
Terimakasih yang sudah mampir🥰
.
.
.
Lanjut yaa
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Aku sudah berada di penghujung semester pertama. Ya, time flies so fast😬🤭 Hari ini pembagian raport bagi semua siswa SMA, termasuk kelas 10A. Sebagai walikelas, Aku mempunyai tugas memberikan raport itu pada mereka (siswa siswi kelas 10A). Aku cukup bangga dengan nilai yang diraih oleh anak didikku. Mereka sudah berusaha keras selama satu semester ini. Aku sangat berharap mereka berusaha lebih baik lagi ke depannya.
Setelah berceramah, memberi motivasi pada anak didikku, Aku mulai membagi raport, sesuatu ya ku tebak mereka sangat penasaran dengan hasil ujian mereka seminggu yang lalu.
"Pertama, Bapak akan mulai membagi raport untuk 3 orang rangking tertinggi yaa.." Kataku.
Suara murid berdengung namun masih terkontrol. Aku membacakan nama peraih peringkat ketiga di kelas.
"April Jasmine". Siswi yang ku maksud maju ke depan dan menerima rapot yang ku angsurkan.
"Belajar lebih giat lagi yaa". Kataku
"Siap Pak, Terimakasih". April kembali ke meja nya.
"Leni Afifah". Nama yang kusebut sebagai peringkat dua maju ke depan. Dia tersenyum senang. Dalam pengamatanku, Leni cukup rajin, Dia punya semangat yang tinggi.
"Tingkatkan lagi ya". Kataku memotivasinya, dia mengangguk.
"Terima kasih Pak". Leni kembali ke meja nya. Kini Aku akan membaca nama pemilik peringkat pertama di kelas 10A, sekaligus paralel di kelas 10.
Saat menerima nilai murid ini dari guru pengampu mata pelajaran, Aku sudah menduga dia akan meraih peringkat pertama. Walaupun saat pelajaran yang ku pegang dia sibuk dengan dunia khayalannya sendiri, namun ku akui penerimaannya terhadap materi cukup tinggi.
"Irene, Dewi Perdamaian". Aku tersenyum lebar. Aku masih ingat diary itu, nama yang berada di pojok lembar pertama.
Kelas mendadak ramai, ada yang bersiul dan bertepuk tangan. Sementara itu, Gadis itu yang semula menampakkan wajah lesu dengan tatapan sayu, berubah menjadi ekspressi kaget dan tidak percaya, mungkin karena namanya ku sebut sebagai peringkat pertama, atau alasan lain? Ntah.
Dia maju ke depan dan menerima raportnya. Dia tersenyum, dan Aku membalasnya.
"Selamat yaa.. Kamu juga peringkat 1 paralel.. Belajar lebih giat lagi dan semangatt". Kataku memotivasi. Senyum di bibirnya bertambah lebar.
"Terima kasih Pak". Dia kemudian berlalu ke meja nya.
Aku lanjut membagikan raport milik muridku yang lainnya. Mereka semua ku motivasi untuk lebih giat lagi dalam belajar. Setelah itu, Aku mengumumkan jadwal libur semester pertama selama dua minggu. Semua murid bersorak sorai. Aku tersenyum melihat tingkah mereka.
'Oke happy holiday my students🙃'.
***
Liburan yang menyenangkan menurutmu itu seperti apa? Apakah mengunjungi tempat wisata? Atau cukup tidur dan mimpi indah?🤔 Aku sangat menginginkan hal- hal itu, namun kenyataannya berbanding terbalik. Seminggu pertama Aku harus mengikuti acara untuk guru pengampu mata pelajaran ujian nasional. Ya Matematika salah satu materi dalam UN, jadi mau tidak mau kewajiban yang selalu menantiku setiap tahun ini ku jalani dengan penuh penghayatan. Semua demi muridku🥲.
Beruntung acara itu hanya berlangsung selama lima hari, selebihnya semoga Aku bisa bersantai, menyegarkan otakku, menanggalkan sejenak penat karena mengajar.
Aku bangun pagi dengan kondisi tubuh yang cukup segar pagi ini. Yaa dua hari sudah Aku menikmati liburan, yang benar- benar liburan.
"Rama, nanti antar Ibu ke pasar ya". Ibu yang baru saja selesai menaruh piring kotor ke tempat cucian berkata padaku. Aku menaruh piring kotorku dan mencucinya juga, sekalian milik Ibu dan Ayah.
"Tumben nggak sama Ayah bu, hehe". Aku meledek Ibu.
"Sekali kali sama anak ibu yang paling gagah boleh kan?". Ibu tak mau kalah. Kami tertawa bersama. Saat- saat bercanda seperti ini, Aku sangat menyukainya. Momen bersama Ibu dan Ayah adalah hal indah yang sedang Aku ukir. Walaupun di usia seperti sekarang ini, seorang anak akan cenderung dekat dengan kawannya dibanding orang tuanya. Aku berbeda, Aku tidak bisa jauh dari Ibu dan Ayah. Kedekatanku dengan kawan tidak boleh lebih besar dari pada kedekatanku dengan Ibu dan Ayah.🆗️
Seperti janjiku pada Ibu, Aku sudah bersiap di atas motor kesayanganku untuk mengantar Ibu ke pasar. Jam sudah menunjukkan pukul 9 kurang. Aku segera meluncur, begitu ibu telah naik dengan sempurna di jok belakang.
***
"Pak Rama?". Sebuah suara mengagetkanku. Aku sedang memperhatikan Ibu yang sedang menawar harga daging dengan lihai. Aku menengok ke sumber suara.
Di depanku terlihat Irene sedang menenteng belanjaan, sama sepertiku. Aku tersenyum membalas senyumannya yang sudah terbit sejak tadi. Melihat senyum itu, kok Aku jadi inget diary ya? haduuhh🤦♀️
"Oh Irene.. Sendiri?". Tanyaku.
"Dengan Bibi saya, Pak". Jawabnya. Bukankah pasar ini terlalu jauh dari rumahnya ya?. Aku bertanya- tanya.
"Lagi ngobrol dengan siapa, Nak?". Ibu yang sepertinya sudah selesai menawar daging, ikut mengagetkanku. Ibu melirik ke arah Irene. Sementara gadis itu tersenyum ramah pada Ibu, dan Ibu melakukan hal yang sama.
"Murid di SMA tempat Rama mengajar, Bu". Jawabku Jujur. Ya dia memang muridku. Ibu manggut- manggut. Mengerti.
"Oh iya bu, terimakasih waktu itu makan siangnya, kentang baladonya enak sekaliiii". Irene berkata pada Ibu. Ibu terlihat bingung. Beliau melirikku, seolah bertanya, 'Makan siang yang mana?'.
Aku nyengir.
"Kotak nasi itu Bu, yang Ibu isikan nasi dan lauknya". Aku menjelaskan. hhh sesuatu yang ku tutupi terbuka juga sekarang😖.
Ibu tersenyum, tanda bahwa beliau ingat hal itu, padahal sudah lama.
"Ah iyaa.. Syukurlah kalau kamu suka, Nak..". Jawab ibu. Dia terlihat senang karena masakannya dipuji. Ibuku.. Ibuku.. Hehe.
"Lain kali kamu bisa makan masakan Ibu lagi, mampir saja ke rumah ya..". Ibu terlihat antusias. Ya, Ibu menyukai anak perempuan, dari semua anaknya yang berjumlah tiga orang, tidak ada yang berjenis perempuan. Aku memahami Ibu.
"Hehe, Iya bu, InsyaAlloh kalau nanti ada kesempatan.. Jauh juga sih Bu dari rumah nenek saya". Dari suaranya, Irene terlihat sangat senang dengan ajakan Ibu, namun dia seperti berat juga.
"Loh memang rumahmu dimana?". Tanya Ibu lagi. Ibu berhenti sebentar demi menatap mata Irene yang berjalan di sisi kanannya. Aku diacuhkan dan berjalan dibelakang. hhh..
"Di desa Angin bu.. Kabupaten sebelah..".
"Ohh begitu, Ibu kira kamu dari daerah sini aja Nak.. belanjanya di sini.. Hehe". Ibu tersenyum lebar, baru mengetahui bahwa Irene bukan penduduk di sini.
"Iya bu, Bibi saya tinggal di dekat sini, kebetulan liburan saya main..". Jelas Irene.
"Ah itu Bibi saya, Bu.. Saya permisi ya Bu". Ibu mengangguk. Irene memutar badannya ke belakang, menatapku.
"Mari Pak". Dia mengangguk dan berlalu.
"Iya".
'Hati- hati'. Imbuhku dalam hati.😁
"Kamu bohong sama Ibu?".
"Eh?"
.
.
.
.
Bersambung😘
(Sepertinya Pak Rama bakal diintrogasi sama emaknya😁)