360 DAYS

360 DAYS
Ibu



Terima kasih untuk yang sudah membaca dan mendukung karya ini🥰🙏 selalu tinggalkan jejak yah..


.


.


Lanjut.


.


.


POV Ibu:


"Ibu sedang membuat kue?". Aku melirik ke arah anakku.


"Iya, Nak". Aku menjawab singkat, kemudian ku lanjutkan makan.


Sudah satu minggu lebih Aku mendiamkan anak bungsuku itu. Bukan benar- benar diam, hanya tidak mengajaknya ngobrol seperti biasa. Aku merasa kecewa padanya. Dari tiga orang putraku, entah mengapa tidak ada yang mau mendengarkanku soal pasangan yang sesuai kriteriaku. Waktu itu, anak pertama dan keduaku, menikah dengan wanita pilihan mereka, padahal dulu Aku sudah mendekatkan dengan calon yang menurutku, lebih baik. Nyatanya Mereka tidak mengindahkanku, tetap memilih pilihan mereka.


Aku tidak membenci menantuku setelah keputusan putra- putraku, bagaimana Aku bisa membenci? Jika Mereka memberiku cucu- cucu yang begitu lucu. hmhhh...


Harapanku begitu besar pada Rama, anak bungsuku. Aku ingin dia menikahi Laila, anak sahabatku. Nyatanya? Dia malah menyukai anak itu. Irene.


Aku merasa menyesal, Aku tidak berpikir panjang, bahwa apa yang Aku lakukan akan menjadi seperti sekarang ini. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah, Aku tetap menyayangi anak perempuan itu. Ya, dari awal Aku sudah jatuh hati pada anak itu. Dia seperti mengobati dahagaku yang sangat menginginkan anak perempuan.


"Melamun apa Bu?". Suamiku, Mas Pram, Menyentuh pundakku. Aku langsung menengok ke arahnya.


"Nggak apa mas.. lagi nunggu kuenya mateng saja..". Ujarku.


"Terima dia, Dia akan benar- benar menjadi anak perempuanmu..".


Ya, Aku mengerti ucapan itu. Mas Pram sudah berulangkali mengatakannya. Harusnya Aku senang, Namun... Karena segala sesuatu tidak berjalan seperti kehendakku, Aku terlanjur kecewa.


Aku tersenyum merespon ucapan suamiku.


"Mau berangkat sekarang, Mas? Hati- hati yaa..". Aku meraih tangannya, dan menciumnya takzim. Dia mengangguk dan segera berlalu.


Aku melongok ke arah oven, kue yang ku buat sudah matang.


Irene begitu menyukai kue kering buatanku, entah karena memang suka atau karena menghormati apa yang disajikan oleh tuan rumah.


Aku tersenyum mengingat tingkah anak perempuan itu, Dia begitu lugu, apa adanya, dan selalu ceria. Aku bahkan kaget saat mengetahui Fakta bahwa anak itu sudah yatim piatu. Rasa sayangku bertambah besar padanya. Aku memberi perhatian lebih padanya, mengirimnya kue atau bekal makan siang melalui putra bungsuku.


"Bu, Kue keringnya enak banget.. Irene sering dibelikan sama Bibi, tapi rasanya beda.. ini enak banget..". Ucap anak itu, begitu selesai menelan kue nastar buatanku. Aku tersenyum senang mendengarnya. Menantuku, mana pernah memujiku seperti itu.


"Benarkah? Habiskan kue nya. Besok Ibu buatkan lagi yaa..". Ucapku antusias. Aku yang hobi membuat kue, mendapat pujian seperti itu, sungguh menambah semangatku.


"Terimakasih ya Bu..". Anak itu tersenyum sangat tulus padaku.


Hingga suatu hari, Saat peristiwa kecelakaan yang menimpa putraku, Aku menyadari sesuatu. Irene, yang kuanggap anak, Dia ternyata menaruh hati pada Rama. Anak perempuan itu tidak memikirkan luka di tubuhnya, malah diam- diam selalu menjenguk putraku. Aku bahkan sempat membentaknya karena dia begitu keras kepala. Aku tidak masalah dia menyukai anakku, Karena ku pikir perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu, lagipula Rama tidak menaruh hati pada Irene. Sehingga semua aman terkendali.


"Hmmhh.. Dan sekarang semua berjalan tidak sesuai keinginanmu.. Lalu mau bagaimana?" Aku bermonolog. Aku mengelap keringat di keningku dengan ujung jilbab. Pikiranku kembali mengurai kenangan yang lalu...


"Apa benar Pak Rama akan menikah, Bu?". Gadis di depanku menatapku sendu.


"Ini Laila, dia calon isteri Kakakmu, Ren..". Aku meraih bahu Laila. Laila hanya tersenyum kecil. Laila tahu bukan ini yang sebenarnya, Aku menggeleng pelan agar Laila tidak berbicara. Aku sengaja menyebut anakku sebagai kakaknya, agar dia menyadari bahwa Rama adalah Kakak, selamanya begitu.


Irene beralih menatap Laila, gadis itu masih sempat tersenyum pada Laila. Aku tahu itu senyum terpaksa.


Irene berada di rumahku kurang lebih tiga jam. Sedangkan Laila, perempuan yang ku gadang- gadang sebagai calon Isteri Rama, dia sudah pergi setelah Aku memperkenalkan nya sebagai calon Isteri pada Irene.


Irene mengatakan tujuannya datang ke rumahku adalah, Dia ingin pamit padaku bahwa dia akan kuliah di Semarang, mungkin akan menyebabkan dia jarang berkunjung lagi. Aku mendoakan kesuksesannya selalu. Setelah itu, dia bercerita banyak hal, terutama tentang sikap anakku yang membuatnya berpikir bahwa Rama menaruh hati padanya.


"Ibu yang meminta Rama untuk memperhatikan mu, Nak.. Ibu sangat menyayangi kamu..".


Aku mengelus pucuk kepalanya. Aku tidak sepenuhnya berbohong. Awalnya memang Aku yang meminta anakku berempati pada Irene, Namun untuk hal yang dia ceritakan seperti mengajak jalan dan makan, itu bukan kehendakku.


"Irene menyukai Pak Rama, Bu...". Kalimat itu meluncur dari bibirnya. Aku menatap mata sendu itu. Aku tahu fakta itu bahkan sejak di rumah sakit tempo hari.


"Irene nanti akan pamit ke Pak Rama, Bu.. Biar Irene tunggu..". Kepalaku langsung berpikir.


"Biar nanti Ibu sampaikan ke Kakakmu.. Kamu harus bersiap untuk berangkat besok kan?". Aku membujuknya.


"Baiklah Bu..". Akhirnya anak itu pulang ke rumahnya. Aku lega, Karena itu berarti Rama tidak akan bertemu dengan Irene. Aku berpikir, momen Irene pergi melanjutkan pendidikannya adalah kesempatan untukku mendekatkan Laila dan Rama.


Waktu terus berjalan, 4 tahun telah berlalu sejak hari itu. Rama menuruti semua kemauanku untuk dekat dengan Laila. Aku berharap mereka berdua segera menikah. Putra bungsuku sudah berusia 31 tahun, usia yang cukup matang untuk memulai sebuah keluarga. Kedua kakaknya waktu itu menikah di usia 26 tahunan.


"Rama sudah mengatakan pada Laila untuk tidak melanjutkan..Rama tidak bisa berbohong dan menjalani dengan terpaksa hubungan ini, Bu.. Cukup 3 tahun sudah Rama jalani dengan sia- sia.. dan Aku tidak mau melanjutkannya..". Kalimat anakku bagai petir di siang bolong. Aku benar- benar terkejut. Aku kira tadi dia akan mengatakan bahwa dia ingin segera menikahi Laila, ternyata?


Aku segera berlalu meninggalkan Suami dan dua anakku. Aku merasa sangat kecewa. Harapanku sudah hancur berkeping keping.


Setelah itu, Aku mulai mendiamkan Rama. Ini bentuk protesku terhadap keputusannya. Anak itu, rupanya cuek akan sikapku. Dia sekarang terlihat lebih bahagia. Berbeda dengan beberapa tahun ke belakang. Apa Aku harus mengalah LAGI?.


Aku mengusap sudut mataku, mengingat itu semua membuatku sesak. Semua terjadi karena Aku terlalu memaksakan kehendakku pada anak- anak. Aku menyadarinya. Aku hanya berharap anak ku mendapatkan yang terbaik, menurut versiku. Itu saja.


Hmhhh.. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ku tatap 6 buah toples kue kering di hadapanku. Kue kering itu sudah selesai ku masukkan semua ke dalam toples.


.


.


"Ibu harap kamu masih menyukai kue ini". Ujarku lirih, sambil menyentuh toples itu.


.


.


Bersambung😘