
Terimakasih atas dukungan pembaca sekalian untuk karya ini.
Selalu like dan komen ya saudara- saudaraku💋 Cukup like dan komen aja Aku dah seneng banget loh🤧🤧🤧
.
Lanjutkan😉
.
Aku berhasil menguasai diriku sendiri, dan baru sadar bahwa Aku sudah duduk. Dan sepertinya kegiatan diklat ditunda.
Aku menerima uluran gelas berisi air bening, dari salah satu rekanku.
"Bisa minta tolong, pesankan saya taksi?". Aku langsung bangkit berdiri, dan meminta bantuan entah pada siapa. Siapa saja yang bersedia.
"Biar saya pesankan Pak.. Sebaiknya ke kamar dulu Pak...". Pak Ari membimbingku keluar ruangan menuju lantai 3. Dia sepertinya meminta izin untuk meninggalkan acara diklat sebentar.
Aku berjalan cepat, dan keinginanku sekarang adalah segera kembali ke XXX, melihat keadaan Isteriku di sana.
"Saya sudah memesankan taksi Pak.. Biar saya bantu bersiap..".
Tanpa kuminta Pak Ari membantuku membereskan barang- barangku. Dia tidak bertanya apapun, Karena Aku sendiri tidak sanggup menyuarakan apa yang terjadi pada Isteriku. Segala sesuatu berjalan dengan tiba- tiba.
Secepat kilat, Aku segera keluar kamar dan turun menuju lobi hotel.
Sudah ada taksi berhenti di depan hotel.
Aku mengucapkan terimakasih pada Pak Ari karena sudah memesankan taksi untukku. Aku belum sempat meminta izin meninggalkan diklat, dan meminta bantuan Pak Ari untuk memintakan izin.
Taksi segera meluncur, dan Aku mengatakan tujuanku.
***
POV Author:
Selama perjalanan pulang kembali ke XXX, Rama tak henti- hentinya berdoa demi keselamatan sang Isteri. Kabar yang diberikan oleh Ibunya, membuat dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada dikepalanya sekarang adalah melihat Isterinya.
Rama menatap foto USG bayi, dan tidak terasa air matanya keluar. Dia tidak akan sanggup menerima kenyataan pahit, jika harus kehilangan mereka yang sangat berharga untuknya. Isteri dan anaknya.
Sopir taksi mengangsurkan sebuah tisu, Rama mendongak dan tersenyum ke sopir.
"Terimakasih Pak..". Rama meraih tisu itu dan menyapu air mata yang tetap saja keluar. Dia merasa menjadi lelaki cengeng yang baru saja putus cinta.
Ini bahkan lebih menyakitkan dari putus cinta. batin Rama.
"Kalau boleh tahu ada apa Pak..". Sopir taksi bertanya dengan hati- hati. Maksud hati ingin menghibur pria yang terlihat lemah, yang tengah diantarnya ini. Jarang Dia melihat lelaki tampan dan gagah, namun sampai menangis apalagi saat ada orang lain di dekatnya.
"Saya mendapat kabar buruk tentang Isteri Saya..". Rama menjawab seadanya. Sebenarnya Dia hanya ingin diam, tetapi melihat ketulusan dari pertanyaan Si Sopir, akhirnya Rama memutuskan membuka mulut.
"Semoga Isteri sampean tidak kenapa- kenapa Pak.. Selamat dan diberi perlindungan oleh Tuhan".
Rama tersenyum, dan mengangguk, berterimakasih atas doa dari orang yang baru dikenalnya ini.
Rama menatap keluar jendela, menatap kosong lalu lalang kendaraan yang membersamai kepulangannya.
Bayangan mimpi di malam sebelum keberangkatan, melintas di kepala Rama. Dia memejamkan matanya, begitu mengingat saat Isterinya tertabrak sebuah mobil. Rama tak sanggup mengingat mimpinya itu.
"Bertahanlah Yang....". Ucap Rama sangat lirih.
***
Rama berlari menyusuri koridor rumah sakit. Dia sudah menelpon mengenai ruangan Irene kepada sang Ibu.
Beberapa keluarga pasien yang dilewati Rama melirik dengan rasa penasaran. Mungkin batin mereka, ada apa dengan orang ini?
Menggendong tas sambil berlarian dengan wajah diselimuti kekhawatiran.
Ibu berdiri begitu melihat kedatangan putra bungsunya. Begitupun dengan keluarga yang lain. Ada Ayah, Kakak Rama beserta ipar, Bibi dan Paman Irene.
Rama mengabaikan, dan segera bertanya kondisi Isterinya. Matanya tak beralih dari pintu ruangan di hadapannya. Ruang Operasi.
"Bersabarlah Nak.. Doakan yang terbaik untuk Isteri dan anakmu..".
Rama jatuh terduduk, bersimpuh di hadapan Ibunya. Ibu tidak kuasa, dia sudah menangis kembali, dan mengelus pucuk kepala anaknya.
Rama menyesal tidak bisa menjaga Irene dengan baik, harusnya hari itu dia tidak berangkat. Harusnya dia mengerti maksud mimpi itu. Harusnya........
Rama duduk di bangku tunggu, sang kakak membantunya berdiri. Semua keluarga terdiam, semua merasakan kesedihan yang sama.
"Maafkan Ibu Nak.. Harusnya Ibu tidak mengizinkan Isterimu pergi sendirian... Maafkan Ibu..".
Ibu meraih tangan anaknya. Dia merasa bersalah juga. Karena Dialah yang dititipi Irene oleh anaknya. Harusnya dia bisa menjaga dengan baik anak dan calon cucunya itu.
***
POV Rama:
Aku masih bisa mendengarkan Ibu bercerita. Bagaimana peristiwa itu terjadi. Dan bayangan mimpi itu kembali terlintas. Cerita Ibu seolah menyadarkanku bahwa mimpi itu memang benar- benar terjadi pada Irene.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Rasa sakit yang dirasakan wanita tercintaku, Irene.
"Bagaimana kalau Dia.....". Aku tidak sanggup melanjutkannya. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Irene. Wanita yang hampir satu tahun ini membersamaiku.
Aku tidak sanggup jika dia pergi di 360 hari kami bersama.
"Doalah yang terbaik Nak.. InsyaAlloh Isterimu akan baik- baik saja..". Ayah menepuk pundakku. Memberikan penghiburan. Bagiku penghiburan itu hanya sesuatu yang semu. Yang aku harapkan adalah Aku tahu keadaan isteriku di dalam sana. Di ruang operasi.
Aku masih menundukkan kepalaku. Aku tidak sanggup menegakkan kepalaku, saat ku rasakan beban berat serasa sedang kupikul.
***
Dokter keluar dari ruang operasi. Aku segera berdiri dan mendekat.
"Bagaimana kondisi Isteri saya Dok?". Dokter tampak meneliti wajahku. Memastikan apa entah.
"Kami berhasil mengoperasi Isteri anda, pendarahan di kepala sudah diambil..".
Pendarahan? Penjelasan dokter membuatku oleng. Kakak memegangiku yang hampir roboh.
"Untuk kondisi kandungan Nyonya Irene, Kami sedang berkoordinasi dengan bagian obgyn, semoga kondisinya baik.. Namun jika ternyata tidak selamat, harus segera dilakukan operasi untuk mengambil janin...". Dokter memberikan informasi dengan lancar, tidak tahukah kamu dok? Berita darimu adalah bencana untukku....
Dokter pamit dan berlalu. Irene masih belum diizinkan dijenguk karena masih akan diobservasi. Ayah menepuk pundakku, memberikan penguatan.
Setelah kepergian dokter yang menangani Irene, Aku berjalanan dengan lemas, dan duduk di kursi tunggu seperti tadi. Kabar dari dokter mengenai keberhasilan operasi Irene tidak serta merta membuatku lega.
Pendarahan? Apakah Aku bisa menganggap itu hal ringan?
"Sebaiknya kamu pulang ke rumah dulu, biar kami yang berjaga.. setidaknya saat isterimu tersadar nanti, dia melihat suaminya baik- baik saja...".
Kakak sulungku memberikan saran. Aku diam saja. Bagaimana bisa Aku pulang, sedangkan rumah tempatku pulang berada di dalam sana dalam kondisi yang entah?
"Iya Nak.. pulanglah dulu...". Ibu ikut berbicara. Aku mendongak. Menatap Ibu. Ada sedikit rasa kecewa pada Ibuku. Aku menunduk kembali, menatap lantai rumah sakit yang berwarna putih.
"Biar Rama di sini, kalau Ayah dan Ibu serta kakak mau kembali dulu, tidak masalah". Ucapku.
Keluargaku terdiam, Aku mendengar tarikan nafas, entah dari Ayah Ibu atau Kakakku atau bahkan Bibi Paman Irene.
"Bu Pram, Kami kembali ke Rumah duluan nggih.. Saya sudah memberi tahu saudara saya untuk bisa bergiliran menjaga keponakan kami..".
Aku mendengar suara Bibi Irma.
"Iya Bu Irma.. Silahkan, dan mohon doakan selalu menantu kami dan cucu kita ya..".
"Pasti Bu.. Kami pamit Pak.. Assalamu'alaikum..". Kali ini suara Paman Irene.
Setelah Paman dan Bibi Irene, menyusul kakak dan Isterinya pulang ke rumah. Suasana masih hening, karena memang Aku tidak ingin mengajak berbicara siapapun.
Apa Aku merasa kecewa? Yaa.. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga Isteriku.
Irene, cepatlah pulih.. Jangan biarkan Mas merasakan sakitnya ditinggalkan.. Mas Mohon....
.
.
Bersambung💋