360 DAYS

360 DAYS
Terima kasih sudah bangun



Terimakasih atas dukungan pembaca sekalian untuk karyaku ini yaaa🥰


.


Lanjut ya😘


.


POV Rama:


Ini pertama kalinya Kami, keluarga diizinkan untuk mengunjungi Irene. Walaupun harus satu per satu. Tanpa berdebat, Akulah orang pertama yang menemui Irene. Aku suaminya.


Aku memasuki ruangan setelah memakai pakaian khusus berwarna biru muda, serta masker. Tubuh lemah dengan perut buncit di depan sana terlihat. Aku meneteskan air mata. Antara bahagia dan sedih menjadi satu. Bahagia karena mereka berdua selamat, dan sedih karena Isteriku belum melewati masa kritisnya. Alat bantu medis masih berada ditubuhnya. Perban menutupi bekas operasi di kepalanya.


Aku duduk di sisi ranjang perawatan. Meraih tangan Irene yang lemah. Jarum infus yang besar menancap di pergelangan tangan Irene. Penderitaan yang harus dirasakan isterinya di masa- masa kehamilan sungguh berat. Mataku melirik perut Isteriku yang membuncit.


Dari penjelasan dokter, sejauh ini kondisi bayi kami masih aman, dalam artian masih ada detak jantung yang terdengar. Masih butuh observasi lanjutan. Aku mengelus perut itu, lembut. Aku merindukan saat- saat Irene merajuk meminta dielus perut dan punggungnya.


"Cepatlah bangun yang.. Mas nunggu kamu di sini.."


Aku merasakan gerakan ringan di perut Irene. Aku tersenyum bahagia merasakan gerakan itu. Anak kami mendengar suaraku barusan. Aku menjadi antusias dan mendekatkan wajahku ke perut Irene.


Berbisik ke bayi di dalam sana,


"Minta Mama segera kembali ya ganteng...". Aku tersenyum dengan permintaanku sendiri.


"Terimakasih sudah menjaga Mama selama Papa pergi yaa..".


Aku berbisik lirih lagi, mengajak ngobrol bayi kami. Ini cukup mengobati sedikit rasa rindu yang ku rasakan.


***


POV Author:


Seminggu telah berlalu...


Rama memasuki ruang perawatan sang Isteri. Lelaki itu menyapa sang Ibu, dan menyalaminya dengan hormat. Sejak kemarin Rama sudah mulai berangkat kerja. Itu bukan suatu hal yang mudah untuk membujuknya.


"Rama titip Irene lagi ya Bu..".


"Bekerjalah yang benar, Irene aman bersama Ibu.. Nanti ada Bibinya yang akan ke sini.. tenanglah bekerja..". Pesan sang Ibu. Rama mengangguk.


Irene telah berhasil melewati masa kritisnya, kondisinya sudah stabil, namun entah mengapa Irene belum juga tersadar. Rama mengkhawatirkan kondisi isterinya. Namun Dia hanya bisa berdoa, semoga Isterinya segera tersadar.


Ucapan doa untuk kesembuhan Isteri Rama mengalir dari semua orang, termasuk rekan yang waktu itu mengikuti diklat. Semua orang mendoakan yang terbaik untuk Irene, semoga segera terkabul doa mereka.


Rama bekerja seprofesional mungkin, walaupun pikirannya masih dipenuhi oleh Isteri dan bayinya. Beberapa kali Dia melirik handphone nya, barangkali ada kabar baik dari Ibu.


***


"Assalamu'alaikum Bu, iya?". Rama mengangkat panggilan dari sang Ibu, jantungnya berdetak kencang. Berharap kabar baik yang akan diterimanya.


"Segera kemari Nak..". Kalimat singkat Ibu diterima, dan Rama segera bangkit dari duduk. Saat ini dia sedang ada di kelas.


"Kalian lanjutkan mengerjakan latihan soalnya ya.. kalau belum selesai lanjutkan di rumah.. Bapak ada kepentingan mendadak". Rama berbicara sambil merapikan buku bahan ajar serta spidol.


Setelah mengucapkan salam, dia segera berlari kecil, menuruni tangga, dan menuju ke ruangan kantor.


Mendengar suara Ibu di telpon, Rama menduga bukan kabar buruk seperti waktu itu Ibu mengabari. Ibu tidak mengatakan apapun, hanya memintanya datang ke Rumah Sakit.


"Tunggu Mas, Yang..".


Guru Matematika SMA itu segera meluncur meninggalkan area sekolah dengan cepat. Dia bahkan berkendara dengan kecepatan lebih dari biasanya.


***


Empat puluh menit kemudian, Rama sudah sampai di pelataran rumah sakit. Dia memarkirkan motor, dan berlari ke pintu masuk rumah sakit.


Jantungnya berpacu lebih cepat begitu melihat pintu ruang perawatan Isterinya.


Rama membuka pintu perlahan, Di ranjang rumah sakit itu, Dia bisa melihat Isterinya tengah duduk menyender ke bagian atas ranjang. Rama tersenyum bahagia, bahkan setitik air mata sudah jatuh tanpa dia sadari.


Sementara itu, Tubuh lemah yang sedang duduk bersender di kepala ranjang, menoleh begitu mendengar suara pintu ruangannya dibuka. Irene tersenyum dan memanggil nama suaminya tanpa bersuara begitu melihat sosok yang berada di ambang pintu itu. Keduanya saling menatap dalam. Rama mendekati Isterinya dan memeluk dengan erat. Dia berulangkali mencium puncak kepala dan kening Irene.


"Terimakasih.. Terimakasih sudah bangun Sayang...". Bisik nya pada sang Isteri.


"M maass.. Anak.. kita?". Irene bertanya lirih. Rama melirik perut isterinya dan tersenyum.


"Dia baik- baik saja.. Mas sering mengajaknya mengobrol.. Apa dia menyampaikan ke kamu kalau Papanya menunggu Mama?". Rama tersenyum, sambil mengusap lembut pipi isterinya yang masih pucat.


Irene menggeleng. Dia masih sulit bercerita banyak hal, sebab bergerak sedikit, wajahnya terasa nyeri, dan begitu juga tulang- tulang di tubuhnya.


"Bu, bagaimana kata dokter tadi?". Rama beralih pada sang Ibu. Dia melonggarkan pelukannya pada Irene.


Ibu mendekat, dan mengelus pundak menantunya lembut.


"Dokter bilang jika beberapa hari ke depan sudah stabil, Isterimu bisa rawat jalan..".


Rama mengangguk mendengar penjelasan Ibu. Dia merasa sangat lega.


"Terimakasih tadi langsung mengabari Rama ya Bu..". Rama tersenyum pada Ibu. Ibu mengangguk.


"Dia memanggil nama kamu saat bangun..". Ibu melirik menantunya, kemudian tersenyum simpul.


***


POV Ibu:


Sebagai seorang Ibu, Aku turut merasakan kesedihan puteraku. Dia mengalami musibah yang sangat menyakitkan. Nyaris kehilangan sosok yang sangat dicintainya. Beruntung Tuhan masih memberikan kasih sayang pada Anakku, sehingga Dia menyelamatkan Menantuku dan juga calon cucuku.


Aku sempat merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga menantuku dengan baik, yang mengakibatkan peristiwa mengerikan itu terjadi. Namun mengetahui bahwa Irene dan calon anaknya baik- baik saja, rasa bersalah itu terobati.


"M mass Ra..maa..". Aku mendengar suara lirih. Aku yang sedang berdoa segera bangkit, dan melihat menantuku sudah membuka matanya. Aku mendekatu menantuku, dan memegang tangannya yang lemah.


"Bu.. Dim mana.. Mas Ra maa??". Irene bertanya dengan terbata. Aku mengangguk dan segera menelpon anakku, yang kuyakini sedang mengajar.


"Ibu sudah menelpon suamimu, Kita tunggu ya..".


Aku menekan tombol panggilan pada tenaga medis. Beberapa waktu kemudian mereka datang, dan memintaku keluar sebentar.


10 menit berlalu, Dokter keluar dari ruangan, dan memberitahuku kondisi menantuku yang sudah stabil, dan dalam beberapa waktu kedepan jika semakin stabil, bisa dibawa rawat jalan.


Aku menghembuskan nafas lega. Inilah kabar yang kami tunggu- tunggu.


Aku masuk ke ruang perawatan lagi. Ku lihat menantuku sudah duduk bersandar.


"Mau minum?".


Anak itu menggeleng pelan. Aku mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


"Terimakasih sudah bertahan, Nak.. Maafkan Ibu yaa..". Aku menyentuh jemari menantuku. Menatapnya dengan perasaan bersalah.


Menantuku hanya menggeleng,


"I..bu tidak be r salah...".


Pintu ruang perawatan terbuka, Aku menoleh dan melihat putraku berdiri di sana. Dengan mata yang berbinar bahagia. Aku menyingkir, dan membiarkan dua anakku itu saling melepas rindu.


Aku tidak bisa menahan air mataku, melihat anak dan menantuku telah bersatu kembali, bersama calon buah hati mereka.


.


.


Bersambung🥰


(Curhat doonkkkk😁..


Cerita ini harusnya berakhir saat Irene kecelakaan, karena awalnya Aku pengin bikin Irene out🤭 Sesuai judul 360 DAYS.. jahat banget yaa.. hahahaa


Dan itu juga alasan mengapa Aku nggak pernah bikin POV Irene. Ya karena Irene mau ku out in. Sadar nggak? nggak ya? ya udah😅


Seperti yang Aku bilang bahwa konflik di cerita ini adalah kehilangan. Tetapi ya karena nggak enak juga cerita yang sad ending, maka ku jadikanlah Irene beserta jabang bayinya selamat..


bilang makasih yaaa wkkk🤣


Kelanjutannya gimana? Cusss tunggu aja episode berikutnya😋😋😋)