360 DAYS

360 DAYS
tak terduga



Terimakasih yang sudah berkenan membaca🥰


.


.


.


Lanjut yaa..


"Jadi Irene juara satu? Anak itu hebat sekali yaa..". Ibu terlihat antusias sekali saat Aku menjawab pertanyaannya tentang Irene. Aku, Ibu, dan Ayah sedang berada di ruang tengah, menonton acara tv. Ayah yang duduk berdampingan dengan Ibu, tidak bergabung dengan obrolan Aku dan Ibu, Beliau sedang serius mendengar berita.


"Iya begitulah Bu". Jawabku.


"Besok hari minggu kan? Minta dia main ke sini, Nak.. Ibu ingin mengobrol sekalian memasakkan sesuatu untuk dia". Aku yang sempat beralih menonton tv, segera memutar kepalaku menatap Ibu lagi. Ya ampun Ibuku🥴.


'Bagaimana ini menolaknya'. Aku merasa gelisah.


"Murid Rama itu kan anak gadis, Bu.. Nggak enak lah kalo sering main ke rumah kita yang ada Bujang nya". Ayah yang ku kira fokus menonton, ternyata turut mendengarkan pembicaraanku dan Ibu.


Tapi tunggu dulu, Kenapa pendengaranku mengatakan bahwa Ayah sedang menggodaku yaa? Hmmm..


"Ibu kan ingin sekali punya anak perempuan, Yah.. Ibu senang bisa mengobrol dengan Anak itu". Ibu membela diri, sepertinya keinginan untuk mengajak ngobrol Irene tidak surut.


"Itu dua menantu kita kan sama saja anak Perempuan Ibu kan? Mereka juga sering ke sini, malah bawa cucu". Ayah berkata lagi. Entah membela Aku atau apa.


"Beda sama Irene, Yah.. Menantu Ibu kalau diajak ngobrol nggak nyambung". Ibu mencebik. Aku harus mencari aman untuk menghindari paksaan dari Ibu. Aku menyelinap masuk kamarku. Ayah dan Ibu masih berargumen. hhh


***


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum..". Aku mendengar suara pintu depan di ketuk. Aku saat ini sedang berada di dalam kamar. bersantai di hari minggu. Hehe, Aku mendengar suara langkah kaki melewati kamarku, sepertinya itu Ibu yang akan membuka pintu.


"Waalaikumsalam". Nah itu terdengar juga suara Ibu menjawab salam, dan pintu berderit.


"Waah Nak.. Ibu baru kemarin ingin kamu ke sini, kamu datang beneran".


Aku bangun dari tiduranku begitu Ibu berkata demikian. Apa itu Irene? Panjang umur sekali anak itu.. Batinku..


'Jangan- jangan anak itu punya ikatan batin dengan Ibu? wahh posisiku bukan lagi anak bungsu ini'. Aku melawak untuk diriku sendiri.


Aku sudah tidak mendengar suara Ibu dan Irene, mungkin mereka masuk ke area dapur. Hanya sesekali Aku mendengar Ibu tertawa, senang sekali kedengarannya.


'Baiklah, Aku akan di kamar saja seharian ini'. Aku memutuskan.


Aku ingat kata- kata ayah saat kemarin di ruang tengah. Yaa Irene anak gadis, dan Aku lelaki dewasa, kondisi seperti ini bisa saja menimbulkan gosip tidak enak. Lagipula, Aku dari awal melihat tingkah Irene terhadapku, membaca diarynya, dan beberapa hari yang lalu saat Aku untuk pertama kali memboncengkannya, Aku takut mengenai suatu hal. Aku takut, jika Aku mendekat, dia akan menafsirkan lain tentang kedekatan ini. Aku ingin hubungan ini murni hanya hubungan Guru dan murid. Yahh walaupun Aku tidak yakin benar, bagaimana perasaan anak itu terhadapku, Tetapi Aku juga pernah di usia seperti Irene kan?


Inilah alasanku, mengapa Aku tidak begitu menerima saat Ibu menitipkan makanan untuk Irene melalui Aku. Aku memang berempati dengan dia yang sudah yatim piatu, Tetapi Aku juga perlu mempertimbangkan bagaimana penerimaan Irene tentang empatiku kan?


'Hishh sudah lah.. Sebaiknya Aku istirahat saja'. Kalau mengingat jadwal untuk esok hari, Aku rasanya sudah capek duluan. hhh,


***


"Nak.. Ramaa.. kamu dengar Ibu?". Aku terlonjak kaget begitu mendengar suara Ibu dari balik pintu kamarku. Aku mengucek mata, sambil menguap lebar.


hmm, ada apa dengan Ibu? Aku membatin. Segera Aku membuka pintu, sebelum Ibu kembali menggedor pintu kamarku.


"Iya bu, Rama baru bangun ini". Aku bertanya, sambil menahan untuk menguap.


"Ibu minta tolong antarkan Irene pulang yaa.. Dia bilang akan naik angkot, tapi Ibu kasihan.. Jadi Ibu bilang kamu akan mengantar dia.. Cepat siap- siap..". Ibu terlihat memaksa. Tanpa menunggu Aku menjawab, Ibu berlalu menuju teras.


Aku tidak pernah melihat Ibu memaksaku seperti itu untuk mengantar seseorang, terhadap teman perempuanku yang pernah main ke rumah.


Hanya Raisa, teman perempuan yang pernah main ke rumah. Aku menertawakan diriku sendiri. Yaa.. Ibu tidak memaksa karena Raisa naik kendaraan sendiri.


Aku bergegas menuruti permintaan Ibu, nanti biar Aku bilang ke Irene tentang ketidanyamananku. Agar dia juga bisa mengerti, daripada segala sesuatu berkembang tidak terkontrol.


Irene sudah berpamitan kepada Ibu, dan menaiki jok belakangku. Aku segera melajukan motor dengan kecepatan sedang. Aku mulai memasuki jalan raya yang padat kendaraan, akhir pekan wajar jika banyak kendaraan sliweran. Tidak ada obrolan. Aku sendiri sedang sibuk dengan pikiranku, bagaimana cara memulai nanti, saat aku mengutarakan ketidaknyamananku.


Bagaimana kalau ternyata Aku hanya salah paham? Aku jadi meragu.


"AWASS PAKK...!!!". Irene mencengkeram lenganku tiba- tiba, Aku kaget dan segera tersadar dari lamunan. Namun semua terlambat, sebuah mobil pickup menubruk motorku dari arah depan. Aku masih setengah tersadar, saat merasakan tetesan air hangat menimpa wajahku. Aku mengerjapkan mataku, Aku melihat wajah Irene dipenuhi air mata, sebelum akhirnya Aku tidak ingat apa- apa lagi.


***


'Maafkan saya.. harusnya Bapak tidak perlu mengantarkan Saya'. Aku mendengar suara itu dalam mimpiku. Itu suara anak itu, suaranya menyedihkan sekali.


'Ini bukan salahmu, Nak.. Istirahatlah di rumah..'. Ahh itu suara Ibu. Sunyi lagi, tidak ada suara apapun yang terdengar setelah itu.


***


'Saya harap Bapak segera sadar, Saya sebentar lagi lomba Pak'. Aku mendengar suara anak itu lagi. Terdengar suara tangis tertahan setelah kalimat itu terucap.


'Saya menyukai Bapak'.


Degg


Gelap yang beberapa waktu mengelilingiku, berubah menjadi silau di mata. Aku mulai membuka mata, Aku tahu sedang berada di rumah sakit sekarang. Tetapi berapa lama yaa?. Ahh Aku jadi pusing. Aku menatap sekelilingku, sepi, ku kira tadi ada Irene. Batinku.


Beberapa detik kemudian, Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan, disusul dengan Ibu dan Ayah. Dokter memeriksa kondisi tubuhku.


"Syukurlah, anak Ibu dan Bapak sudah tersadar, jika 24 jam kedepan kondisi pasien normal, sudah bisa rawat di rumah". Kata dokter.


"Terimakasih dokter". Ucap Ayah.


Ibu menghampiriku, dan memegang tanganku dengan erat. Aku melihat mata Ibu sembab, sepertinya habis menangis dalam waktu yang lama.


"Bagaimana Irene, Bu?". Aku bertanya dengan lemah. Mulutku reflek mengucapkan pertanyaan itu.


"Irene baik- baik saja..". Ibu mengusap wajahku dengan lembut. Aku tersenyum dengan bersusah payah. Kepala ku rasanya sakit sekali.


"Kamu istirahatlah, Nak..". Ucap Ibu sambil membenarkan posisi selimutku.


.


.


"Apa tadi Irene ada di sini, Bu?". Pertanyaan itu lagi terucap tanpa dapat ku kontrol.


Ibu mendongak beralih menatapku. Dalam.


.


.


.


Ada apa dengan Ibu?


Bersambung😘


(Maaf kalau adegan kecelakaannya kurang dramatis ya hehe, Itu Aku nulis pun sambil deg- deg an, soalnya Aku parno sekali soal kecelakaan😢)