360 DAYS

360 DAYS
Hangout



Terima kasih untuk yang sudah membaca dan memberi dukungan pada karya ini. Jangan lupa klik like dan tulis komentar ya🥰


.


.


Lanjut😘


.


.


"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi..". Fifi meletakkan minibag miliknya di lantai lesehan. Matanya fokus menatap Irene.


"Pertanyaan yang mana?".


"Kemaren Aku lihat Pak Rama di pertigaan itu, habis dari mana kira- kira ya?". Fifi mengulang pertanyaan tadi. Irene hanya ber o dan mengangguk tanpa berniat menjawab.


"Hiss kamu tuh.. Jangan bilang dia Habis ke rumah mu?". Fifi menyipitkan matanya, menatap Irene penuh selidik.


"Iya kemarin pas Aku pulang, dia sudah di rumah..". Irene menjawab.


Fifi melebarkan matanya, baginya ini berita besar.


"Kita selama ini deket banget, Ren.. Aku bahkan nggak tahu kamu sedekat itu dengan Pak Rama..". Fifi berkata dengan nada sedih. Dia menundukkan kepalanya.


Selama ini dia menyangka jika Mereka berdua adalah sahabat, mereka berbagi semua hal. Dia memang tahu Irene menyukai Pak Rama bahkan di pertemuan pertama mereka. Namun, Dia sama sekali tidak tahu bahwa Irene dan Guru Matematikanya itu sudah begitu dekat.


"Nggak seperti itu Fi.. Kami dekat karena Aku ikut Les di tempat Pak Rama.. itu aja.. Kamu juga tau kan Aku ikut les..". Irene meraih tangan Fifi. Sementara itu, Fifi mendongak. Dia menyeka sudut matanya.


"Aku minta maaf, tapi kami memang tidak sedekat yang kamu duga barusan..". Irene menjelaskan kembali.


Dia memang bisa berbagi banyak hal dengan Fifi, namun dia tidak pernah berbagi tentang kedekatannya dengan Pak Rama selama sekolah dulu. Saat itu dia berpikir bahwa cukup Dia dan Gurunya itu yang mengetahui, Lagipula Pak Rama tidak pernah mengatakan apapun tentang hubungan mereka. Sekedar mengucapkan Aku suka kamu, tidak pernah sekalipun. Mereka berjalan seperti air mengalir.


"Kenapa Aku jadi mellow yaa.. hehe". Fifi meringis.


"Aku cuman takut, Aku nggak bisa ada saat kamu butuh, Ren.. Aku nggak mau jadi sahabat yang tidak berharga buat kamu...". Fifi berkata lagi.


"Kamu sangat berharga Fii..". Irene tersenyum tulus, dan Fifi membalas dengan tak kalah tulus.


Setelah suasana melow pergi, Fifi memanggil pelayan untuk memesan makanan. Mereka memesan dua paket nasi dan seafood, gorengan, dan jus alpukat. Mereka menunggu pesanan datang sembari berfoto selfi, kemudian membaginya di instagr@m.


Irene mengklik tanda pesan di akunnya, ada satu DM untuk dia.


choco14


"Irene, ini saya, Rama.. Bisakah kita bertemu lagi?"


Irene terpaku memandangi pesan yang masuk ke ig nya.


'Jadi selama ini dia ada?'. Batin Irene. Jantungnya berdetak tidak teratur.


"Irene???". Fifi menyentuh pundak sahabatnya yang melihat ke hape tanpa berkedip.


"Eh??". Irene terlonjak kaget, dan segera menutup hapenya cepat.


"Kenapa Fi?". Irene bertanya, gelagapan. Dia merasa seperti sedang tertangkap basah mencuri.


"Liatin apa si? serius amat...". Tanya Fifi kepo.


"Ada yang DM, Fi.. Masa iya bales DM cengengesan..". Irene membuat alasan. Tidak mungkin kan, Dia bilang bahwa Pak Rama ingin bertemu?. Sudah jelas tadi Dia menjelaskan pada sahabatnya itu bahwa tidak ada hubungan apapun.


"Owalaah kirain dapet kejutan kupon Heheee...". Irene menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan lawakan Fifi.


Setelah beberapa menit menunggu, Pesanan datang. Nasi dan seafood yang disajikan masih mengepulkan uap. Air liur dua gadis itu sudah meleleh sejak tadi. Segera saja setelah pramusaji pergi, mereka langsung makan dengan lahap. Tak lupa sebelum makan, mereka foto selfi dulu.🤦‍♀️


Di sela- sela makan, Irene beberapa kali melirik Fifi. Saat di rumah tadi, Dia berniat menanyakan kabar tentang Pak Rama pada sahabatnya itu. Namun, suasana melow yang tadi tercipta membuat dia urung bertanya. Dan mengikhlaskan rasa keingintahuannya tidak terjawab.


Irene memilih beberapa makanan yang ingin dimakannya. Begitupula dengan Fifi, gadis itu tak mau kalah. Masing- masing sudah menenteng 3 kresek berisi makanan, yang sebagian besar berupa gorengan. Keduanya tertawa melihat hasil perlombaan mereka barusan.


"Kita habisin di sana aja yuk..". Fifi menunjuk bangku panjang yang ada di bawah pohon, tak jauh dari barisan penjual makanan.


"Eh bener ini mau dihabisin semua?". Irene tampak ragu, melihat seberapa banyak jajan yang sudah mereka beli.


"Ini kan ada 3, satu makan di sini, dua makan di rumah hehehe". Fifi tertawa mendengar idenya sendiri. Irene geleng- geleng kepala, Namun satu tusuk gorengan sudah mulai memasuki mulutnya.😁


"Di semarang nggak ada jajan kayak gini.. sumpah enak bangettt...". Irene memejamkan matanya, menikmati kelezatan jajan yang sedang dia kunyah.


"Masa nggak ada?.. Yaudah puas- puasin aja.. hehe". Fifi tertawa. Tak terasa, dalam waktu kurang dari 15 menit, Dua gadis itu sudah menghabiskan seplastik jajan mereka.


"Ughhh.. kenyang banget sumpahhh". Fifi menutup mulutnya, Karena suara sendawa yang tidak bisa dia tahan.


"He em..". Irene mengangguk setuju, makan satu plastik jajan sendirian benar- benar mengenyangkan.


***


Irene memasuki rumah, hangout hari ini sangat menyenangkan, walaupun akhirnya dia merasa pegal juga seluruh badannya.


"Ya ampun, Nak.. Ini kamu beli jajan sebanyak ini siapa yang mau makan?". Nenek geleng- geleng kepala melihat dua plastik jajan yang diletakkan Irene di meja makan. Sementara itu sang cucu hanya tersenyum lebar, tanpa merasa bersalah.


"Irene beli buat kakek sama nenek.. nanti Irene bantu, tenang ajaa.. Hehe". Irene memeluk Neneknya sekilas, kemudian segera masuk ke kamarnya.


Gadis itu menggantung kembali tas kecilnya di tembok, sebelum itu dia mengambil hape dan mengecas nya.


Melihat Hape, Irene jadi ingat DM instagr@am yang masuk. Apa benar itu dari Pak Rama? Batinnya.


Irene menghempaskan tubuhnya di kasur.


"Mengapa harus meminta bertemu?". Irene bertanya pada diri sendiri.


"Aku takut menjadi salah paham dengan dia"


"Lagipula bagaimana jika pasangannya mengetahui pertemuan kami?"


Irene menggeleng, dia menolak hal tidak baik yang diakibatkan oleh pertemuan itu. Dia ingin bertemu, dan ingin mengatakan banyak hal, Namun apakah itu baik?.


4 Tahun tanpa jaring komunikasi, jujur membuat dia canggung.


"Ishh gimana yaa..". Irene menarik- narik rambutnya. Kesal dengan diri sendiri. Mengapa dia harus memiliki kisah yang rumit dengan gurunya?? Harusnya dia tidak cinta, harusnya dia tidak agresif mendekat, harusnya dia tidak mencari- cari kesempatan!!.


Yaa.. ini semua salahnya.. Salah dia yang mengejar- ngejar cinta gurunya.. hhh🥲


Lihatlah sekarang Irene, si Dewi Perdamaian, kelakuanmu di masa SMA membuat hidupmu kian ruwet.


Irene mengolok dirinya sendiri.


Tetapi... Sekeras apapun usaha dia memepet gurunya, Jika guru itu biasa saja, dan tidak menunjukkan perhatian dan sikap lembut, bukankah usaha itu hanya sia- sia??


Sudut hati yang lain memberi pembelaan.


.


.


Dan dengan bodohnya kamu menganggap sikap lembut itu sebagai cinta??? Batin Irene, sesakkk...😭


.


.


Bersambung😘