
Terimakasih atas dukungan pembaca semua.. semakin hari semakin banyak yang membaca..🥲🤧
.
.
Lanjut ya😘
.
.
POV Author:
Rama segera membereskan laptop dan buku bahan ajar. Dia belum selesai membuat matriks indikator pembelajaran. Ada hal yang lebih penting saat ini. Isterinya yang ngambek. Irene tidak pernah kesal seperti tadi, biasanya dia hanya akan cemberut, namun tidak sampai meninggalkan tempat.
Guru Matematika itu segera masuk ke kamar. Begitu membuka pintu, Dia disambut dengan punggung Isterinya.
Rama menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
Rama mendekat, dan ikut berbaring disamping Irene.
"Kenapa si?". Tanya Rama sehalus mungkin. Tangannya terulur untuk mengelus rambut isterinya yang tergerai. Namun baru menyentuh ujung rambut, tangan mungil sang isteri sudah menampiknya.
"Mas salah di kalimat yang mana?". Tanya Rama lagi. Kali ini dia memandangi punggung Isteri.
Dia mengingat- ingat obrolannya tadi dengan Irene. Isterinya itu menanyakan nama muridnya. lalu bertanya lagi bagaimana muridnya. Bukankah sudah di jawab dengan benar? Apa ada kata yang keliru?
Rama bertanya pada diri sendiri.
Karena shiren itu lumayan, jadi Aku tanyaa!!!
Kalimat terakhir Irene berkelebat.
Iya betulkan? Shiren memang dalam bidang akademik itu lumayan pintar, tetapi jika dibanding muridnya yang lain, memang ada yang lebih pintar lagi.
"Mas minta maaf kalau ada kata- kata yang keliru ya.. Jangan marah lagi.. Mas tuh nggak ada apa- apa dengan murid- murid di SMA.. Mas sudah punya Kamu..". Pada akhirnya lelaki dewasa itu meminta maaf terlebih dahulu, urusan kesalahannya di bagian mana, itu menyusul.
Irene masih tidak bergerak. Dia mendengarkan suaminya bicara, hanya saja masih malas membalas. Dia masih kesal dengan kata lumayan yang dikatakan suaminya.
"Mas tuh kalau lihat mereka, jadi inget kamu pas masih pakai seragam putih abu.. bikin kangen terus setiap hari..". Rama tersenyum mengingat momen- momen itu. Tanpa Rama ketahui, Isterinya juga tengah mengingat momen yang sama. Dia juga menarik sudut bibirnya.
***
"Jangan marah lagi.." Rama mengulurkan tangan untuk menyalami Isterinya. Irene meraih dan mencium tangan itu seperti biasa. Kali ini Dia hanya diam.
Setelah kepergian suami, Irene masuk ke dalam rumah. Menikmati setiap harinya dengan rasa sepi.
kring kriingg
Irene meraih hapenya yang tergeletak di ranjang. Melihat siapa yang menelpon di pagi hari. Fifi?...
"Halo Fi..."
"....".
"Aku di rumah Nenek Fi, iyaa.. mainlah". Irene mengangguk, kemudian meletakkan hapenya kembali karena panggilan sudah berakhir.
Irene keluar dari kamar, menuju ke dapur. Dia mengambil tiga toples berisikan kue kering pemberian Ibu mertua. Sahabatnya itu pasti sangat senang.
Beberapa saat kemudian, Terdengar suara ketukan pintu. Irene segera membuka pintu utama, dan terlihatlah wajah sahabatnya, Fifi.
Fifi segera memeluk Bumil kesayangannya.
"Sehat?". Tanya Fifi, begitu pelukan mereka terurai.
"Sehat donk.. Kamu sehat?". Irene membimbing Fifi untuk duduk di sofa.
"Pulang kapan?".
"Kemareen.. sebenernya Aku ke sini tauu, kemaren siang.. eh malah kamu nggak di rumah.." Keluh Fifi.
"Iya kah? hehee.. Aku kemaren jalan- jalan Fi.. Qitime..". Irene menaik turunkan alisnya. Membuat Fifi mendengus.
"Eh gimanaa.. Katanya bentar lagi wisuda yaa? cieeee.....".
Dua orang wanita berbeda status itu kemudian larut dalam obrolan.
***
Rama melirik jam di dinding. Sudah pukul 4 sore, Namun acara yang dia ikuti tak kunjung selesai. Dia hanya bisa menghembuskan nafas lelah.
Kepala sekolah secara mendadak menugaskan Dia mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Akreditasi Sekolah. Kegiatan yang sangat penting untuk almamater tempat nya mengajar, agar bisa memperoleh Akreditasi A.
Rama sudah mengabari Isterinya, bahwa dia akan pulang terlambat, namun tak kunjung mendapatkan respon dari sang Isteri. Aplikasi chat nya hanya menunjukkan centang 1, yang artinya Irene tidak mengaktifkan data internet. Dia mencemaskan Isteri hamilnya, ditambah lagi pagi tadi Si Isteri masih marah, gara- gara salah paham yang entah apa.
"Kami akan memberikan print out panduan akreditasi nya, silahkan Bapak Ibu bisa pelajari dan persiapkan proses akreditasi sekolahnya.." Suara Narasumber hanya tertangkap sekilas oleh Rama.
Beberapa waktu kemudian, kegiatan selesai. Rama bisa bernafas lega. Dia pamit untuk pulang mendahului yang lain, pikirannya sudah dipenuhi tentang Irene.
***
Setelah memacu motorku dengan kecepatan di atas rata- rata, Aku sampai di Rumah pukul lima sore lebih. Aku memarkirkan motor. Pintu utama terbuka lebar, sepertinya Isteriku sengaja membukanya, agar dia tak perlu menyambutku. hmmhh...
"Assalamu'alaikum...".
Tidak ku dengar jawaban, Aku langsung menuju kamar. Mungkin Irene sedang berada di Kamar mandi.
Selesai berganti kostum, Aku keluar dari kamar, bertepatan dengan Isteriku yang hendak masuk ke kamar.
Dia tampak sedikit terkejut melihatku. Aku tersenyum.
"Mas pulang pas kamu di kamar mandi..". Ucapku. Irene mengangguk, kemudian masuk ke kamar. Aku yang hendak keluar, mengurungkan niatku. Aku mengikutinya duduk di ranjang.
Dia menyibukkan diri membereskan baju yang baru saja diangkat dari jemuran.
"Makan kalau belum Makan, Aku sudah Masak mas...". Ucap Irene tanpa menatapku
"Ayo makan bareng..". Ajakku. Masih berusaha mencairkan gunung es.
"Aku sudah makan tadi bareng Fifi..".
"Pantes Mas chat kamu nggak bales, lagi ada temennya toh". Ujarku sambil manggut- manggut. Terjawab sudah kegelisahanku tadi siang.
"Hmmmm".
"Yaudah, Mas mau makan dulu.. Tapi habis itu, jangan marah lagi yaa.. Kalo mas salah, mas minta maaf, dan jangan jutek kayak gitu..". Aku menepuk pundak Irene lembut. Segera setelah itu bangkit dan berlalu menuju dapur. Cacing di perut sudah meminta diberi makanan.
Aku makan sambil memikirkan ngambeknya Irene. Jika marah dia lebih sering mendiamkan Aku. Bicara seperlunya. Muka masam. Kalau Aku sendiri, jujur lebih suka jika Irene cerewet. Kalaupun dia marah, lebih baik Aku mendengar keluh kesahnya daripada Aku di diamkan seperti ini. Rumah jadi semakin hening.
Apakah dengan mendiamkan, lalu Aku akan mengetahui?
Katakan jika Aku bukan suami yang peka, yah mungkin seperti ituuu adanya..🤧🤧🤧
***
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, saat Aku merasakan pergerakan Irene. Aku membuka mataku yang terasa sangat sepet (ngantuk berat). Ku lihat Isteriku bergerak dengan gelisah.
"Kenapa yang?" Tanyaku,
Tak terdengar jawaban dari Irene, hanya hembusan nafas berat, atau nafas kesal mungkin?
Sepertinya Ibu hamil ini tidak bisa tidur,
Aku mengulurkan tanganku mengelus punggungnya, perlahan dengan gerakan naik turun dan melingkar. Kebiasaan Irene jika tidak bisa tidur, selalu memintaku mengusap punggungnya dengan gerakan seperti ini. Aku menyunggingkan senyum, mataku mulai memejam lagi, namun tanganku masih bekerja.
Makasih...
Sayup- sayup Aku mendengar suara lembut Irene mengucapkan terimakasih. Atau mungkin Aku sedang halu? Ntahlah.. Aku sudah sangat mengantuk..
sleep well, honey😘 ucapku dalam hati.
.
.
Bersambung😘
Siapa di sini yang kalo marah lebih suka diem? Kalo Aku sih YES🤣
Diem itu menenangkan kalo menurutku..