
Terimakasih untuk semua yang sudah mendukung karya ini🥰🙏
.
Lanjut ya😘
.
.
Hari yang ditunggu oleh Irene dan keluarganya, tepat tanggal 23 September, gadis itu diwisuda. Sejak jam 3 pagi, Irene sudah bersiap. Jojo yang belum beruntung ikut wisuda periode september, begitu antusias mengikuti setiap persiapan Irene. MUA yang merias Irene adalah rekomendasi dari Jojo.
"MasyaAlloh.. Kamu cantik banget Beb". Jojo menatap sahabatnya itu begitu takjub. Selama 4 tahun bersama, Irene tidak pernah sedikitpun mengoleskan make up tebal di wajahnya, bahkan jika diingat- ingat, Jojo tidak pernah melihat Irene memakai bedak, hanya pelembab dan lipstik dengan warna pink yang tidak begitu kentara.
"Biasa aja lah.. cantik karena dipoles hehe". Ucap Irene. Gadis itu menatap wajahnya di depan cermin, memang benar, itu tampak seperti bukan dirinya. Cantik.
"Udah ayok.. bentar lagi jam tengah 7 nih..". Seperti halnya wisudawan lain, Irene manaiki becak untuk menuju Universitas XXX. Kakek dan Neneknya sudah berada di gedung auditorium, tadi Raka sudah mengabari Irene.
"Sebelum bener- bener wisuda, Aku mau ngucapin selamat dulu ya Beb.. Semoga Ilmu yang didapat berkah dan bermanfaat untuk kamu dan orang di sekelilingmu..". Kedua gadis itu saling menautkan tangan, memberi dukungan.
"Makasih ya Jo.. Doa yang sama buat Kamu..". Irene tersenyum dengan tulus.
Prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat. Irene yang menjadi peraih IPK tertinggi di Fakultas Hukum, diwisuda langsung oleh Rektor Universitas XXX bersama beberapa wisudawan lain yang juga meraih IPK tertinggi di Fakultas masing- masing.
(Btw, temen othor pas hari wisuda tahun 2018, datang ke kampus naik becak, jadi ku masukin ke sini. Soal peraih IPK tertinggi sefakultas, ada juga temen othor, jadi dimasukin buat cerita. Kalau tanya othor sendiri, Aku wisuda 2019 bulan februari, nggak selisih lama lah yaaa hehehe🤭)
Begitu selesai, Irene segera keluar dari gedung Auditorium bersama Kakek dan Neneknya.
Bagitu keluar dari pintu kedua, seperti simulasi kemarin saat gladi, Irene mengedarkan pandangannya, mencari Jojo. Sebab gadis itu tadi berkata, nanti Dia akan menunggu di depan gedung membawa buket bunga palsu. Irene tersenyum mengingat ucapan temannya itu.
Pandangan Mata Irene berhenti pada sosok tak terduga di depan sana, sedang berdiri dengan gagah, membawa sebuket besar bunga mawar merah. Seolah waktu berjalan melambat, Lelaki di depan sana berjalan menghampiri Irene yang masih terpaku dengan mata yang berkaca- kaca.
"Selamat untuk wisudanya, Sayang".
Air mata yang sudah menumpuk itu luruh begitu saja dari kelopak mata Irene.
***
POV Rama:
Selepas menyusul Irene ke Semarang dan mendapatkan waktu yang tepat untuk melamar Irene, Aku menjadi lega. Kesalahpahaman 4 tahun lalu, tidak akan terjadi lagi. Aku sudah mengatakan pada keluargaku bahwa selepas wisuda, Irene sudah siap untuk ku lamar. Mereka semua bahagia dengan kabar itu.
Besok adalah hari wisuda Irene, Aku akan memberikannya kejutan untuk datang ke hari spesialnya itu. Aku ingat, Irene marah begitu Aku tidak memberi jawaban yang meyakinkan soal kedatanganku di acara wisudanya. Setelah hari itu, Aku teringat janji yang hampir Aku lupakan. Aku pernah berjanji bahwa Aku akan jadi orang pertama yang datang di saat dia menyelesaikan pendidikannya.
Aku merutuki ingatanku sendiri, pantas saja Irene sangat kecewa padaku, rupanya Aku hampir melupakan hal krusial itu.
Aku berangkat ke Semarang seorang diri, sehari sebelum acara wisuda Irene. Ibu mengatakan padaku untuk pergi ke Semarang menaiki Mobil Kakak sulung, seperti beberapa hari yang lalu, saat Aku menyusul Irene ke Semarang.
"Rama pakai motor saja, Bu.. tidak apa". Tolakku.
Sore hari Aku berangkat ke Semarang. Aku sudah menghubungi kawanku yang berdomisili di Semarang, tujuanku tentu saja untuk numpang istirahat. Hehe.
Hingga tibalah Aku di waktu sekarang, berdiri di depan Auditorium tempat Irene wisuda. Beberapa wisudawan sudah keluar dari pintu, mataku terus memandang ke arah pintu kedua, hingga beberapa saat kemudian, sosok yang ku tunggu muncul bersama Kakek dan Neneknya.
"Selamat untuk wisudanya, Sayang". Aku menyerahkan buket besar bunga mawar merah kepada Irene.
"Kenapa menangis?". Aku mengelap air mata yang sudah mengalir di pipinya. Irene hanya menggeleng, Dia mendekap bunga itu. Aku tersenyum.
"Apa Aku terlambat?".
"Tidak sama sekali, Mas.. Terima kasih sudah menepati janji..". Aku menarik Irene ke dalam pelukan.
"Malu Mas.. dilihatin orang- orang". Irene berbisik.
Aku segera melepaskan pelukanku dan menatap sekeliling. Benar saja, Kami menjadi pusat perhatian beberapa wisudawan dan keluarganya. Tampak juga keluarga Irene, dan tunggu dulu, Itu kan murid ku?😢
Anak lelaki yang berdiri bersama keluarga Irene tersenyum lebar ke arahku.
***
Irene mengajak seluruh keluarganya ke sebuah restoran untuk makan- makan. Aku tak luput dari ajakan Irene. Karena Aku kemari menggunakan motor, Irene ikut bersamaku menggunakan motor, sedangkan keluarga besarnya menggunakan mobil.
"Jadi Raka itu sepupumu?". Di perjalanan menuju restoran, Aku menyempatkan diri untuk bertanya. Muridku itu tadi menyalamiku, namun tidak berkomentar apapun.
"Iya Mas.. Dia Kakak sepupu.. Kenapa?".
"Dia tadi pasti lihat pas Aku meluk Kamu ya". Aku jadi merasa khawatir.
"Iya tadi Raka lihat Mas.. memang kenapa?".
"Tidak apa- apa..". Jawabku. Jika nanti ada kabar soal tingkahku yang memeluk Irene, sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah ulah muridku, Raka. Aku jadi merutuki diriku sendiri, bisa- bisanya main peluk di tempat umum. Hmmm...
Beberapa menit kemudian, Kami sampai di restoran yang sudah dipesan oleh Irene. Gadis itu rupanya sudah menabung jauh- jauh hari untuk momen ini. Aku merasa bangga padanya. Dia gadis yang sangat mandiri.
"Joo.. makasih yah udah booking tempat ini buat Aku dari jauh- jauh hari..". Aku mendengarkan Irene yang tengah mengobrol dengan Jojo.
"Sama- sama, Ren..".
Aku mengobrol dengan keluarga Irene, Mereka semua sudah mengetahui rencanaku untuk memperistri Irene. Dan mereka membahasnya di sini. Aku jadi sedikit salah tingkah, mengingat di sini ada muridku juga. Namun Aku bersikap seolah biasa saja. Anggap saja dia sepupuku, Karena dia sepupu Irene, bukankah itu berarti dia sepupuku juga?.
"Pak Rama nanti kasih undangan khusus untuk kelas sebelas IPS yaa..". Raka bergabung ke obrolan, Aku tersenyum menanggapinya. Itu adalah kelas Raka, dan Aku walikelasnya.
"Boleh ya Mas.. Tapi amplopnya sendiri- sendiri.. Jangan patungan!". Aku belum sempat menjawab, Irene sudah mendahuluiku. Dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Semua tertawa mendengar ucapan Irene, begitupun Aku.
"Yee.. soal amplop aja cepet". Raka memanyunkan bibirnya.
"Memang Kapan Ren?". Jojo yang duduk di sebelah kiri Irene turut bertanya.
"Belum tau Jo.. Lamaran aja belum..". Jawaban Irene membuatku tertawa kecil.
Aku meraih tangan kanan Irene yang berada di pangkuannya. Irene menatapku dan tangan kami bergantian, namun Aku hanya tersenyum seolah Aku tidak melakukan apapun. Biarkan saja, tidak ada yang lihat. Hehee.. (eling siro pak Rama.. Gusti Alloh mboten sare..😁)
.
Bersambung😘