360 DAYS

360 DAYS
the DAY



Terimakasih bagi yang sudah mampir untuk membaca dan memberi dukungan untuk Author🥰


.


btw, Aku lagi nyoba ikut lomba chat story tentang Kisah Di Sekolah.. Jika berkenan, Kakak semua bisa baca karya itu ya hehehe, Punteen💋🙏


.


Lanjut yaa😘


.


.


POV Rama:


Aku melihat pantulan diriku di cermin. Cakep. Hehe,


Hari ini Aku memakai Kemeja putih lengan panjang, kemudian memakai jas formal berwarna hitam, dan celana formal hitam, serta peci hitam. Duh serba hitam ya.. Setelan ini adalah pemberian dari Irene beberapa hari yang lalu, yang dititipkan lewat Raka, muridku, sekaligus calon sepupuku.


Aku mengambil sebuah kertas kecil dari saku jas. Kertas berisi rangkaian kalimat qabul dalam bahasa arab.


"قبلت نكاحها و تزويجها ....لنفسي بالمهر المذكور حالا"


(Oh iya, pas momen Aku nikah, suamiku katanya ngapalin kalimat itu dua hari. Kasian banget ya hehee, Demi bisa mempersunting bidadarinya😁🤭)


Aku membaca berulangkali kalimat itu. Aku berharap nanti tidak perlu mengulang, tetapi sekali langsung jadi. SAH.


"Sudah siap Nak?".


Ibu memasuki kamarku, Aku mengengok ke arah Ibu. Beliau tersenyum teduh padaku.


"Siap Bu..". Ibu duduk di tepi ranjang, Aku mengikuti Ibu duduk. Sepertinya Beliau ingin mengatakan sesuatu padaku.


"Ibu bersyukur Kamu akhirnya memutuskan menikah.. Ibu bahagia untuk kamu, Nak.. Maafkan Ibu karena waktu itu memaksa kamu untuk memilih Laila.. Padahal Ibu tahu bukan dia yang kamu harapkan".


Ibu berkata dengan sedih. Aku meraih tangan Ibu.


"Ibu tidak perlu meminta maaf ke Rama.. Rama mengerti maksud Ibu waktu itu..".


"Terimakasih ya Bu, sudah memberikan restu ke Rama". Aku memeluk Ibu. Terakhir Aku memeluk Ibu saat wisuda dulu.


"Jadilah Imam yang baik, bahagiakan Isterimu, Nak..". Ibu mengelus pucuk kepalaku.


"Siap bu, Doakan Rama selalu ya Bu..".


"Pasti, Nak.."


"Ya sudah.. Ibu mau keluar dulu, kamu jangan lama- lama dandan nya.. dah ganteng gitu kok.. Heheh".


Ibu segera beranjak dari kamarku, sambil tertawa kecil.


Aku keluar dari kamar, seluruh keluarga inti dan keluarga dari ayah Ibu sudah berkumpul di Ruang Tamu, siap untuk segera pergi ke kediaman Irene.


"Duh calon mantennya gagah sekalii..". Puji Bibiku. Aku tersenyum malu.


Ayah berdiri dan menghampiriku,


"Kalau sudah siap Kita segera ke sana, Nak.."


"Rama sudah siap Yah.. Ayo kita berangkat sekarang saja.."


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Acara Ijab qabul direncanakan nanti siang setelah solat dhuhur, Namun Keluarga besarku mengatakan lebih cepat di tempat lebih baik. Aku tinggal ikut saja, yang penting nanti SAH. hehehe.


Jika rombongan saat Aku melamar Irene hanya 3 mobil sedan kecil, maka kali ini, Ibu menyewa 1 bus dan 2 mobil sedan kecil. Ada 1 lagi mobil Kakak sulung yang digunakan oleh ku saat ini. Ayah, Ibu, dan Kakak sulung beserta Iparku bersamaku di mobil ini, Selebihnya di mobil yang lain.


Mobil yang Aku tumpangi sudah memasuki jalan menuju rumah Irene. Karena Jalan yang melewati rumah Irene digunakan untuk dekorasi, akhirnya Kami parkir tak jauh dari sana, begitupun mobil dan bis rombongan.


Aku turun dari mobil, disusul Ayah Ibu dan Kakakku. Jantungku langsung jedag jedug begitu menjejakkan kaki. Padahal Ijab qabul terjadi nanti siang, namun Aku sudah nerdebar dari sekarang. Aku mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan.


***


POV Ibu:


"Tisu Bu..". Tata, menantuku mengulurkan sebuah tisu. Aku menerimanya dan menghapus air mata bahagiaku.


Waktu terasa begitu cepat, dulu anak bungsuku ini sangat manja dan cerewet. Sekarang, lihatlah, Dia sudah menjadi lelaki dewasa, dan mempersunting wanita pilihannya.


Mempelai mendekat ke arahku dan juga suamiku. Mereka akan sungkem pada Kami. Air mataku menetes kembali.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, Jadilah Suami yang baik, yang bisa membimbing dan membahagiakan Isteri, Nak.. Dan Kamu Nak.. Jadilah Isteri yang baik, patuh pada suamimu.. Ingatkan jika dia salah.. Satu lagi.. Beri Ibu cucu yang banyak yaa...".


Anak dan menantuku tertawa kecil. Aku mengelus pucuk kepala mereka. Memberi restu untuk mereka menjalani biduk rumah tangga.


***


POV Author:


Acara sakral itu berjalan dengan khidmat. Acara siraman rohani dari ustadz menambah adem momen pernikahan Rama Irene.


Pengantin baru itu kini tengah duduk di bangku pelaminan. Menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang hadir.


"Selamat Pak Rama.. Akhirnya menemukan jodoh.. Bahagia selalu ya Pak..". Pak Hendri menjadi Tamu guru pertama yang memberikan ucapan selamat.


"Terimakasih Pak..". Kedua lelaki itu berangkulan, Pak Hendri menepuk bahu rekannya itu. Turut bahagia.


"Beb.. Selamat yaa.. Bapak juga selamat ya Pak.. Berkah pernikahannya, terus segera mendapatkan momongan.. ". Irene tersipu malu mendengar ucapan selamat dari Fifi. Sedangkan Rama hanya tersenyum menanggapinya.


"Irenee.. Selamat ya.. Pak Rama juga.. Bahagiakan sabahat saya ini ya Pak.. sudah banyak nangis dia tuh". Kali ini giliran Jojo yang mengucapkan selamat.


"Saya pasti akan membahagiakan Isteri saya". Rama menatap sayang pada gadis yang berada di sampingnya ini, yang sekarang telah resmi menjadi Isterinya.


"Foto dulu yaaa...". Jojo dengan heboh mengambil ponselnya dan foto bersama pengantin baru. Setelah mendapatkan beberapa foto bagus, Dia menggered Fifi untuk meninggalkan panggung, karena antrian sudah memanjang.


"Aku makan dulu ya Ren.. hehehee". Pamitnya pada pengantin baru. Irene tertawa kecil dan mengacungkan jempolnya pada Jojo dan Fifi.


"Mas, Kamu beneran ngundang kelas Raka?". Irene berbisik sembari menerima ucapan selamat dari tamu Kakeknya.


"Nggak, Yang.."


"Tuh liat, Rame bangettt". Irene melirik ke arah pintu masuk, Rama mengikuti mata Irene. Dan benar saja, Murid kelas 11 IPS, yang dia menjadi walikelas berkerumun di sana. Antri bersama tamu undangan yang lain.


"Ini pasti kerjaan Raka.. His itu anak yaa..". Irene berdecak kesal, mengetahui tingkah sepupunya itu. Ya walaupun dia sebenarnya bahagia, karena banyak yang hadir memberikan selamat.


"Sudah tidak apa- apa..". Rama menghibur isterinya yang tengah kesal itu.


Benar saja, begitu gerombolan Raka dan Teman sekelasnya naik mendapat giliran, Suasana panggung langsung ramai.


"Selamat Pak.. Kami semua ikut bahagia, dan mendoakan yang terbaik untuk Bapak dan Isteri". Raka melirik si pengantin wanita, dan tersenyum jahil.


"Maaf ya Pak.. Amplopnya iuran..". Raka tertawa kecil,


"Karena Amplop kita iuran, berarti nanti makan prasmanannya juga iuran yaa kawan- kawan.. sepiring bersama". Tambah Raka lagi, yang langsung disambut tawa oleh teman- temannya. Irene hanya geleng kepala melihat tingkah kakak sepupunya itu.


"Tidak apa- apa.. Terimakasih sudah mau hadir di acara Bapak yaa..". Rama tersenyum tulus pada murid- muridnya.


Selesai heboh kelas Raka, kini tamu tak terduga yang datang ke panggung. Siapa lagi jika bukan Taqy.


Lelaki itu berjalan menuju panggung dengan langkah ringan. Dia melemparkan senyum ke pengantin baru yang sedang menatapnya.


"Selamat ya Dek atas pernikahannya.. Bahagia selalu..". Taqy menjabat tangan Rama, suami dari gadis yang dicintainya. Tangannya memang menjabat Rama, namun tatapan matanya tertuju pada Irene. Irene tersenyum kecil.


"Terimakasih Kak..".


"Silahkan dinikmati hidangannya, Mas...". Rama melepaskan jabatan tangan Taqy, dan mengusir halus mantan saingannya itu. Dia tidak rela isterinya ditatap seperti itu oleh lelaki lain.


"Kamu ngundang dia?". Rama bertanya begitu lelaki yang dia maksud menuruni panggung.


.


.


Bersambung😘