
Terimakasih atas dukungan pada karya ini😘
Ini karya pertamaku setelah sekian lama vakum menulis cerita. Duluuu bangett pas waktu sekolah SMP dan SMA, Aku kalo lagi luang, bisa nulis sampai berlembar- lembar. Aku punya buku sendiri yang biasa Aku pakai untuk menuangkan ide di kepalaku😁 Bahkan sampai sU0ekarang masih ada, dan dikekepin (dikuasain) sama adekku.
Melihat penulis- penulis famous di noveltoon membuatku tergerak buat ikut menulis juga, apa salahnya melanjutkan hobi lama ya kan?
.
.
Oh iyaa.. kalau ada yang bertanya- tanya tentang konflik di novel ini sebenarnya apa sih? Kok kaya monoton cerita si pak guru sama isteri muridnya yang umum aja.
Iyaa jadi konflik di sini nggak seberat GUNUNG SLAMET yang ada di jawa tengah ya, konflik disini lebih ke RASA KEHILANGAN sesuatu. Eh tapi kehilangan sesuatu yang sangat disayangi itu lebih berat daripada memikul gunung loh. Kehilangan disini bukan hanya dirasakan oleh Irene, tetapi juga oleh Rama.🤧 Walaah kok malah jadi ngomong wkkk
.
.
Baiklah mari kita lanjutkan saja yaa😘
.
.
POV RAMA:
"Mulai besok bawa isterimu ke rumah Ibu saja kalo kamu nggak bisa ngurus isteri. Isteri hamil itu mbok ya diurus dengan baik.. diperhatikan suasana hatinya.. tau sendiri isteri habis berduka dalam waktu dekat kok malah dibiarkan sendiri.. Bukan ini yang Ibu minta dari kamu loh pas kamu nikah!!". Aku mengernyit.
Ibu memang berbicara dengan lirih, namun Aku bisa mendengar dengan jelas kalau Ibu menekan setiap kalimatnya. seperti sebuah peringatan sekaligus ancaman.
Baru saja Aku duduk dan bernafas, setelah hari yang melelahkan di Sekolah, Aku harus menerima kalimat pedas dari Ibu.
Maksudnya apa? siapa yang tidak memperhatikan isteri?
Aku hendak bertanya lebih lanjut, namun melihat kedatangan Irene dan Mba Tata dari arah dapur, membuat Ibu melirik tajam ke arahku.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat.
"Makasih ya Yaang...". Isteriku meletakkan segelas Teh di meja di depanku. Sementara Mba Tata, dia meletakkan dua buah toples berisi kue kering yang kuyakini sebagai buatan Ibu.
"Iya Mas..". Irene tersenyum. Aku menatap lekat wajah Isteriku. Aku teringat kalimat Ibu. Apa maksud Ibu? Apakah Irene masih menyimpan kesedihannya? Asalkan dia tidak murung dan terlihat depresi seperti waktu itu, Bukankah tidak apa- apa?
"Kenapa Mas? kok lihatnya kayak gitu banget sih".
Belum Aku menjawab, Ibu sudah memotong.
"Ibu kangen banget sama Kamu, Nak.. Besok atau hari ini sekalian, ke rumah Ibu yaa.. Ibu kesepian di rumah.. Tuh lihat kue kering buatan Ibu aja utuh.. Kan cuman kamu yang suka". Ibu berkata panjang lebar. Aku mendengarnya sebagai sebuah permohonan.
Aku belum mengerti maksud Ibu.
Irene melirik ke arahku. Aku hanya tersenyum kaku. Tinggal di rumah Nenek bukan hanya keinginan Irene seorang diri, tapi juga ada kewajiban yang harus dia laksanakan, yaitu menjaga peninggalan terakhir Kakek Neneknya.
"Irene terserah Mas Rama aja Bu...Tapi.." Ucapan Irene berhenti, Aku tahu dia berat akan sesuatu.
"Tapi apa Nak?". Tanya Ibu tidak sabaran.
"Rumah ini peninggalan Kakek Nenek, Irene harus menjaganya.. Kalau Irene tidak di sini, siapa yang akan menjaga?". Irene menatap Ibu.
"Ada Bibi mu yang tinggal dekat sini kan? Biar nanti Ibu bantu kamu bilang ke Bibi yaa.. Pokoknya Kamu tinggal manut (patuh) saja untuk tinggal di rumah Ibu.. ya?". Ibu menggenggam tangan Irene, dan menatap mata menantunya dengan memohon.
Irene mengangguk.
"Biar nanti Rama diskusi sama Irene dulu ya Bu...". Putusku pada akhirnya. Sontak kalimat idealisku mendapatkan hadiah lirikan tajam dari Ibu.
***
POV Ibu:
Aku pulang dengan rasa kecewa pada putra bungsuku. Tetapi Aku berharap anak dan menantuku itu bisa memutuskan yang terbaik.
Aku merasakan Irene sedang tidak baik- baik saja. Melihatnya datang dari makam dengan wajah sembab, terlebih lagi kenyataan bahwa dia berjalan kaki menuju tempat yang jauh, membuatku semakin yakin. Dan parahnya, Suaminya, putra kandungku sendiri, tidak mengetahuinya!!
Aku menghela nafas panjang.
"Iya Bu.. tadi pas di dapur Tata sudah bujuk Bu..". Jawaban Tata tidak membuatku puas. Ya membujuk tidak semudah membalikkan tangan.
"Mudah- mudahan nanti Irene mau ya Bu..". Ucap Tata lagi. aku hanya mengangguk mengaminkan.
"Ibu masih nggak menyangka, Anak Ibu sendiri kayak gitu.. Nggak tahu keadaan isterinya. padahal tinggal bareng- bareng...". Aku berdecak kesal.
Lampu sudah berubah hijau, Tata kembali melajukan kendaraan.
45 menit kemudian, Aku sudah sampai di halaman rumah. Cucu- cucu ku sudah menyambut di teras. Aku tersenyum mendapat sambutan dari mereka.
"Sudah lama sampai di sini cucu eyang?". Tanyaku, sambil mengelus si sulung.
"Baru saja eyang..".
Aku masuk ke dalam rumah diiringi anak menantu dan cucu- cucuku.
Saat ramai seperti ini, rasanya menyenangkan sekali. Berbeda saat Aku di rumah sendirian. Hening.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Aku ikut bergabung dengan Suami dan anakku yang sedang mengobrol entah apa.
"Mas.. Aku mau ngomong soal anakmu..". Ucapku memulai pembahasan mengenai Rama.
"Anak yang mana Bu? Bukankah anak Ibu juga?".
Aku mendengus, karena suamiku malah meledek. Anak keduaku pun ikut- ikutan menahan tawa.
"Rama itu jadi suami kok tidak peka.. Isterinya dibiarkan sedih gitu.. Tiap hari anak itu ke makam keluarganya, jalan kaki.. Suaminya nggak tahu.. lha kalo pulang memangnya nggak lihat tanda- tanda di isterinya?.. Ya Allohh.. Ibu loh pengin banget nggebukin Anakmu Yah.. Yah !!". Aku mulai berkeluh kesah.
"Kok bisa Irene jalan kaki Bu? Rama nggak mau ngaterin apa gimana?". Anakku ikut merespon. Nah kan?
"Namanya punya suami tidak peka ya seperti itu..". Jawabku dengan kesal.
"Ibu sudah tanya ke Rama soal isterinya? Bisa jadi menantu kita yang tidak cerita ke suaminya Bu..". Suamiku menengahi,
"Ntah lah Mas.. Intinya Irene harus tinggal di sini lagi..Biar Ibu bisa perhatikan, apalagi posisi dia lagi hamil muda..". Aku menghela nafas. Menyudahi kesalku yang sudah berada di ubun- ubun.
"Nanti Tata bantu bujuk lagi ya Bu.. Ibu yang sabar.. ". Tata yang sudah bergabung setelah memandikan anak- anaknya, ikut masuk ke obrolan.
"Iya.. kalo besok Rama belum bawa isterinya ke sini, biar besok Ibu jemput saja..". Putusku.
"Looh ya jangan seperti itu Bu.. Namanya Rumah tangga yang jalani kan mereka, kita sebagai orang tua tidak bisa ikut campur terlalu jauh.. Kita sudah nasehati Anak kita, dia mau menerima ya Alhamdulillah, kalo tidak menerima ya semoga diberi jalan yang terbaik Bu...". Ujar suamiku.
Yaaa... Perkataan itu benar adanya, tetapi Aku mengkhawatirkan kesehatan calon cucu ku. Tidak bolehkah?
***
POV Author:
Malam hari, Rama tidak dapat tidur dengan tenang. Dia masih mengingat peringatan dari Ibunya. Rama memiringkan tubuhnya, tidur menghadap sang isteri yang juga menghadap ke arahnya.
Isteri sang guru sudah tidur sejak dua jam yang lalu. Rama memperhatikan wajah bantal Irene. Wajah damai itu...
Tunggu...
Irene mengerutkan alisnya. Bibirnya bergerak- gerak seperti mengatakan sesuatu.
Rama mendaratkan telunjuknya pelan- pelan ke kening Irene. Kerutan di alis pun menghilang. Namun suara gumaman Irene terdengar jelas di telinga Rama.
"Irene.. mau ikut..."
Setelahnya hening. Hanya ada hembusan nafas teratur dari sang isteri.
"Mas selalu di sini untuk Kamu.. Mas nggak akan pergi...". Ucapku menenangkan Isteriku, dari mimpi buruknya, barangkali.
.
.
Bersambung😘