360 DAYS

360 DAYS
Membeli Cincin



Terimakasih yang sudah membaca dan selalu memberi dukungan untuk karya ini🥰


.


Lanjut ya😘


.


.


Pov Rama:


Aku kembali mematut penampilanku di cermin. Wajah lumayan tampan, dan OKE. Aku tertawa kecil. Aku merasa seperti kembali menjadi remaja. Dulu sewaktu remaja, Aku pernah menyukai seseorang, namun belum pernah Aku mencapai tahap seperti Aku dan Irene ini. Ini benar- benar pengalaman pertamaku, dan Aku baru merasakannya saat umurku sudah 31 Tahun. Tidak terlambat kan? Hehe..


Aku menyemprot sedikit wewangian, setelah memastikan penampilan Oke dan uang cukup di dompet, serta persediaan di kartu ATM, Aku segera keluar dari kamar.


Aku berpamitan pada Ibu dan Ayah yang kebetulan sedang duduk santai di ruang tamu.


"Hati- hati di Jalan Nak.. Salam untuk Irene yah..". Ucap Ibu. Aku mengangguk, dan segera berlalu. Aku sangat bahagia, Ibu sudah mengikhlaskan hubunganku dan Irene. Tinggal dua langkah lagi, Aku akan benar- benar memiliki gadis itu seutuhnya. Lamaran kemudian Ijab qabul. Membayangkan hal itu membuatku tersenyum sendiri.


Aku segera memacu motorku dengan kecepatan sedang, menuju rumah Kakek. Pagi tadi sebenarnya Aku ingin meminta Irene untuk menunggu di Rumah Bibinya, biar dekat, dan Aku tidak membutuhkan waktu lama menjemputnya. Tetapi mengingat siapa yang akan mengantar Irene, Aku tidak jadi meminta hal itu. Lagi pula jalan- jalan sore sepertinya lebih menyenangkan.


Setelah 45 menit berkendara di jalan aspal, Aku akhirnya sampai di halaman Rumah Kakek. Aku melihat Irene sudah siap di teras, seperti biasa, dia nampak cantik.


Aku turun dari kendaraan, untuk meminta izin pada Kakek Irene yang kebetulan sekali sedang duduk di Teras.


"Assalamu'alaikum Kek..". Aku mencium tangan itu. Beberapa menit Aku dan Kakek mengobrol, sebelum akhirnya Aku meminta Izin membawa Irene pergi sebentar.


"Mau kemana kita, Kak". Tanya Irene, saat kami sudah memasuki jalan raya. Aku belum mengatakan padanya tujuanku membawa dia pergi. Aku ingin memberi dia kejutan. Hehe..


"Katanya mau jalan- jalan.. kita ngukur jalan aja". Kalimatku berhadiah tepukan keras di punggungku.


"Hahaahaa".


"Hishh". Irene memanyunkan bibirnya. Haha menggemaskan sekali dia.


***


Pov Author:


Rama menghentikan motornya di depan sebuah toko emas. Beruntung masih ada toko buka. Irene tampak bertanya- tanya di dalam hati, mengapa dia dibawa ke toko emas.


"Pilih cincin yang kamu suka..". Suara Rama menyadarkan Irene. Gadis itu segera mengikuti langkah kaki Rama memasuki toko emas. Tampak olehnya berjejer perhiasan di etalase toko. Mata gadis itu berbinar- binar.


"Mba.. cincin yang modelnya kluwer- kluwer ada?". Irene langsung bertanya pada si penjaga toko, begitu dia tidak melihat cincin yang dia senangi.


(Nb: Kluwer- kluwer berasal dari bahasa jawa kurang lebih artinya itu melingkar lingkar, seperti sulur yang merambat).


Penjaga toko langsung mengambilkan koleksi toko emas yang lainnya. Dia menunjukkan 5 buah cincin dengan model yang diminta oleh Irene. Irene melirik ke arah Rama yang sejak tadi ternyata memperhatikan ekspresi antusias Irene.


"Kenapa?". Rama bertanya.


"Bagusan yang mana ya kak?". Irene mencoba kelima cincin tersebut. Semua bagus menurutnya, jika boleh dia ingin semua cincin kluwer kluwer itu. Hehe..


"Ini bagus..". Rama menunjuk sebuah cincin. Irene mengangguk.


"Yang ini yah mbak..". Akhirnya Irene memutuskan.


"Baik mba.. Tunggu sebentar, saya proses yah". Ucap si pelayan toko dengan ramah.


"Mau kemana lagi Kak?". Setelah urusan membeli cincin selesai, Pasangan itu segera meninggalkan toko emas.


"Ke pasar sore kayaknya bagus ya.. Disana banyak penjual jajan". Rama melirik Irene dari kaca spion.


"Boleh juga Kak..". Irene menjawab dengan antusias. Kesukaan gadis itu adalah berburu makanan, entah itu dia sudah makan nasi atau belum, jika ditawari jajan, dia mau saja.


Rama segera melajukan motornya menuju paaar sore. Tempat itu tidak begitu jauh dari toko emas. Pasar sore itu sebenarnya lebih cocok disebut pasar jajan, karena penjualnya sebagian besar menjual makanan atau camilan.


"Eh Kak.. yang itu kayaknya enak yaa...". Irene menunjuk sebuah gerobak penjual makanan. Saat baru turun dari motor, matanya sudah mencari- cari makanan yang dipikirnya enak.


"Boleh, ayo kesana..".


"Kak.. besok pas Aku wisuda, ikut ke Semarang nggak?". Keduanya tengah menunggu penjual membuatkan pesanan mereka, dua buah lumpia boom ukuran super jumbo.


"InsyaAlloh.. tapi tidak janji ya..".


Mendengar jawaban Rama, Irene nampak kecewa. Dia berpikir, apa perlu mengingatkan janji lelaki di depannya ini?. Ah.. tidak usah biarkan saja, dia pasti lupa!


Hei jika lupa seharusnya diingatkan, Ren..


Males lah..


Gadis itu bedebat dengan dirinya sendiri. Membuat moodnya menjadi tidak bagus. Irene mengalihkan kekecewaannya dengan mengirim pesan kepada kedua sahabatnya di grup mereka. Grup itu di buat oleh Jojo beberapa hari yang lalu, grup unfaedah hanya untuk curhat atau ghibah orang. hehe..


"Sedang chat sama siapa? keliatannya asik sekali..". Merasa dicuekin, Rama akhirnya menegur Irene. Gadis itu langsung mendongak.


"Eh?.. Ini sama Jojo dan Fifi..". Jawab Irene. Dia kembali menatap hapenya. Malas juga mengobrol dengan Lelaki di depannya.


"Marah?". Rama mengambil hape yang tengah dipegang Irene.


"Hish.. Marah kenapa coba? yang ada situ yang marah!". Irene membalas dengan ketus. Rama terdiam mendengar Irene yang berbicara ketus padanya. Baru kali ini dia melihat gadis di depannya seperti itu.


'Lagi sebal malah diajak ribut'. Batin Irene. Dia membuang pandangan ke arah lain, melihat ramainya pengunjung pasar sore. Penjual lumpia boom datang menyajikan pesanan.


"Terimakasih Pak..". Ucap Irene pada penjual lumpia. Gadis itu segera mengambil garpu dan pisau. Dia memakan makanannya dalam diam.


***


POV Rama:


Jam 8 malam, Aku baru saja sampai di rumah, setelah sebelumnya mengantar Irene ke rumahnya. Aku meletakkan paperbag mini berisi cincin yang tadi Irene pilih, di atas meja. Saat Aku memasuki rumah, Kedua orang tuaku sedang mengobrol santai di ruang tamu. Ibu menanyakan tentang cincin lamaran, Aku menjawab cincinnya sudah siap.


Setelah membersihkan diri, Aku berbaring di kasur. Aku mengambil ponsel di waistbag ku. Ponsel Irene ku bawa. Sengaja tidak ku berikan, Gadis itu juga sepertinya lupa hapenya masih berada di penguasaanku.


Aku membaca grup chat Irene dengan kedua sahabatnya. Chat terakhir sepertinya membahas tentang Aku yang menyebalkan dalam pandangan Irene. Aku tertawa sendiri.


"Ternyata ini grup ghibah ya..". Aku geleng- geleng kepala, saat membaca beberapa chat sebelum hari ini.


Aku men-scroll ke bawah, daftar chat Irene. Sebagian besar chat dari grup yang sengaja dibisukan notifikasinya oleh Irene.


Mataku menangkap sebuah nama di antara barisan chat Irene. Kak Taqy. Jempolku segera saja mengekliknya, tanpa berpikir panjang. Aku membaca obrolan mereka dari Awal hingga terakhir beberapa hari yang lalu. Sepertinya saat Irene pulang kampung waktu itu.


'Mereka sering jalan?'. Batinku. Aku merasa cemburu mengetahui mereka sebelumnya sering jalan bersama.


'Jika saja waktu itu tidak ada kesalahpahaman, mungkin tidak akan ada lelaki itu di hidup Irene'. Aku menghembuskan nafas berat.


Drttt drtttt... Sebuah pesan masuk dari kontak bernama Kak Taqy. Aku yang masih membaca pesan mereka, langsung melihat pesan yang dikirim ke Irene.


Kak Taqy:


Assalamu'alaikum..


Kapan balik ke Semarang, Biar nanti Kakak jemput ya..


Aku mengetatkan gigi gerahamku. Geram.


.


.


Bersambung😘


(Halo.. Maaf ya karena baru sempet update Rama-Irene lagi. Kemarin pas hari Rabu, suami ngajak mudik ke SP, baru pulang lagi hari jum'at. Posisi susah sinyal di sana, Hehe..🙃🙏)