
Terima kasih yang sudah datang untuk membaca, semoga suka dengan ceritanya🥰
.
.
Lanjut ya😘
.
.
Setelah 3 minggu meninggalkan tugas mengajar karena kecelakaan tak terduga itu, Aku akhirnya memutuskan untuk kembali mengajar. Ibu sempat melarangku, karena beliau menganggapku belum benar- benar pulih. Aku memberi alasan, jika Aku tak beraktifitas, Aku malah semakin lama pulihnya. Akhirnya Ibu melepasku dengan terpaksa. Ayah mengantarku sampai ke gerbang sekolah. Aku mengucapkan terima kasih kepada Ayah karena sudah mengantarku.
Aku berjalan pelan menuju ke Ruangan guru. Beberapa murid laki- laki menawarkan diri untuk membantuku, namun Aku menolak dengan halus, Aku sudah baik- baik saja, dan hanya perlu menahan ngilu di beberapa bagian tubuh.
Aku segera mendudukkan diri di kursiku.
Rekan guru yang sudah datang, menyalamiku dan menanyakan kabarku. Mereka turut prihatin dengan kecelakaan yang menimpaku. Mereka juga menanyakan bagaimana bisa peristiwa itu bisa terjadi. Aku menjawab seadanya, bahwa Aku kurang berhati- hati, sehingga menyerempet mobil.
Ahh Aku jadi merasa ngilu membayangkan kecelakaan itu, terutama saat mobil pickup menabrak dengan tanpa ampun. Aku memejamkan mataku, menolak mengingatnya.
"Murid yang akan mengikuti lomba mapel sampean juga habis kecelakaan, Pak..". Bu Suci berkata padaku sepertinya.
"Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Alloh dari peristiwa tidak terduga yaa.. Aamiiin". Rekan lain yang mendengar doa Bu Suci turut mengaminkan.
"Bagaimana kondisinya Bu?". Aku langsung bertanya, Aku tahu dengan pasti bahwa yang dimaksud adalah Irene.
"Baik sih Pak, lukanya juga sudah sembuh, pas bimbingan juga semangat sekali dia..". Bu Suci tersenyum, sepertinya mengingat momen yang dia lakukan dengan Irene.
"Ah begitu ya.. Terimakasih ya Bu.. sudah membantunya memahami materi untuk persiapan lomba". Aku berkata tulus. Tugas membimbing harusnya menjadi kewajibanku.
"Sama- sama pak..".
Aku segera mengambil bahan ajar dan presensi kelas, kemudian beranjak dari meja kerjaku, menuju kelas 12 di lantai 2 gedung sekolah. Hari ini jadwal perdanaku memberi pemantapan materi Ujian Nasional. Harusnya ini dimulai dua minggu yang lalu, namun tugas itu digantikan oleh Bu Suci, Bertambah padat sudah jadwal rekanku itu, sebab dia juga mengampu Fisika.
Setelah menyapa murid- muridku, Aku mulai memberikan materi, melanjutkan penjelasan yang sudah Bu Suci berikan. Aku juga menanyakan materi bagian mana yang masih dirasa sulit oleh mereka. Aku menjelaskan dengan terperinci, dengan kalimat yang sesederhana mungkin, agar mereka bisa paham.
"Kerjakan modul detik yang tryout ke 4 ya.. soal nomor 6, 7, 8, 10, dan 13". Aku memberi perintah.
(Fyi, Bagi pembaca yang sekolah SMP dan SMA nya seangkatan dengan penulis, pasti tahu modul detik- detik.. Dulu penulis untuk persiapan UN disuruh beli itu soalnya hahaa😁)
Aku berdiri di pintu kelas sambil menunggu siswa kelas 3 IPA menyelesaikan soal yang ada di modul. Aku meneliti sekitarku. Aku melihat ke arah kelas yang berseberangan dengan kelas tempatku mengajar saat ini. Sesaat kemudian, Aku melihat seorang siswi keluar dari kelas itu. Siswi itu melihat ke arahku sekilas, Aku bisa melihatnya terkejut saat melihatku. Dia kemudian menunduk dan melanjutkan langkah kakinya.
Aku menarik sudut bibirku melihatnya.
'Anak itu baik- baik saja, syukurlah'. Ujarku.
Aku kembali masuk ke dalam kelas, untuk membahas soal yang tadi sudah dikerjakan oleh murid- muridku.
"Selesaikan soal di tryout 4 yang tadi belum dikerjakan, pertemuan selanjutnya kita bahas ya".
"Iya Pak". Mereka menjawab kompak.
Aku keluar kelas 12 dan tidak kembali ke kantor. Aku ada jadwal di kelas yang tadi kupandangi dari pintu. Aku segera saja menuju kelas itu. Jika harus kembali ke kantor dulu, ngilu di tubuhku akan bertambah terasa. Ini saja Aku berjalan sambil sesekali meringis.
'Kenapa badanku rasanya seperti ini sekali yaa.. hmmhh'.
Aku sudah sampai di depan kelas 10A, namun sepertinya Aku harus menunggu dahulu di luar kelas, karena guru sebelumnya belum keluar dari ruangan.
"Silahkan pak.. saya tadi minta waktu sampean, 5 menit hehee". Guru Bahasa Inggris, rekanku, menepuk pundakku pelan. Aku tersenyum. Aku memasuki kelas yang sudah hening sejak Aku menapakan kaki ku di pintu kelas.
"Assalamu'alaikum, Bagaimana kabar nya semua? Dua minggu lebih tidak bertemu ya..". Aku memulai kelas,
"Baik pak..". Jawab mereka. Beberapa siswa bertanya tentang kondisiku dan bagaimana bisa peristiwa kecelakaan menimpaku. Akupun bercerita, dan mereka mendengarkan dengan serius. Sebenarnya Aku tidak ingin menceritakan kejadian itu, tetapi untuk memuaskan keingintahuan mereka, Aku harus menceritakannya.
Saat bercerita, Aku sesekali melihat ke arah Irene, Anak itu menghindar menatap mataku. Padahal biasanya, kemanapun Aku berjalan di kelas, dia akan melihat ke arahku tanpa menghentikan senyumannya. Aku melihat beberapa bekas luka di wajahnya. Dia terluka sama parahnya denganku, hanya saja dia tidak mengalami tidur sepertiku, jadi dia bisa pulih lebih cepat.
"Kita mulai materinya yaa.. Kemarin Bu Suci sudah menjelaskan sampai mana ya?". Setelah selesai bercerita, Aku memulai pelajaran Matematika. Aku menikmati prosesi mengajar ini, setelah dua minggu lebih Aku liburan. Yaa, memulai Aktifitas memang menjadi solusi terbaik agar lekas pulih dari sakit. Apalagi bercanda dengan murid- muridku, itu mengalihkan Aku dari kegundahan yang sebenarnya sedang menyelimutiku.🥲
***
Bel tanda istirahat sudah berbunyi, Aku segera mengakhiri kelas. Aku keluar dan berjalan pelan menuju ruangan guru. Aku sedang menuruni tangga menuju ke lantai satu, saat sebuah suara menginterupsiku.
"Maafkan saya, pak". Aku menengok ke belakang. Di ujung tangga ada Irene di sana. kulihat, Air mata di pipinya sudah menganak sungai. Raut wajahnya sudah menunjukkan dengan jelas bahwa dia merasa sangat bersalah. Aku sedikit kaget melihatnya, namun Aku segera menepisnya dan mencoba biasa saja.
"Ibu sangat mengkhawatirkan kamu, kamu bisa main ke rumah". Aku tidak menjawab permintaan maafnya, bagiku dia tidak bersalah. Kecelakaan itu murni karena kecerobohanku, Aku melamun saat itu.
Dia diam. Beberapa murid melewati kami, memandang dengan heran, namun mereka tetap berlalu dan menuruni tangga tanpa mencari tahu lebih lama. Irene sudah menghapus bekas air matanya.
'Aku tidak bisa apa- apa kan?'. Aku bertanya pada diriku, Yaa bisa apa Aku melihat dia menangis begitu.
"Kembalilah ke kelas". Anak itu tidak beranjak, akhirnya Aku yang terlebih dulu beranjak. Aku menghembuskan nafas dengan berat. Beberapa saat kemudian Aku sudah sampai di ruangan guru, Aku segera duduk di kursi kerjaku.
Wajah Irene yang sedang banjir air mata saat peristiwa kecelakaan itu terjadi berkelebat di pikiranku. Itu yang terakhir ku ingat, sebelum akhirnya Aku bisa bangun setelah seminggu lebih tertidur.
.
.
Apakah rasa bersalahnya sedalam itu?
.
.
Bersambung😘