360 DAYS

360 DAYS
Tentang Irene



Terimakasih yang sudah meluangkan waktunya membaca serta memberi dukungan ke author🥰


.


.


Lanjut yaa😘


Irene masih menundukkan wajahnya, kali ini semakin dalam.


"Kamu tidak perlu bercerita jika berat, Ren". Aku berkata. Ya memang sakit jika harus mengingat kejadian menyedihkan di masa lalu, namun, jika dengan berbagi membuat rasa sakit itu berkurang, tidak ada salahnya bukan?. Aku walikelasnya dia bisa bercerita apapun padaku, Aku tidak mau anak didikku menyimpan beban sendirian, yang akhirnya dapat mempengaruhi prestasinya.


"Ayah.. dan Ibu dulu meninggal karena...kecelakaan.. dan itu salah sa.. saya". Irene mulai bersuara, terbata. Aku mendengarkan.


"jika.. jika saya tidak..". Suara tangisan lirih mulai terdengar.


"bodohnya saya selalu memaksa jika meminta sesuatu".


"Dan.." Irene mendongakkan kepalanya, menatapku penuh rasa bersalah.


"Jika waktu itu saya tidak memaksa mengantarkan titipan bibi.. pasti bapak tidak akan mengalami kecelakaan itu.."


"maafkan sayaa". Dia menunduk lagi. Aku hendak menyentuh bahunya, mencoba menguatkan, namun tanganku hanya mengambang, tidak berani menyentuh. Aku meletakkan tanganku kembali.


"Itu bukan salahmu, waktu itu saya sedang melamun..".


"Jangan terus menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang sudah menjadi kehendak Tuhan, Ren". Aku memberi penghiburan.


"tapi Pak..". Dia mendongak lagi, dia menghapus air matanya.


"Baiklah, Bapak memaafkan kamu.. Apa ini membuat kamu lega?".


Irene mengangguk.


Ah iya, Aku lupa, Aku juga harus mengatakan sesuatu tentang kesalahpahaman antara Ibu dan Irene.


"Ibu bilang, Ibu membentakmu saat di rumah sakit.. benar begitu?". Irene menggeleng dengan cepat, tidak membenarkan perkataanku.


"Tidak Pak.. Saya tahu Ibu hanya khawatir ke saya.. saya yang terlalu keras kepala.. Maaf".


"Ibu ingin meminta maaf ke kamu, kapan- kapan kamu main ke rumah.. agar Ibu lega yaa". Aku mencoba membujuknya. Dia mengangguk pelan, seperti masih ragu.


Aku bertanya beberapa hal pada dia, ya hal- hal ringan seputar pendidikannya. Aku bertanya juga bagaimana dia belajar selama Aku terbaring di Rumah sakit. Dia menjawab setiap pertanyaanku. Aku senang dia sudah tidak murung.


"Kamu tidak perlu sungkan bercerita ke Bapak tentang masalahmu, kamu tahu kan, kalau berbagi cerita itu tidak ada salahnya..".


"Kalo ragu, anggap bapak temanmu, ah bukan.. anggap saya kakakmu mulai dari sekarang". Aku tersenyum, Irene sedikit terkejut dengan perkataanku. Ya pasti dia terkejut dengan 'anggap aku kakakmu'.


'Saya juga terkejut pas ibu mengatakan kamu adik saya'. Aku tertawa dalam hati.


"Kamu bisa panggil saya KAK..".


Irene menutup mulutnya, dia lebih kaget lagi. Dia menggeleng.


"itu kalau tidak ada teman- temanmu yaa hehee". Aku tertawa mengingat ide ku sendiri. Betapa lucunya Aku, demi muridku tidak lagi merasa bersalah, Aku harus merelakan dipanggil KAK.🤦‍♀️


"Pasti canggung sekali, Pak.. hehe". Dia tertawa kecil.


Dua jam lebih Aku berada di Rumah Irene. Kakek Neneknya ikut bergabung, dan kami bercerita banyak hal. Satu pertanyaan yang membuat Aku kikuk adalah, saat Kakek Irene menanyakan Apakah Aku sudah menikah?


Aku menjawab sambil tertawa canggung,


"Saya belum menikah, Pak". Irene tampak tersenyum dengan pertanyaan Kakek dan jawabanku. Senyum itu senyum yang biasa, yang kemarin sempat hilang. Beberapa saat itu membuat Aku terdiam.


'Hisshhhh..' Aku menggerutu dengan tingkah anehku.


***


"Apa saya boleh mengikuti Les di tempat Bapak?". Suatu hari, di suatu kesempatan, Irene bertanya padaku.


"Tentu saja boleh, sebentar lagi ujian kenaikan kelas kan? harus banyak belajar..". Aku menjawab. Irene tampak senang dengan jawabanku.


"Kelas 10 jadwalnya seperti kemarin kan, Pak? pas bimbingan".


"Iya seperti kemarin..".


Aku sudah memasuki kantor, Irene meletakkan tumpukan buku tugas yang tadi di bawanya, di atas mejaku. Anak itu tadi menawarkan diri membawakan buku tugas kelasnya.


"Saya permisi pak".


"Terimakasih yaa..". Irene berlalu dari kantor, kembali ke kelasnya.


Aku menatap kepergian Irene. Aku menghembuskan nafas berat. Ada sesuatu yang membuat ku sesak, ini tentang anak itu, Irene. Selepas Aku menjenguk Irene waktu itu, Dia semakin intens mendekat. Itu yang Aku rasakan. Dia menunjukkan dengan kentara bagaimana dia menganggapku. Aku mengizinkannya menganggap Aku kakak, namun dia meminta lebih.


'Aku merasa itu beban, namun Aku tidak bisa menghindar'


***


Di suatu kesempatan yang lain, Aku mendapat kejutan kedatangan Raisa ke rumahku. Dia datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Tidak biasanya dia seperti itu. Biasanya dia akan mengirimi Aku pesan.


"Tumben tidak kirim pesan dulu?". Aku bertanya, setelah menyuruhnya duduk. Tadi Ibu yang membuka pintu untuk Raisa, karena Aku berada di kamar, hendak istirahat sebentar setelah lelah memberikan les.


"Sore lagi..". Kataku lagi. Raisa hanya tersenyum.


"Ya Aku pengin main aja, mas.. Nggak boleh yaa?". Dia merengut, aku tahu dia hanya pura- pura.


"Boleh lah, siapa yang bilang nggak..".


"Takut pacar mu tau yaa.. hahahaa". Raisa tertawa, dia menutupi mulutnya dengan tangan. Aku mendelik. Maksudnya apa coba.


"Nggak lucu". Aku tidak meladeni ledekannya. Raisa di satu- satunya teman perempuanku yang senang sekali meledekku. Dari 4 orang yang dekat denganku, dia yang paling cantik, karena memang hanya dia yang perempuan. hehee. Ah iya, sekedar bercerita sedikit tentang Raisa, Raisa adalah temanku sejak SMA, kami juga kuliah di universitas yang sama, walaupun dengan Fakultas yang berbeda. Selepas Aku lulus S1, Aku dibantu olehnya supaya Aku bisa langsung mengajar di SMA tempatku mengajar sekarang. Ayahnya waktu itu kepala sekolah SMA, 2 tahun setelah Aku mengajar, Ayahnya pensiun. Boleh dikatakan Aku bisa mengajar karena orang dalam.🤣


"Kenalin Aku ke pacar baru mu..". Raisa berkata lagi. Dia tidak lagi tertawa, dia hanya tersenyum. Dia meminum teh yang sudah ku suguhkan.


"Tidak ada pacar, dan belum kepikiran Aku, Sa".


"Kesini sore- sore pasti nggak cuman mau main, mau sebar undangan apa?". Aku balik meledeknya.


"Yee malah mengalihkan pembicaraan".


"Iya, ini undangan hehe, Dateng yaa..". Raisa mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Benar sebuah undangan dia berikan.


"Datengnya jangan sendirian tapi.. hahaa". Lagi- lagi dia meledekku. hadeehhh..


"Serah lah..". Aku menerima undangan itu. Aku senang dia akan segera menikah. Aku tidak banyak tahu tentang kehidupan pribadinya selama ini, karena dia tidak pernah bercerita apa- apa. Saat dia waktu itu memintaku menemaninya ke sebuah acara, diapun tidak bercerita, malah semua orang mengira Aku adalah calon suami Raisa. Dimana calon suami Raisa saat itu, seharusnya yang menemani kan dia bukan Aku.


Ah sudahlah..


"InsyaAlloh Aku datang di hari bahagiamu, sa.. selamat yaaa". Aku tersenyum lebar. Raisa balas tersenyum. Aku menangkap sesuatu yang lain di senyumnya.


Ada apa sih dia?


.


.


.


Bersambung😘