
Terimakasih yang sudah berkenan membaca dan memberikan dukungan untuk karya ini. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like dan komen setiap berkunjung yaah🥰🙏
.
.
Lanjut😘
.
.
"Bapak mengatakan apa ke teman saya?". Fifi bertanya sambil menatap mantan Guru SMA nya dengan kesal. Dia mengesampingkan hormatnya pada Guru SMA nya ini.
"Nggak bilang apa- apa Fi.. Ih kenapa kamu ke sini?". Irene sudah membuka wajahnya. Dia segera mengambil tisu dan menghapus air matanya. Rama hanya memperhatikan tingkah dua mantan muridnya itu. Dia speechless kali ini. Dia sendiri tidak mengerti mengapa Irene tiba- tiba menangis, padahal dia tadi hanya menanyakan kesanggupan Irene menjalani hubungan.
"Lah kamu kenapa nangis gitu? Aku kira Pak Rama ngapain kamu..". Fifi menggerakkan lehernya menatap wajah Guru Matematikanya, Dia tersenyum canggung.
"Maaf Pak..". Rama mengangguk saja. Fifi sudah beralih ke Irene. Dia berbisik,
"Hishh.. Aku jadi malu kan sama beliau.."
"Aku tu nangis bahagia, Fii.. Kamu malah ke sini..". Dua gadis itu saling protes. Mereka berdua menahan gigi agar suara yang keluar tidak terdengar oleh Rama. Nyatanya Rama masih bisa mendengar dengan jelas. Dia tidak tahan untuk tidak tersenyum.
"Ya sudah, Aku ke sana lagi ya.. Mari Pak..". Fifi hendak bangun, namun,
"Di sini saja tidak apa- apa, Fi...". Rama berkata, hal itu membuat Fifi mengurungkan niatnya.
"Nanti ganggu Pak..". Fifi menolak, Gadis itu juga sadar diri.
"Tidak apa.. Kami sudah selesai..". Rama tersenyum.
"Ah benarkah?". Fifi menatap sahabatnya, meminta pendapat, apakah harus pergi atau tetap di sini. Irene mengangguk pelan.
"Baiklah, Aku temenin kamu, Ren.. Hehe".
Fifi kembali duduk dengan tenang. Hening. Tidak ada pembicaraan di antara mereka bertiga.
'hhh Aku jadi obat nyamuk ini mah.. Ya Tuhaann...'. Fifi menggerutu dalam hati. Dia memperhatikan sahabat dan juga Mantan Gurunnya.
"Bapak masih mengajar Matematika?". Suara Fifi memecah keheningan. Irene mencolek pinggang sahabatnya.
'biarin..'. Fifi membalas tanpa bersuara.
"Masih, Fi.. Bapak keahliannya cuman matematika..". Fifi tertawa mendengar jawaban Pak Rama. Mereka bertiga tertawa. Gurunya itu masih suka melawak.
"Bapak dengar kamu sebentar lagi KKN.. Dimana?". Rama bertanya.
Irene hanya mendengarkan obrolan dua orang berharganya tersebut. Dia sesekali tersenyum.
"Ohh di sana.. Sukses buat kamu ya.. Semoga nanti Ilmu yang di dapat selama KKN bisa bermanfaat..".
"Aamiiin.. Terimakasih banyak Pak..".
Ketiga orang itu kemudian mengobrol banyak hal. Hubungan yang tadi baru saja dibicarakan oleh Rama dan Irene, sama sekali tidak di singgung. Lagipula, Mereka berdua masih malu menunjukkannya.
Langit yang tadi sempat mendung, sudah berubah cerah. Awan hitam sudah tersapu, terbawa angin. Sudah hampir 3 jam berlalu. Rama memanggi pelayan untuk meminta bill. Pelayan wanita yang tadi bertugas mengantar makanan kembali ke meja 25. Dia melirik Gadis berjilbab pink lagi, dan kali ini ada gadis lain. Dia tidak mengerti.
"Berapa mbak tagihannya sekalian sama meja nomor...". Rama melirik ke arah Fifi.
"Nomor 35, Pak..". Fifi menjawab cepat. Dia gercep sekali kalau ada kode di traktir. Irene tersenyum melihat kelakuan Fifi. Dia malu ke Pak Rama.
"Sama tagihan meja 35, mbak.. Berapa?".
".....". Mbak Pelayan menjawab sambil menunjukkan kertas tagihan. Rama mengambil dompet dan mengeluarkan uang sejumlah yang tertera.
"Terima kasih, saya ambilkan kembaliannya dulu..". Ucap pelayan dengan sopan.
"Buat mbak aja..".
"Ah, Terimakasih, Pak..". Pelayan itu segera undur diri. Meninggalkan meja nomor 25.
"Irene biar pulang dengan saya..". Irene yang sudah bersiap menuju motor Fifi pun menghentikan langkahnya. Dia menatap Rama.
"Biar saya antar Kamu, Ren..". Rama mengulangi kata- katanya.
"Baiklah..". Irene mendekati Fifi yang sudah naik ke motornya.
"Hati- hati di jalan, Fi.. ". Irene menerima helm yang diberikan Fifi. Sahabatnya itu hanya mengedipkan sebelah matanya, kemudian tersenyum jahil. Hehe. Irene menabok pundak Fifi karena sudah meledeknya.
Fifi melajukan kendaraannya. Sebelumnya, Dia mengangguk sopan ke arah Mantan guru Matematikanya.
Irene memakai helmnya, dan segera menaiki motor Rama. Gadis itu tampak sedikit kesusahan, Pasalnya dia menggunakan Rok.
"Lain kali pakai dobelan kalau sedang pakai rok..". Rama menasehati Irene.
"Eh iya Kak..". Irene tersenyum malu. Dia tadi benar- benar lupa tidak memakai dobelan celana dahulu. Siang tadi, Fifi sudah majang di Teras rumahnya. Sahabatnya itu sangat antusias dengan pertemuan Irene dan Rama hari ini.
Rama melajukan motornya. Dia mengendarai dengan kecepatan hanya 20 km per jam. Benar- benar seperti siput berjalan. Hehe.
"Mau membeli sesuatu lagi sebelum pulang?". Rama bertanya, Dia melirik ke arah spion motor. Dia bisa melihat wajah Irene di sana. Gadis itu membuka kaca helmnya.
"Emm.. Beli apa ya Kak.. Kayaknya masih kenyang..".
"Baiklah. Besok kita bisa jalan- jalan lagi... Kamu bisa beli apa yang kamu mau..".
Rama ingat pada foto yang kemarin dibagikan oleh Irene di Instagr@m. Enam plastik berisi penuh jajanan.
Rama melirik lagi ke arah spion, Dia bisa melihat ekspresi senang di wajah Irene. Dia tersenyum simpul melihatnya.
"Kamu wisuda tanggal berapa?". Rama bertanya.
"23 September Kak.. Kenapa?". Irene bertanya ingin tahu. Dia ingat dengan Janji Rama tempo dulu.
"Tidak apa.. Berarti nanti kamu kembali ke Semarang tanggal berapa?". Rama bertanya lagi. Dia melihat Irene yang memanyunkan bibirnya, kemudian menggerutu tanpa suara. Rama ingin tertawa melihat ekspresi itu, pasti Gadia itu tidak sadar bahwa wajahnya terlihat sangat jelas di spion.
"Tanggal 20 atau 19, Kak. Sebab nanti ada gladi bersih juga..". Rama mengangguk tanda mengerti. Dia sudah merencanakan selama seminggu ini, Dia akan membawa Irene jalan- jalan.
"Oh iya.. Ibu ingin bertemu dengan Kamu, Ren.. Besok bisa?". Rama menangkap ekspresi khawatir di wajah Irene.
"Eh.. em.. Bisa Kak.. Dijemput?".
"Tentu saja.. Besok saya jemput selepas mengajar..".
Suasana Hening. Mereka berdua menikmati perjalanan ini, 4 tahun sudah dilewati dengan susah payah, hari ini Mereka merasakan kebahagiaan. Irene, Gadis itu merasa bahagia karena Lelaki yang memenuhi seluruh hatinya akhirnya mengatakan bahwa Dia memiliki rasa yang sama, bahwa rasa sakit yang selama ini dirinya rasakan, hanyalah perasaan overthingking saja. Sedangkan Rama, Lelaki itu merasa bahagia karena akhirnya dia bisa mengatakan apa yang sedari dulu tidak pernah bisa dia katakan, Bahwa dia memiliki rasa yang sama.
Perjalanan dari saung kedungjati ke rumah tinggal Irene sebenarnya bisa ditempuh hanya dalam waktu 20 menit saja, Namun Karena kecepatannya mode siput, akhirnya 20 menit itu berubah menjadi 35 menit.
Rama menghentikan motornya di muka gerbang. Dia tidak jadi memasuki halaman rumah Irene karena ada sebuah mobil di halaman. Dia ingat mobil merah itu. Diapun berdecak kesal.
Ck..!!
"Sepertinya sedang ada tamu di rumahmu..". Irene sudah turun dari motor Rama.
"Iya, sepertinya begitu Kak".
"Saya pulang dulu..". Rama menstater motornya.
.
.
"Kakk ?!!". Irene meraih lengan kiri Rama.
.
.
Bersambung😘