
Terimakasih yang sudah berkenan membaca dan memberi dukungan🥰
lanjut yaa
.
.
Aku menjalani hari- hariku seperti biasa. Berangkat pagi, mengajar, memberi pemantapan UN, pulang, berlanjut memberi les privat. Semua berjalan dengan biasa, termasuk kehidupanku di luar sebagai Guru. Misal pertemanan ku dengan Raisa. Aku tidak banyak menyinggung Raisa karena memang Kami jarang bertemu, hanya sesekali berkirim pesan, itupun lebih sering Dia meminta bantuanku untuk menemaninya melakukan sesuatu. Semua biasa, kecuali satu hal. Ini tentang Irene, murid yang awalnya ku anggap aneh itu, membuat hari- hariku berbeda.
Setelah Dia mewakili sekolah untuk lomba Matematika di tingkat provinsi, Dia benar- benar menghindariku. Ah maksudku bukan berarti Aku berharap diperhatikan yaa. Dia sudah tidak seperti kemarin, misalnya tersenyum sepanjang pelajaranku, atau tersenyum malu- malu saat tidak sengaja perpapasan, atau iseng mengirim pesan padaku. Dia berubah sejak kecelakaan itu. Dia juga tidak pernah mengunjungi Ibu. Padahal Ibu sangat ingin bertemu dia, mungkin hendak meminta maaf atas kesalahpahaman tempo hari, saat beliau meninggikan suaranya pada Irene. Ibu beberapakali menitipkan makanan untuk Irene melalui aku, seperti biasanya. Irene menerimanya. Aku tidak tahu dia benar menerima atau tidak, karena Aku selalu meminta bantuan muridku untuk memberikan titipan Ibu ke Irene.
Pagi ini, Aku akan mengajar di kelas 10A, kelas Irene. Aku memasuki kelas 5 menit lebih awal, semua murid sudah masuk kelas. Dan Aku membuka kelas seperti biasa, mengabsen muridku, sebelum memasuki materi pelajaran. Aku mengedarkan pandanganku, Irene tidak ada di kelas. Dia terlambat??
'tidak biasanya dia begitu'. Aku membatin.
"Irene". Aku menyebut nama muridku. Hening tidak ada yang menjawab.
Aku melihat ke arah teman sebangkunya, siswi bernama Fifi itu sepertinya sangat dekat dengan Irene. Dia pasti tahu mengapa anak itu tidak berangkat.
"Fifi, kamu tahu teman sebangku mu?". Aku bertanya.
"Sakit Pak.. sudah dua hari tidak berangkat". Dia menjawab dengan raut wajah sedih. Aku terkejut mendengar bahwa anak itu sakit. Padahal kemarin lusa, dia terlihat baik- baik saja. Ya walaupun dia tidak se- semangat biasanya.
"Oh iya, sudah ada yang menjenguk?". Sebagai walikelas, Aku bersimpati dengan keadaan muridku.
"Saya dan beberapa teman sudah menjenguk, Pak". Kali ini Ketua kelas 10A yang menjawab.
Aku melanjutkan mengabsen muridku hingga selesai, kemudian memulai memberikan materi pelajaran. Pikiranku terbagi dua, satu berada di kelas ini, dan satu lagi di tempat lain.
'Apa Aku perlu menjenguk juga?'
'Tentu saja, sebagai wali kelas kamu harus menjenguknya, untuk mendukung dia'
'Apa Aku mengajak Ibu juga yaa'
'Kalau Ibu ikut, pasti ribet sekali nanti'
'Hmmmhhh'
Aku mengambil nafas berat, dan menghembuskannya pelan.
Jam mengajar telah usai, setelah memberikan tugas untuk muridku kerjakan di Rumah, Aku segera menutup kelas, sebelum Guru selanjutnya tiba. Setelah tadi Aku memikirkan dengan matang, Aku menyimpulkan, Aku akan menjenguk Irene setelah ini. Tadi Aku sudah menanyakan pada Fifi dimana rumah Irene, karena Mereka satu desa. Fifi sudah memberikan alamat dengan rinci.
Aku memasuki Ruang guru, dan bersiap meninggalkan sekolah. Aku meminta Izin kepada Kepala Sekolah. Setelah itu, Aku segera melajukan motorku meninggalkan gedung sekolah.
Ah iya, motor kesayanganku sudah terganti. Benda itu kini beristirahat di garasi. Ayah memintaku menggunakan motornya, Beliau bilang, jika nanti ada panggilan mengajar, Dia bisa berangkat bersama kakak keduaku. Sekitar 45 menit Aku berkendara, Akhirnya Aku sampai di depan rumah Irene, lebih tepatnya Rumah Kakek Nenek Irene. Rumah Ini memang paling beda dari Rumah yang lainnya. Rumah ini terbuat dari Kayu, namun terlihat kokoh dan indah.
Aku segera menuju pintu utama, kemudian mengetuk pintu.
tok tok tok
"Assalamu'alaikum". Beberapa saat kemudiam terdengar suara dari dalam, menjawab salamku. Ah itu sepertinya suara Nenek nya Irene. Pintu terbuka, Nenek Irene tersenyum ramah padaku begitu melihatku yang berdiri di depan pintu rumahnya. Aku mengangguk ramah.
"Oh iya.. Mari masuk Pak..". Nenek mempersilahkan Aku masuk dan duduk di sofa. Aku mengedarkan pandanganku, melihat beberapa bingkai foto yang tergantung di dinding kayu.
"Terimakasih atas waktu Bapak, repot- repot menjenguk cucu saya". Nenek Irene berkata. Dia meletakkan segelas teh dan setoples camilan. Aku tersenyum.
"Iya Bu, sudah kewajiban saya sebagai walikelas untuk mendukung murid saya.. apalagi Irene juga salah satu murid yang berprestasi".
"Irene ada di rumah Bu?". Aku bertanya, karena Nenek tidak kunjung memanggil Irene.
"Ah iya.. Tadi pagi Kakeknya mengantar ke Puskesmas, Sebentar lagi pasti pulang..". Ujar Nenek.
"Sebelum sakit, Irene sepertinya baik- baik saja, Bu.. Apa Dia sedang ada masalah?". Aku mulai menyelidik, namun tetap dengan nada suara ramah.
"Sejak kecelakaan beberapa waktu yang lalu, dia lebih sering diam di kamar, padahal biasanya dia selalu cerewet ke Nenek dan Kakek.. Irene tidak mau cerita lengkap tentang kecelakaan itu, Dia waktu itu pulang sudah diperban, banyak luka, dan nangis- nangis tidak mau berhenti.. Nenek sedih sekali..". Aku melihat raut sedih di wajah Nenek. Aku sedikit kaget mengetahui cerita ini, berarti waktu itu dia di rawat seadanya?? Bagaimana bisaa..
"Sebenarnya Irene kecelakaan bersama saya, Bu..". Aku berkata jujur. Nenek mendongak, dan menatapku, beliau kaget.
"Benarkah yang Sampean katakan?". Tanya nenek, masih tidak percaya.
"Waktu itu, saya mengantar Irene, Dia dari Rumah Bibi nya..". Aku tentu tidak mengatakan tentang Ibu yang memaksaku mengantarkan Irene.
"Jadi, cucu Nenek merasa bersalah itu ke sampean..". Nenek bergumam sendiri, suaranya pelan, namun Aku masih bisa mendengar.
"Irene ingat kecelakaan yang dialami Ayah Ibunya dulu, Dia sampai sekarang masih merasa bersalah pada mendiang Ayah dan Ibu..". Nenek berkata sendu. Beberapa tetes air mata sudah terjatuh sejak tadi. Aku jadi merasa bersalah. Suasana hening yang terjadi terputus dengan adanya suara motor yang memasuki halaman rumah. Aku menduga itu Irene dan Kakeknya. Benar saja, Irene dan Kakek sudah berdiri di pintu utama. Aku berdiri. Nenek menghampiri suami dan cucunya. Irene tampak terkejut melihat Aku yang ada di rumah ini. Dia tersenyum, seperti dipaksakan. Aku membalasnya.
"Walikelasmu datang menjenguk, Nak..".
"Iya nek.. Terimakasih Pak, sudah repot- repot datang". Irene berjalan pelan, menghampiriku, dan mencium tanganku penuh hormat. Tangan itu dingin sekali. Aku membatin.
Kakek dan Nenek Irene meninggalkan Kami berdua di Ruang tamu. Suasana hening, Aku sendiri bingung kenapa malah diam saja.🤦♀️
"Sudah periksa ke dokter?". Aku akhirnya bertanya,
"Ah iya sudah Pak". Irene tersenyum, kemudian menunduk lagi.
'Anak ituuu.. jadi canggung kan'.
"Apa Saya benar- benar mirip dengan mendiang Ayahmu? sampai Kamu merasa begitu bersalah tentang kecelakaan yang terjadi?". Aku akhirnya menanyakan pertanyaan ini. Aku menyelipkan candaan di pertanyaanku, Yaa.. Aku mengingatkan dia tentang kata- katanya yang tak masuk akal, mengatakan bahwa Aku mirip mendiang Ayahnya. Melihat perubahan Irene waktu itu, dan cerita Nenek barusan, Aku sepertinya perlu menanyakan hal itu. Mengapa dia merasa sangat bersalah, padahal itu bukan kesalahannya.
Irene mendongak, dia tersenyum canggung, namun sekilas kemudian dia tampak sedih. Dia diam sambil menunduk lagi.
"Sebenarnya..."
.
.
.
Bersambung😘