
Terima kasih yang sudah berkenan membaca dan memberi dukungan di Karya ini🥰🙏
.
.
Lanjut ya😘
.
.
POV Rama:
"Iya kak". Irene menjawab panggilanku dari seberang. Aku mendengar suara tertawa juga dari seberang.
"Masih jalan- jalan? Saya sudah di Rumah Kakek". Kataku.
"Hah benarkah? Irene meluncur Kak...". Ucapnya buru- buru. Dia belum menutup telponnya, sepertinya langsung dimasukkan ke dalam tas.
"Ayo cepet joo.. Calon suami dah di rumah Kakek.. Ya ampuun.. bilangnya mau ngomong dulu.. hishh". Aku mendengar gerutuan Irene. Aku tersenyum mendengar dia menyebutku calon suami. Aku masih membiarkan panggilan telpon tersambung.
"Ya ampun Nek, tidak usah repot- repot.. Rama hanya menjemput Irene..". Lagi- lagi Aku merasa tidak enak pada Nenek. Beliau selalu saja membuatkanku minuman saat Aku berkunjung, walaupun hanya sebentar.
"Tidak apa, Nak... Silahkan di minum..". Aku tidak melihat Kakek sejak tadi, sepertinya sedang ada di sawah.
Aku melihat- lihat foto yang menempel di dinding rumah. Kemarin saat mengantar Irene, Aku tidak begitu memperhatikan. Ada Foto terbaru Irene bersama teman- temannya, sepertinya dia habis sidang skripsi. Aku tersenyum, membayangkan Jika nanti foto pernikahan kami juga di pajang di dinding rumah. hehehe...
"Assalamu'alaikuum..". Aku menengok ke arah pintu utama. Irene tampak terburu- buru memasuki rumah.
"Kak...". Irene menghampiriku, disusul dua orang temannya. Mereka mengangguk padaku, Aku membalasnya sambil tersenyum kecil.
"Bersiaplah.. Saya tunggu..." Kataku. Irene segera berlalu, dan temannya itu masih mengikutinya.
***
"Kak...". Aku melihat ke arah sumber suara. Aku terpaku. Irene tampak cantik sekali. Gadis itu sepertinya memakai sedikit make up di wajahnya. Dia memakai gamis berwarna peach, dan jilbab bunga- bunga dengan warna senada.
"Kak malah melamun...". Irene menyentuh lenganku. Aku segera tersadar, dan tersenyum kikuk.
"Ah iya ayo...".
Aku dan Irene pamit ke Nenek, Aku meminta Izin membawa Irene bertemu Ibu. Dua teman Irene tidak muncul sama sekali. Sepertinya hanya berdiam di kamar Irene. Biarlah...
Aku segera melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Jantungku sejak melihat Irene keluar dari kamar, sudah berdetak tak teratur. Aku jadi gugup. Semoga Irene tidak menyadari kegugupanku. Doaku dalam hati.
45 menit kemudian, Aku sudah sampai di Rumah. Pintu utama terlihat terbuka. Sepertinya Ibu sudah bersiap. Irene turun dari kendaraan. Aku segera mengajak Irene memasuki Rumah.
***
POV Ibu:
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Aku harus bersiap menyambut anak perempuanku. Aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku mematut diriku di cermin, memastikan bahwa Aku menampakkan wajah bahagia. Aku tersenyum pada bayanganku di cermin.
Aku sengaja membuka pintu utama, agar begitu putraku dan anak itu datang, bisa langsung masuk. Aku menunggu di Ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Aku mendengar suara motor memasuki halaman rumah. Aku tahu dengan pasti bahwa itu motor putra bungsuku.
"Assalamu'alaikum, Bu...". Suara putraku. Aku berdiri dan mendekat ke arah pintu.
"Waalaikumsalam..". Aku meraih gadis di samping anakku. Kami sudah lama tidak bertemu. Aku segera memeluknya dengan erat. Menumpahkan rasa rindu dan rasa bersalah.
"Rama masuk ke dalam dulu, Bu..". Aku tidak merespon perkataan anakku.
"Kenapa kamu tidak pernah berkunjung kemari selama 4 tahun ini, Nak?". Aku bertanya dengan sedih. Aku memang berharap perasaan diantara anakku dan dia hilang, namun bukan berarti Aku ingin Irene menghilang juga.
"Irene kalau pulang hanya sebentar, Bu.. Maaf ya..". Ujar gadis itu memberikan alasan. Pasti bukan ini alasan sebenarnya. Dia pasti takut padaku.
"Duduklah.. Ibu sudah membuatkanmu sesuatu..". Aku membimbingnya untuk duduk di sofa. Aku mengusap air mata di pipiku, kemudian segera pergi ke dapur mengambil 3 buah toples berisi kue kering. 3 toples lainnya rencananya akan ku bawakan nanti jika dia pulang.
"Irene selalu suka masakan buatan Ibu..". Gadis di hadapanku tersenyum dengan tulus.
"Bagaimana kabar Ibu?" Tanyanya.
"Selalu sehat, Nak. Alhamdulillah.. Ibu juga selalu berdoa agar kamu selalu sehat..". Irene tersenyum. Aku tidak menyangka, gadis lugu itu sudah berubah menjadi begitu cantik, setelah 4 tahun tidak bertemu. Dia juga tampak lebih dewasa.
"Bagaimana pendidikanmu, Nak?". Tanyaku ingin tahu. Aku sempat mendengar obrolan putra bungsuku dan Ayahnya, bahwa Irene sudah menyelesaikan pendidikannya.
"Irene sudah selesai, Bu.. Alhamdulillah, doa dari Ibu.. Sebentar lagi Irene wisuda..".
"Alhamdulillah, Ibu sangat senang sekali mendengarnya.. Kapan wisudanya, Nak?".
"Tanggal 23 bulan ini, Bu..".
Aku mengajak Irene mengobrol banyak hal. Sambil menunggu putraku yang entah sedang melakukan apa, lama sekali.
Beberapa menit kemudian, Rama sudah bergabung dengan Aku dan Irene. Dia duduk di sampingku. Dia tersenyum penuh arti padaku.
"Kenapa lama sekali?". Aku bertanya pada putraku. Dia terlihat lebih segar. Mungkin dia mandi dulu. Pikirku.
"Rama ingin Ibu dan Irene mengobrol dulu.. Tidak mau menggangu". Ucapnya memberi alasan.
"Rama meminta keikhlasan Ibu..". Anakku meraih tanganku. Aku menatap putraku. Menunggu apa yang akan dia ucapkan lagi.
"Rama ingin Ibu merestui hubungan kami, Bu.. Rama akan menikahi Irene..". Anakku terdiam. Dia menatapku penuh permohonan. Aku menitikkan air mata. Aku memang harus mengalah pada anakku.
Irene yang duduk di hadapan kami, berpindah duduk di sampingku. Anak- anak ini mengapitku. Irene meraih tangan kiriku. Mengelusnya dengan lembut. Aku hanya bisa mengangguk merespon permohonan anakku. Pita suaraku berat bahkan untuk mengeluarkan satu kata.
"Terima kasih, Bu...". Aku lagi- lagi mengangguk.
"Assalamu'alaikum, Eyang Putri...!!!". Suara cempreng bocah laki- laki memecah keheningan ruang tamu. Aku segera menghapus air mataku, begitu melihat kedatangan cucuku.
"Waalaikumsalam, cucu eyang.. sini sini.... mana Ibu mu?". Bocah kecil itu naik ke pangkuanku. Membuat pamannya berpindah ke sofa yang lain.
"Ibu..". Hana, menantu pertamaku memasuki ruang tamu. Dia tengah menggendong bayi mungil. Begitu mendekat, Dia menyalamiku.
"Biar Haikal sama Ibu, kamu bikin jus sendiri ya..". Aku meraih cucuku. Fuad, cucu yang tadi ku pangku, sudah berpindah ke pangkuan pamannya.
"Rama, sopir kakakmu suruh masuk.. kebiasaan kalo mengantar hanya diam di mobil..". Aku memerintah anakku.
"Iya Bu...".
Hari ini berakhir dengan kumpul keluarga. Walaupun anak keduaku tidak ikut datang, namun Aku sangat bahagia saat berkumpul seperti ini. Irene sejak tadi juga mengobrol dengan anggota keluarga, Dia tampak akrab dengan Hana. Aku tersenyum.
"Kapan? Kapan?". Aku mendengar menantuku bertanya penuh rasa ingin tahu, pada Irene.
"Belum tahu mbak.. Hehe..". Irene menjawab lirih, matanya sempat melirikku. Menyadari Aku yang memperhatikannya juga, membuat di mengangguk kecil. Hana ikut melirik ke arahku. Aku hanya tersenyum ke arah mereka.
"Secepatnya Kamu harus mengajak kami menemui Kakek dan Nenek calonmu, Nak...!". Aku melihat ke arah suamiku. Dia tampak bahagia sekali. Aku tahu sejak awal suamiku memihak pada Rama, siapapun pilihan anaknya, dia mendukung.
Aku menghembuskan nafasku perlahan...
.
.
'Semoga nanti kehidupan pernikahan kalian selalu dipenuhi kebahagiaan'. Doaku dalam hati, sambil menatap bergantian putra bungsuku dan anak perempuanku.
.
.
Bersambung😘