
Terimakasih yang sudah berkenan membacaš„°
.
.
.
Lanjut yaa
Seminggu sisa liburan berlalu dengan begitu cepat, Besok sudah akan dimulai semester baru. Aku sudah bersiap dengan RPP (Rencana Pembelajaran) yang baru.
"Besok sudah mulai mengajar lagi, Nak?". Ibuku bertanya padaku. Aku sedang membaca beberapa materi di Laptopku. Ibu duduk di ruang tengah, sama sepertiku.
"Iya Bu, ditambah lagi besok kelas 3 latihan tryout.. persiapan UN (Ujian Nasional)". Jawabku, masih sambil membaca.
"Besok ibu titip sesuatu untuk TEMAN mu ya... siapa itu namanya? .. Ibu lupa tidak tanya namanya". Aku berhenti membaca dan menengok ke arah ibu, begitu ibu berbicara sambil menekan pada kata TEMAN.
"Mau nitip apa bu?.. Tidak usah lah buu.. Yang waktu itu saja Rama diledekin sama guru yang lain". Aku berdecak, masih ingat dengan kejadian waktu itu, saat Dia mengembalikan kotak nasi pink. Ibu mendelik,
"Ish kamu ini.. Sedekah ke anak yatim piatu itu memperlancar rezeki kita.. Jangan begitu..". Ucap ibu.
"Darimana Ibu tahu Irene anak yatim piatu? Rama tidak tahu soal itu, Bu.. Maaf". Kataku. Aku memang tidak tahu Irene sudah tidak mempunyai Ayah dan Ibu.
"Oh namanya Irene..". Ibu tidak menjawab pertanyaanku, malah menggumamkan nama Irene.
"Ibu tahu darimana?". Tanyaku sekali lagi.
"Bibi Irene yang kemarin itu, Ibu seperti pernah lihat. Ternyata itu saudaranya Bu Irma.. Tahu Bu Irma kan?". Aku mengangguk. Bu Irma tetanggaku, rumahnya tidak begitu jauh dari rumah orang tuaku ini.
"Ibu bertemu di pengajian kemaren itu.. sekalian ketemu sama Bibi Irene". Aku manggut- manggut mendengar cerita Ibu.
"Oh iya- iya bu.."
"Jadi bisa ya Ibu besok nitip buat anak itu.. Dia sepertinya enak diajak ngobrol yaa".
"Iya bu..". Aku dengan berat hati menerima permintaan Ibu. Ibu tersenyum lebar, Aku akhirnya tersenyum juga, melihat beliau tersenyum begitu. Andai Ibu punya anak perempuan, Pasti ada teman mengobrol untuk mengusir sepi. Tetapi, Ibu selama ini sering berkumpul dengan Ibu- Ibu pengajian, Aku rasa Ibu tidak begitu kesepian seperti yang Aku pikirkan.
***
Aku masih memikirkan ucapan Ibu tentang Irene yang sudah yatim piatu. Anak itu terlihat selalu ceria, kupikir.
'Terus mengapa kalo dia ceria? Apakah yatim piatu harus murung terus?'. Hati kecilku berkata.
'hm Iya juga si..'. Aku nyengir menanggapi hatiku sendiri. Aku tidak membawa paperbag yang Ibu titipkan untuk Irene ke dalam kantor. Barang itu masih ku letakkan di gantungan yang ada di bagian depan motor kesayanganku. Niatku sejak menerima benda itu dari Ibu adalah, Aku akan meminta Irene mengambilnya sendiri di motor, sehingga Aku tidak perlu memberikannya langsung ke Dia, apalagi Jika Aku memberikan lagi di kantor. Itu tidak mungkin, bisa- bisa ledekan rekan guru tidak akan berakhir. Aku menggelengkan kepalaku, tidak bisa menerima jika kejadian seperti itu terjadi. Aku sudah mengirimi Irene SMS, sebelum berangkat ke sekolah, agar anak itu nanti bisa mengambil barang titipan dengan segera.
Aku bergegas memasuki ruang kelas 3 IPA yang hari ini akan latihan tyrout. Latihan ini diadakan sekolah guna mengukur kemampuan awal siswa kelas 3 sebelum menghadapi tryout serentak beberapa waktu ke depan.
"Sudah siap yaa..". Aku bertanya pada Murid- muridku.
" Siap pak..". Jawab mereka serempak.
"Walaupun masih Latihan, anggap ini UN beneran, biar ada greget- gregetnya". Ucapku sambil tersenyum lebar. Mereka semua tertawa.
Siswa- siswa kelas 3 mulai mengerjakan soal- soal yang ada dihadapan mereka dengan serius. Aku berkeliling mengecek mereka. Waktu dua jam masih tersisa banyak. Aku keluar dari kelas, menghirup udara segar. Aku melihat ke bawah, ke tempat parkir. Saat Aku berdiri di lantai dua gedung sekolah, Dari tempatku ini, Aku bisa melihat tempat parkir dengan sangat jelas. Maksud hati, selain ingin menghiup udara segar, Aku juga hendak mengecek apakah bingkisan di gantungan motor sudah diambil oleh si empunya atau belum. Dan ternyata belum.
Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, Aku sudah berada di ruangan guru setelah sejam yang lalu mengawasi tryout kelas 3. Aku melirik hape yang sengaja ku letakkan di atas meja. Aku sudah mengirim pesan pada Irene untuk mengambil paperbag yang ada di motorku. Namun anak itu tidak membalas sama sekali. Daripada kepikiran hal itu terus, Aku akhirnya keluar dari ruangan dan mengambil benda itu di motorku. Seorang murid kelas 10 melintasiku, Dia teman sekelas Irene. Sebuah ide terlintas di pikiranku.
"Leni..". Aku memanggilnya. Yang dipanggilpun berhenti dan mendekat ke arahku.
"Iya pak?"
"Bapak minta tolong, titip ini untuk Irene ya..". Aku memberikan paperbag itu. Leni menerimanya, dari raut wajahnya, Aku bisa melihat dia seperti bertanya- tanya. Biar saja lah.. Batinku.
"Oh iya pak, nanti saya berikan ke Irene.."
"Terimakasih ya.. kamu bisa pergi sekarang". Ucapku. Anak itu segera berlalu.
Aku memasuki ruangan kembali, sudah selesai tugasku.
***
"Sekolah kita mendapat undangan untuk mengikuti lomba mata pelajaran di Kantor Dinas Pendidikan, Bapak Ibu bisa memilih siswa siswi terbaik yang bisa diikutkan perlombaan, untuk meningkatkan nama baik sekolah..". Kepala sekolah berbicara di depan kami, para guru. Beliau menyerahkan tiga lembar kertas, yang berisi undangan dan rincian perlombaan yang dimaksud pada Bu Suci.
"Ini untuk siswa kelas berapa Pak?". Tanya Salah satu rekanku.
"Ada dilembar kedua itu, bisa dibaca dulu..". Jawab Kepala Sekolah. Selesai memberi pengumuman, Kepala sekolah memasuki ruangannya kembali.
"Ini lomba mata pelajaran untuk Ujian Nasional.. untuk kelas 10 dan 11". Ujar Bu suci sambil membaca kertas yang tadi diberikan oleh Kepsek.
"Matematika ada berarti ya Bu..". Aku menyimpulkan.
"Ada Pak.. nanti sampean (anda) baca juga..".
Di Kepalaku sudah ada beberapa nama siswa kelas 11 dan kelas 10 yang akan menjadi kandidat peserta lomba.
Seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya, Guru- guru akan menuliskan siapa saja nama yang menjadi calon peserta lomba. Hasilnya dikumpulkan ke Kepsek untuk didiskusikan bersama guru.
"Yang kemarin rangking 1 paralel bisa itu diikutkan lomba". Ucap bu Suci. Bu Suci mengampu mata pelajaran Fisika, dia pasti juga sedang memilah murid yang hendak dia pilih untuk diikutkan lomba.
"Bisa itu bu" Pak Hendri menimpali.
Rangking 1 paralel?
.
.
.
Irene?
.
.
. Bersambungš