360 DAYS

360 DAYS
Nenek



Terimakasih atas dukungannyaa😘😘😘


.


.


lanjut yaa..🥰


.


.


"Baik- baik di rumah yaa..". Aku mengelus lembut pucuk kepala isteriku. Dia hanya mengangguk pelan.


"Istirahat saja, Mas ke depan sendiri..". Ucapku, begitu melihat dia akan bangkit dari ranjang.


Aku keluar dari kamar, dan menemui Ibu yang sepertinya ada di dapur.


"Bu, Rama titip Irene ya..". Ibu menengok ke arahku, dan mengangguk paham.


"Iya, Nak"


Aku pamit pada Ibu, kemudian segera berlalu.


Kepergian Kakek yang sudah dua minggu lebih, masih meninggalkan duka untuk isteriku itu. Entah cara apa yang tepat untuk menghibur dia saat ini. hmmh..


***


POV Author:


Di sebuah kamar,


Irene tengah tertidur sambil memeluk sebuah foto. Sejak tadi, wanita itu hanya berbaring di ranjang, sambil meratapi Kakek yang sudah tiada. Baginya, Kakek adalah pengganti Ayah. Kehilangan Kakek berarti kehilangan Ayah untuk yang kedua kalinya.


"Kakeekk..". Suara lirih terdengar dari bibir mungil Irene. Alisnya mengerut, dan beberapa detik kemudian, selajur air mata keluar dari kelopak mata yang tertutup.


Sementara itu, di luar kamar, Ibu sedang berada di dapur bersama Tata, menantu dari anak keduanya. Keduanya tengah sibuk menyiapkan makan siang.


"Ta.. Coba kamu ke kamar adikmu, dari tadi dia tidak keluar kamar, Ibu khawatir..". Ucap Ibu.


"Iya Bu..". Tata segera beranjak dari dapur, menuju kamar adik iparnya.


Dia mengetuk namun tidak ada respon dari dalam. Akhirnya dia memegang gagang pintu dan membuka pintu, yang ternyata tidak dikunci. Begitu melihat sosok yang sedang tertidur di ranjang, Dia menatap sedih. Dia memang masih mempunyai orang tua utuh, belum pernah merasakan kehilangan, Namun melihat adik iparnya, Dia bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang di sayangi.


"Irene..". Panggil Tata dengan lembut. Tangannya menyentuh pundak iparnya, pelan.


Suara Tata yang lembut, rupanya membangunkan Irene dari alam bawah sadar.


"Mba?". Tanyanya dengan wajah bingung.


"Ayo kita makan siang.. Atau kamu mau ditemani mengantar makan siang untuk suamimu?". Tawar Tata.


"Iya mba..". Tata membantu Irene bangkit dan turun dari ranjang. Kedua wanita itupun kemudian keluar dari kamar.


"Nak...". Ibu menghampiri menantu bungsunya.


"Maaf ya Bu.. Irene tidur dari tadi". Ucap Irene merasa bersalah.


"Tidak apa- apa, Ibu sudah dibantu Kakakmu..". Ibu tersenyum, kemudian membimbing menantunya untuk duduk di bangku meja makan.


"Bu, Irene mau mengantar makan siang untuk Mas Rama..". Ibu menengok ke arah Irene. Kemudian tersenyum.


"Mau Ibu temani?". Tawar Ibu.


"Sama Tata saja Bu..". Tata menyahut. Dia yang tadi menawarkan diri.


"Irene sendiri saja Kak.. Nggak apa- apa". Putus Irene akhirnya.


Gadis itu tahu jika nanti akan ada suami dan anak- anak Tata yang akan datang ke rumah mertuanya ini. Pasti Ibu sibuk menyiapkan makanan. Biar dia sendiri saja yang mengantar makan siang. Lagipula, sudah lama dia tidak mengantarkan makan siang untuk suaminya.


Irene menata nasi dan lauk di wadah tupperw@re. Tak lupa minum dia bawa juga, agar suaminya tidak susah menelan makanan😁.


"Kamu makan dulu, Nak..". Ucap Ibu,


"Nanti saja Bu.. Ya sudah, Irene berangkat dulu yaa Bu, Mba.." pamitnya.


"Mba.. Irene pinjem motornya yaa...". Tata mengangguk, dan menyerahkan kunci motornya.


Gadis itu segera berlalu dari dapur, menuju pelataran. Beberapa waktu kemudian, dia sudah meluncur ke jalan raya.


Selama perjalanan, beberapa kali dia menarik dan menghembuskan nafas dengan berat. Sesak memang, tapi dia harus segera mengikhlaskan. Masih ada Nenek yang akan memberikan kasih sayang padanya.


'Pasti Nenek lebih sedih'. Batinnya.


Beberapa waktu berlalu, Irene sudah sampai di parkiran sekolah. Suasana masih sama seperti terakhir kali dia menginjakkan kaki ke tempat ini, termasuk sama seperti beberapa tahun kebelakang, saat dia masih menjadi siswa SMA.


Irene merogoh tasnya, meraih handphone. Dia mendial nomor suaminya. Di deringan pertama, suaminya mengangkat.


"Assalamu'alaikum, Yang..."


"Waalaikumsalam Mas.. Aku di tempat parkir, Mas bisa keluar?". Ucap Irene to the point.


"Eh?? Iya iya.. Ini Mas keluar..". Irene bisa mendengar suaminya yang sepertinya tergesa itu. Sudut bibirnya pun melengkung membentuk senyuman.


Rama melambai begitu melihat sosok isterinya. Dia berlari kecil, demi mendekat dengan cepat ke Isterinya. Dia tidak menyangka Isterinya akan datang.


"Kenapa nggak bilang dulu kalo mau ke sini?". Ucap Rama. Dia membimbing Isterinya untuk duduk di sebuah bangku yang biasa diduduki muridnya jika sedang nongkrong istirahat.


"Pengin nganter makan siang aja Mas..". Ucap Irene.


"Makasih yaa...". Rama menatap Isterinya dengan sayang. Irene tersenyum membalas tatapan itu.


"Mau makan bareng?". Tawar Rama


"Nggak Mas.. Irene masih kenyang". Kenyang dari mana? kenyang menangis?


"Mas mau makan di sini?". Irene merasa ini bukan tempat yang tepat untuk makan siang.


"Iya lah.. Pengin ditemenin kamu kok..". Rama mulai menyuapkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


"Mas makan di ruangan aja, Biar Irene langsung pulang.."


Rama mendongak, menatap Isterinya.


"Tunggu sampai Mas selesai makan..". Titahnya tak mau dibantah. Irene hanya mendengus.


15 menit kemudian, Rama sudah menyelesaikan makan siangnya. Nikmat sekali makan siangnya kali ini. Apalagi ditemani Isteri. Hehe.


"Ya udah, hati- hati di jalan yaa..". pesan Rama pada Isterinya, begitu sang isteri sudah menaiki motor. Irene mengangguk dan tersenyum.


Rama memperhatikan Isterinya hingga tidak terlihat lagi dalam pandangannya. Dia tersenyum menatap kepergian Irene. Merasa bersyukur, karena Isterinya itu mau melakukan kegiatan lain, selain meratapi kepergian Kakek.


***


Setelah perjalanan selama setengah jam lebih, Irene akhirnya sampai di rumah Nenek. Suasana Rumah sepi.


Setelah Kakek meninggal, Anak- anak Nenek berjaga secara bergilir di rumah ini. Kadang juga cucu yang lain, atau sepupu Irene datang menginap di rumah Nenek.


" Kak Icha. Kamu di sini?". Begitu masuk ke dalam rumah, dia menemui sepupunya itu sedang berada di ruang tamu.


"Eh? Iya nih.. Sendiri?". Tanya Icha, Karena melihat adik sepupunya datang sendirian.


"Iya Kak. Suamiku masih ngajar.. Hehe".


"Nenek mana Kak?".


"Ada di kamar sedang makan siang..". Irene segera menuju Kamar Nenek, untuk menemui beliau. Dia merindukan Neneknya.


"Nek?". Irene memanggil Nenek. Nenek menengok ke arah pintu, dan mendapati cucu dari anak bungsunya berdiri diambang pintu dengan tatapan sedih.


"Kamu kemari, Nak..". Irene segera mendekat dan memeluk sang Nenek. Bibi yang sedang menyuapi Nenek makan, bergeser demi memberi ruang untuk ponakannya.


"Kenapa baru kemari? Nenek kangen sama kamu.. Kakak- kakakmu saja ke sini terus..". Tanya Nenek dengan sedih.


"Maafkan Irene ya Nek..".


Hanya kalimat itu yang bisa dia berikan. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Dia mengurung diri di kamar, dan menangis setiap hari kan?


"Ajak suamimu menginap disini, temani Nenek..". pinta sang Nenek. Irene mengangguk, tanpa mengiyakan. Dia o


perlu berbicara dulu dengan sang suami.


***


.


.


Bersambung😘