360 DAYS

360 DAYS
Senja di alun- alun kota



Terimakasih atas dukungannya untuk karya ini yaa..🥰


.


.


Lanjut🙃


.


.


"Ren.. " Rama mendekati isterinya yang sedang menonton tv. Irene menoleh ke belakang, kemudian tersenyum pada sang suami.


"Iya Mas.. Kenapa?".


"Ibu ada ngomong sesuatu ke kamu pas ke sini kemarin itu?". Rama duduk disamping isterinya, kemudian merangkul dengan mesra.


"Nggak ada Mas.. Ya ngomong pas kita lagi bareng itu loh.." Ucap Irene sesuai kenyataan, karena memang itu yang terjadi. Soal dia pergi ke makam, tidak perlu mengungkapkan bukan?


"Kenapa emang Mas?"


"Iya Ibu bilang ke Aku kalo Aku nggak bisa mengurus kamu dengan baik..". Rama sedih jika mengingat kalimat Ibu. Jika dia sebagai suami memang seperti itu, kenapa tidak menjelaskan lebih rinci yang dimaksud dengan tidak mengurus itu??.


"Kamu mengurus Aku dengan baik, Mas.. Terimakasih yaaa...". Hibur Irene. Ibu hamil itu tentu saja mengerti maksud sang mertua, namun itu murni kesalahannya sendiri. Bukan suaminya. Suaminya lelaki baik dan penuh tanggung jawab.


"Maaf yaa.. Mungkin memang Mas ada salah yang mas nggak sadar". Rama menggengam jemari isterinya erat. Menatap dalam. Irene tersenyum kecil, dan mengangguk.


"Apa kamu mau tinggal bareng Ibu lagi? Dari kemarin Ibu telpon terus..". Rama bertanya pada isterinya. Dia memang ingin isterinya selalu ada yang menjaga di saat dia sedang bekerja, namun Dia tidak bisa memutuskan sendiri,


"Aku belum bilang ke Bibi Ros, Mas.. Bibi juga kan sibuk Aku nggak enak kalo mau minta beliau ngurus rumah ini..". Ungkap Irene. Rama mengangguk, menyetujui pendapat Isterinya.


"Ya sudah biar nanti Mas bilang sama Ibu yaa..."


***


Hari minggu sengaja Rama manfaatkan untuk quality time dengan Isteri hamilnya. Dia mengajak Irene jalan- jalan ke tempat keramaian. Mengunjungi taman tempat dulu mereka pertama kali berkencan, berburu jajan gorengan kesukaan, hingga membeli beberapa potong daster untuk persiapan jika perut Irene sudah mulai membesar. Tujuan terakhir adalah alun- alun kota Purbalingga. Rama mengajak Irene duduk di tempat yang sudah disediakan. Banyak orang yang juga tengah berakhir pekan di alun- alun, menunggu malam hari tiba.


"Mas.. Lihat itu anak kecil yang disana...". Irene menunjuk ke gerombolan anak kecil yang sedang bermain bersama, tak jauh dari mereka ada para orang tua yang sedang bercengkrama sembari memperhatikan anak- anak mereka.


Rama mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Irene. Diapun tersenyum.


"Besok kalo dede sudah lahir dan bisa diajak bepergian, kita ke sini lagi yaa...". Irene mengangguk dan setuju dengan ajakan suaminya. Menyenangkan sekali bisa quality time dengan paket komplit, pasangan dan anak- anak. Seperti orang tua yang di sana tadi.


Rama mengelus perut isterinya dengan lembut, menunjukkan kasih sayang seorang Ayah lewat belaian di kulit.


"Kamu inginnya punya anak berapa, Yang?". Rama iseng bertanya pada Isterinya.


"emmm..." Irene nampak berpikir, menimbang dan menerawang jauh ke depan. Berapa jumlah anak yang dia mau?


"5 yaaa... hehee". Rama tak sabar menunggu respon sang Isteri, akhirnya dia memutuskan sendiri.


Mendengar jumlah yang disebutkan suaminya, Irene melirik tajam.


Kata orang banyak anak memang banyak rejeki, tetapi perlu dipikirkan kembali, Mampukah kita menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seorang anak? Jangan sampai menjadi orang tua yang dholim kepada anak, hanya karena semboyan banyak anak banyak rejeki.


Rezeki itu diusahakan dan dibarengi doa. Banyak anak, jika tidak ada usaha untuk memenuhi kebutuhan sang anak, bukankah sama saja bohong? Tidak ada harta yang jatuh bruk dari langit !


"Yakin Mas mau 5 anak? Jaraknya mau berapa tahun? Aku mau anak kita semua cukup mendapatkan kasih sayang orang tuanya Mas..". Ungkap Irene.


Dia yang haus kasih sayang orang tua, tidak menginginkan Anak- anaknya merasakan yang dia rasakan. Masa kecilnya memang bersama orang tua, tetapi kehilangan itu menghapus semuanya.


Dia sangat merindukan kasih sayang Ayah dan Ibu. Sangat!!!.


"Emm.. 4 sampai 5 tahun barangkali Yang.. Menurutmu gimana?". Obrolan mereka yang awalnya hanya candaan dari Rama untuk Irene, berubah menjadi perbincangan serius, di tengah hiruk pikuk orang yang menikmati senja di Alun- alun kota.


"Tapi, berapapun rejeki keturunan yang akan diberikan Alloh untuk kita, tetap harus selalu bersyukur Yang..".


"Betul Mas.. Dan yang penting, Semoga kita bisa selalu bersama dalam segala kondisi..".


Rama mengangguk. Dia menggenggam jemari tangan kanan Isterinya dengan erat.


Sepasang laki- laki dan perempuan itu menikmati senja di alun- alun kota dengan berpegangan tangan.


Pegangan tangan itu mengisyaratkan bahwa mereka ada untuk saling mendukung dan menguatkan. Siap untuk menghadapi apapun hal abu- abu yang ada di depan.


***


Setelah membersihkan diri bergantian dengan sang Isteri, Rama menyusul Irene yang rupanya sedang menonton berita.


"Sudah minum susu nya?". Rama bertanya ke sang Isteri yang terlihat fokus itu.


"Udah Mas.. Aku buat teh buat kamu loh di dapur.. Ambil sendiri yaa.. Heheee". Irene menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari siaran televisi.


"Iyaa.. Makasih ya Yang".


Rama membawa teh buatan Isterinya, meletakkan di meja depan tivi. Dia sendiri duduk lesehan. Sebuah laptop dan beberapa buku bahan ajar sudah menunggu untuk disentuh.


"Kamu di atas aja.. Di lantai dingin, nggak baik buat Ibu hamil". Cegah Rama begitu melihat sang Isteri akan mengikutinya duduk di lantai yang hanya beralaskan karpet tipis.


"Mas nggak keganggu suara tivi? Biar nanti Irene matiin..".


"Nggak usah.. Kamu temenin Mas aja, sambil nonton..". Bekerja dengan ditemani Isteri, menambah semangat calon Ayah tersebut.


"Muridmu yang waktu Itu ngasih makanan, siapa namanya?".


Rama sudah mulai menempelkan jemarinya ke tombol keyboard, saat Irene menyelesaikan pertanyaannya.


"Shiren". Rama menjawab singkat,


"Dia selama ini gimana?". Tanya Irene lagi.


"Ya Dia lumayan".


Rama menjawab sambil tetap mengetik. Dia tidak mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop. Percayalah, jika Dia mengalihkan matanya ke sang Isteri, dia tidak akan menjawab Ya Dia lumayan seperti barusan. Mata Isterinya tadi sempat membola mendengar jawaban vulgar suaminya itu.


"Oh lumayan..". Irene mengangguk- angguk. Hatinya mendadak panas dingin. Dia ingat masa SMA nya dulu, yang senang mencari perhatian Guru Matematikanya. Dan berujung pada sang Guru Matematika jatuh hati.


Apa kejadian seperti itu akan terjadi LAGI? Pada suaminya dengan murid yang berbeda?


Irene menggeleng, membayangkan apa yang ada dipikirannya yang begitu liar.


"Kenapa tanya tentang shiren?". Rama menoleh ke belakang, dimana Irene tengah duduk sambil melamun. Rama menggeleng, pantas Istrinya itu tidak bersuara. Rupanya tengah melamun.


"Mikirin apa sih Yang, serius amat...". Rama mencolek lengan Isterinya. Sambil tersenyum jahil. Irene mendengus kesal.


"Karena shiren itu lumayan, jadi Aku tanyaa!!!". Irene menjawab dengan ketus, kemudian bangkit dari duduk dan segera beranjak ke kamar Nenek, alias kamarnya mulai dari beberapa waktu yang lalu.


Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ada apa sih? Tanya lelaki dewasa itu dengan bingung.


.


.


Bersambung🤧