usah bawa baju, kan di sana masih ada punya kita.."


"Iyaa.. Seragam kerja?". Tanya Irene sambil melirikku sekilas, Aku tersenyum dengan perhatiannya.


"Iya bawa lah yang, seragam nya kan mas bawa semua ke sini.. hehee".


Irene hanya nyengir sekilas, kemudian melanjutkan makan. Okee tidak apa- apa, Dia masih ngambek. Setidaknya dia masih mau membantu mengurus kebutuhanku, seperti kebutuhan makan. Heheee... Dan dia juga tadi sudah menyiapkan baju yang akan kupakai bekerja hari ini, serta jangan lupakan tadi beberapa patah kata yang dikeluarkannya untuk menjawab pertanyaanku.


Sarapan selesai, Aku segera pamit berangkat bekerja.


"Hati- hati di jalan...".


Aku langsung menoleh ke arah isteriku, demi mendengar suara Irene barusan. Aku tidak salah dengar kan? Ah syukurlaah.. Aku menghembuskan nafas lega.


"Iya Yang, pasti..". Aku tersenyum, kemudian menaiki motor dengan penuh semangat. Sebelum meninggalkan gerbang rumah tak lupa Aku melambaikan tangan.


***


"Assalamu'alaikum Buu....".


"waalaikumsalam". Suara Ibu sudah terdengar dari arah dapur, Aku segera masuk ke rumah, berbarengan dengan Irene yang ku gandeng jemarinya.


Yaaa.. Ceritanya sangat panjang. Isteriku itu sudah tidak marah lagi. Sepulang bekerja, mendapati Irene yang berada di teras menungguku pulang, membuat ku kaget sekaligus senang bukan main. Ditambah Dia sudah mau berbicara panjang lebar kepadaku.


Saat makan siangpun, dia membicarakan kegiatannya selama di rumah. Dan yang lebih membuatku berdebar adalah, Dia memeluk pinggangku dengan erat saat tadi membonceng motor.


Tetapiii walaupun begitu, Aku belum siap bertanya apa kesalahanku tempo hari, biar nanti pelan- pelan ku tanyakan.


Seperti Biasa saat Aku berkunjung membawa Irene, Ibu langsung memeluk menantunya terlebih dahulu dan mengabaikan Aku. Ditambah lagi sekarang Irene tengah mengandung, hilang sudah Aku dari pandangan Ibu. Tetapi Aku sangat bahagia, karena Ibu menyayangi menantunya. Terlebih kesan di luar sana, bahwa mertua itu kejam. Yaa memang fakta di lapangan ada yang seperti itu. hmmm...


"Nginep di sini kan Nak?". Aku mendengar suara Ibu bertanya pada Irene. Saat ini Aku duduk di ruang tamu, merenggangkan otot ku yang terasa pegal. Tadi sepulang bekerja, tidak sempat beristirahat, Karena Irene mengajak istirahat di rumah Ibu saja.


"Iya Bu.. Irene nginep, Mas rama besok berangkat dari sini..".


"Cuman semalam?". Aku mendengar nada kecewa dari suara Ibu.


"Ntah Mas Rama Bu..".


Aku mendengus pelan. Alamat Ibu bakal mencibirku ini. Harusnya Irene menjawab Iya saja. haduh....


Irene bersama Ibu keluar dari arah dapur, menuju ruang tamu.


"Menginap lebih lama, jangan cuman semalem Nak.. Ibu itu kangen sama Isteri kamu..". Gerutu Ibu saat sudah mendaratkam diri di sofa.


"Rama cuman bawa baju seragam buat besok Bu...". Elakku.


"Kamu tinggal ambil aja gampang.. Biar Isteri kamu disini,". Aku menatap Ibu, dan Ibupun melakukan hal yang sama.


"Nginep ke rumah orang tua kok terpaksa begitu". Ibu melengos.


Ibu dan Irene sibuk mengobrol, Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka, sambil sesekali Aku melihat chat di grup whatsapp Guru Matematika SeKabupaten. Mereka tengah membahas tentang diklat yang akan dilakukan di semarang sekitar awal bulan Oktober.


"Kapan kamu cek kandungan, Ren?". Pertanyaanku membuat Aku menoleh ke arah mereka.


"Nunggu Mas Rama ada waktu luang Bu..". Jawaban Irene meluncur, dan Ibu langsung melirik ke arahku. Aku tersenyum kaku.


"Rencananya besok hari Minggu Bu.. Rama sudah buat janji dengan dokter..".


Irene menatapku, Aku tersenyum. Yaa.. Aku memang sudah membuat janji dengan dokter Beberapa hari yang lalu, sebelum tragedi ngambeknya Irene.


"Baguslah.. Harus rutin di cek, biar tahu kondisi calon anak kalian.. Jangan teledor sebagai suami.. Dulu ayah kamu siaga jaga Ibu..". Nasehat Ibu. Aku mengangguk, Aku berharap bisa menjadi suami yang selalu siaga untuk Irene.


"Nanti Irene mau ke rumah Bibi, Bu..". Ucap Irene.


"Iya mampir ke rumah Bibimu, dia sering tanya ke Ibu tentang kabar kamu.. Memangnya nggak pernah telponan?". Tanya Ibu. Kedua wanita itu mengabaikan keberadaanku, lagi.😌


"Sesekali Irene telpon Bibi kok Bu hehee..".


***


"Mas.. Kamu kok nggak bilang kalo sudah ada janji sama dokter kandungan?". Irene berbaring menyamping, menatapku.


"Kemarin pas kamu ngambek, Mas mau bilang..". Belaku.


Irene manggut- manggut kemudian nyengir lebar.


"Kamu bilang muridmu lumayan.. Maksudnya apa cobaa???". Irene mendelikkan matanya. Terlihat sebal. Aku tersenyum dan mencolek pipinya.


"Iya Dia lumayan pintar, kalo dibanding dengan murid yang lain.. Salahnya dimana coba?".


"Ya kamu nggak njelasin lumayan nya kan??? Bilang lumayan aja.. kan Aku mikir jauh maasss!!!". Irene mendengus sebal.


Bagaimana Aku bisa menjelaskan, Dianya langsung marah, dan mendiamkan Aku. hmmm...


"Mas kan lagi nggak fokus Yang.. Kamu tanya tentang shiren juga mas nggak kepikiran jauh kayak kamu..". Aku membela diri.


"Berarti Aku yang salah????". Ujar Irene sewot. sabaar. sabaarr.


"Mas yang salah lah.. Masa kamu.. Harusnya Mas paham kalo kamu itu cemburu. Ya kannn???". Aku mengedipkan mataku, tersenyum lebar.


"Hissshhh". Irene menutup wajahku dengan bantal guling. Aku tertawa kencang. Senangnya bisa melihat pipinya merona beberapa detik.


"Kamu nggak usah mikir macem- macem Yang.. Aku suami kamu, milik kamu.. Selamanya kayak gitu.. Sekarang kita fokus ke calon anak kita yaa...". Aku mengelus perut Irene dengan gerakan memutar. Irene mengangguk, Dia terlihat nyaman merasakan elusan tanganku.


Kami mengobrol beberapa saat, sebelum akhirnya sama- sama tertidur.


***


Pagi hari dimulai dari jam setengah tujuh, Aku memulai rutinitasku. Berangkat ke sekolah, dan kemudian mengajar mata pelajaran Matematika. Jika ada yang bertanya apa Aku bosan dengan rutinitas ini, Aku akan menjawab dengan jujur bahwa KADANG Aku merasa bosan. Bosan karena lelah. Tetapi begitu Aku meluruskan kembali niatku sejak awal menjadi guru, bosan itu akan menghilang begitu saja. terganti dengan semangat yang menggebu, terlebih sekarang Aku sudah mempunyai support system seorang isteri. Irene selalu mendukungku, dan dia sumber energi positif yang setiap hari Aku keluarkan.


Aku ingat dulu cita- citaku menjadi guru karena Aku ingin menjadi bagian dari pendidikan Generasi penerus bangsa. Menjadi Guru berarti siap untuk mengabdi, menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya.


Aku bangga menjadi seorang Guru💋


.


.


Bersambung❤