
Terimakasih yang untuk pembaca yang sudah memberikan dukungan🥰
.
.
Lanjut yaa..
.
.
"Mas.. Besok Jojo katanya pengin ngajak Aku jalan..". Irene berbicara, sembari tangannya tetap memijat punggungku.
"Memangnya dia sedang pulang?". Tanyaku. Mendengar nama sahabat isteriku itu, Aku jadi teringat lelaki itu. Aku baru mengetahui jika Lelaki itu dan Jojo bersaudara, pantas saja Irene ku dan Lelaki itu bisa dekat.
"Iya Mas.. Dia baru sampai tadi sore.."
"Mau jalan kemana memangnya?" Tanyaku dengan nada sedikit tidak suka.
"Ya terserah si Jojo lah, Mas.. Masa Aku yang diajak mau protes.. Kalo anak itu biasanya sih ngajaknya makan hehee". Irene bergumam sambil tertawa kecil. Mau tidak mau Aku ikut tertawa, Karena Aku jadi ingat jika Irene pun sama. Senang jika diajak berburu makanan.
"Kayak kamu yaa".
"Jadi boleh nggak, Mas?". Tanya Irene lagi, kali ini lebih mendesak.
"Bosen ya di rumah? Kan ada Ibu..". Tanyaku lagi. Irene menghentikan gerakan tangannya. Kemudian ku dengar dia menghela nafas, setelah itu dia kembali memijat pundakku.
"Nggak juga sih, Mas..".
Suasana kamar menjadi hening. Aku tidak merespon lagi, begitupun Irene, dia juga mendiam.
Setelah cukup lama Irene memijatku, Dia meminta izin untuk segera tidur. Dia bilang sangat mengantuk sekali.
"Tidur Mas.. besok kamu mengajar di jam pertama lagi kan?". Irene yang tidur memunggungiku menggumam, Dia tahu Aku belum tidur. Bagaimana Aku bisa tidur jika Aku masih kepikiran dengan permintaannya barusan.
Aku memang sudah memiliki Irene seutuhnya. Dia isteriku sekarang. Harusnya Aku tidak perlu khawatir akan ada yang merebutnya dariku. Hmmm..
Aku merapat, memeluk Irene dengan erat. Kemudian menyusulnya ke alam mimpi.
***
POV AUTHOR:
Seperti pagi sebelum- sebelumnya, Keluarga Rama selalu sarapan bersama. Rama melirik isterinya yang duduk di hadapannya. Irene nampak berbeda pagi ini. Dia tidak secerah sebelumnya. Rama tahu, isterinya itu sedang merajuk, karena semalam dirinya tidak memberikan izin untuk jalan- jalan dengan Jojo.
Selesai sarapan, Rama berpamitan pada orang tuanya dan juga isterinya untuk pergi berkerja.
"Baik- baik di rumah yaa..". Ujar Rama pada isterinya saat mereka berada di teras.
" Iya Mas.. Hati- hati di jalan". Irene meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan hormat.
Sepeda motor Rama sudah melaju meninggalkan halaman rumah keluarganya.
Irene memasuki rumah, dan segera menuju kamar. Dia mengunci pintu dan segera menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Tidak berapa lama, hape nya yang berada di atas meja kamar berdering. Irene segara meraih hapenya dan melihat siapa yang menelpon. Jojo.
"Heyyyy gimana? Jadi jalan- jalan nggak?", Suara di seberang telpon membuat Irene semakin sedih saja.
"Hmm.. Jalan sendiri aja lah Jo.. Aku males". Irene menjawab dengan lesu. Dia tidak benar- benar malas, Dia hanya sedih karena suaminya tidak mengizinkannya jalan- jalan. Padahal, Jojo tidak selalu bisa pulang ke kampung. hmm.
"Apaa?"
"Masih capek yaa? Penganten baru mah capek terusss hihihiiiii". Jojo tertawa ngakak dari seberang telpon. Mendengar ucapan Jojo, Membuat Irene melongo.
"Heeeyyyy sembarangan sekaliii". Aku menyembur jojo. Tidak sopan Dia.
"Hahaaha ketahuan...". Jojo belum menghentikan tawanya.
Aku memutar bola mataku, malas.
"Udah nggak usah males- males gitu.. Aku jemput ke rumah mertuamu yaa...". Setelah berhenti tertawa, gadis itu segera memberikan tawaran pada Irene.
"Aku nggak bisa, Joo.. Dah kamu jalan- jalan aja sana.. Mumpung lagi di kampung kan?". Ucap Irene dengan putus asa. Dia tidak mungkin mengatakan jika suaminya tidak mengizinkan bukan?
"Hishh.. Dah siap- siap aja. Aku otewe nih.. Bye !!". Jojo memutuskan sambungan telepon. Irene mendengus sebal. Sahabatnya itu suka semaunya. Hmhh.. Sudahlah biarkan saja..
Irene kembali terlentang di ranjang. Dia memejamkan matanya. Sedih. Meminta izin untuk jalan- jalan dengan sahabat saja seperti ini, lebih- lebih jika meminta izin untuk bekerja??? Irene merenung.
***
Tok Tok..
Suara ketukan di pintu kamar membangunkan Irene dari tidurnya yang baru beberapa menit.
"Nak.. Ada temanmu di depan". Rupanya Ibu.
"Iya Bu". Irene menjawab dengan lemas. Dia segera bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan dengan malas ke arah pintu. Dia sudah tahu siapa teman yang dimaksud oleh Ibu.
"Sedang tidur?". Ibu bertanya begitu Irene sudah membuka pintu kamar.
"Iya Bu..". Jawab Irene singkat.
"Temui temanmu..". Irene mengangguk merespon ucapan Inu mertuanya.
Irene segera menuju ruang tamu, Dia melihat Jojo yang duduk dengan santai di sofa single di ruang tamu. Tangannya memainkan hape.
"Dibilangin lagi males kok.. Ngeyel dateng ke sini". Irene langsung duduk di sofa sebelah Jojo. Matanya menatap sebal ke arah Jojo. Sahabatnya itu hanya nyengir.
"Aku suruh jalan sendiri gitu? Tega kamu yaa.. Mentang- mentang sudah ada suami...". Jojo merengut.
Irene hanya menghela nafas.
"Mau minum apa? Aku bikinin ya.." Irene bangkit dari duduk,
"Apa aja deh Beb..". Irene berlalu menuju dapur dan membuatkan dua gelas jus jeruk untuk Jojo dan dirinya sendiri.
"Jadi bener nggak bisa pergi nih?". Jojo menatap sahabatnya.
"Iyaa.. Benerr".
"Hemmmhhh.. Yaudah deh.. tapi jangan ngusir Aku dari rumah mertuamu loh.. Aku mau main disini sampe bosen". Ucap Jojo akhirnya, yang membuat Irene menarik sudut bibirnya.
"Terserah laah.." Dua gadis yang bersahabat karena menempuh pendidikan yang sama dan ngekos di temoat yang sama itu pun segera larut dalam obrolan.
.
.
Bersaambung😘