360 DAYS

360 DAYS
gandengan



Terimakasih yang sudah hadir untuk membaca dan mendukung karya ini🥰


.


.


Lanjut ya😘


.


.


"Ibu nitip salam saja untuk Raisa ya.. Semoga kehidupan pernikahannya diliputi kebahagiaan". Ibu menitip pesan padaku, sebelum Aku berangkat ke acara Raisa.


"Irene ada di rumah bibi nya, Nak". Lagi dan lagiii. Aku tersenyum pada Ibu.


"Iya buuu.. Rama tidak lupa".


Ya, selepas dapat undangan dari Raisa sore itu, Aku mengatakan pada Ibu. Ibu turut senang dengan kabar yang dia dengar, walaupun dia sempat mencandaiku, bahwa dia kecewa Raisa tidak menjadi calon menantunya. Aku tidak merespon berlebih soal candaan Ibu.


"Ibu temani Rama ke nikahannya Raisa ya..". Aku memulai, Aku tidak berfikir bahwa ajakanku pada Ibu malah membawa ku pada kondisi saat ini.


Irene sudah berada di jok belakang, dia tadi agak ragu saat hendak naik. Namun Aku mengatakan tidak apa- apa.


'Apa dia masih takut?'. Aku membatin.


Jujur membawa Irene ke pernikahan Raisa, bukan ide yang bagus. Aku tahu itu. Namun lagi- lagi Ibu menggunakan senjatanya, memaksaku.


Aku khawatir nanti penduduk sekolah (Guru, dan staf yayasan) mengetahui Aku yang datang bersama salah satu siswi sebagai gandengan🤦‍♀️. Aku bisa saja memberi alasan, namun bukan berarti kedepannya akan mudah kan?. Raisa adalah anak dari mantan kepala sekolah SMA, pasti Rekan Guru hadir. Karena Undangan dari Raisa ditujukan untuk semua civitas akademik SMA. Aku masuk di dalamnya, namun Aku juga mendapat undangan secara pribadi dari Raisa. Rekanku memang mengatakan bahwa Mereka akan hadir di pagi hari, menggunakan minibus sekolah, namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa guru yang bisa saja datang bersamaan denganku kan?


"Pak, jangan melamun lagi ya". Irene menepuk bahuku pelan. mengingatkan Aku kejadian yang lalu.


"Iyaa..". Aku kembali fokus menyetir motorku. Kubiarkan kekhawatiranku. Itu urusan nanti, yang penting sekarang adalah Aku datang ke nikahan Raisa dengan selamat, karena Aku membawa nyawa orang lain juga.


"Kamu membawa hadiah juga untuk teman bapak?". Aku bertanya, karena tadi Irene membawa paperbag.


"Hehe iya pak.. biar nggak canggung, masa datang ke nikahan nggak bawa apa- apa.. walaupun cuman nemenin". Irene menjawab, Aku tersenyum.


Setelah berkendara kurang lebih setengah jam, Akhirnya Kami sampai di tempat acara. Ramai sekali. Itu yang ku lihat. Aku memandang beberapa saat, mencari- cari apakah ada rekan guru diantara tamu undangan.


"Pak.. Apa tidak apa- apa ya saya ikut?". Irene tampak gelisah. Aku melihat dia, Dia rupanya berpikir yang sama denganku.


"Saya nunggu di sini saja ya Pak. Bapak bisa masuk sendiri, tapi saya titip ini untuk Mba Raisa..". Irene menunjukkan paperbag yang sedang dipegangnya.


"Sudah tidak apa- apa.. Ayo kita masuk". Aku reflek meraih tangannya untuk berjalan. Namun Irene tidak bergerak, Akupun menengok ke belakang, melihat dia berdiri dengan kaku sambil melihat tanganku yang sudah memegang tangannya.


"Oh maaf.. Ayo kita masuk". Aku segera melepaskan tangannya. Ya ampuun Aku jadi merasa kikuk, bagaimana bisa begitu?🤦‍♀️ Anak itu segera mengikutiku, berjalan di sebelahku. Aku melirik dia melalui ekor mataku, bocah itu berjalan sambil menunduk.


'Apa yang dipikirkan dia soal itu yaa. ya ampuun' Aku menggerutu dalam hati.


Aku memasuki gedung. Aku melihat di depan sana, Raisa bersanding dengan lelaki yang menjadi suaminya. Aku dan Irene mendekat ke arah panggung. Dari jauh Aku bisa melihat Raisa menatapku. Dia tersenyum, kemudian dia berbisik ke suaminya. Si suami pun ikut tersenyum dan menatap padaku.


"Selamat ya Raisa, dan Mas.. semoga bahagia selalu pernikahannya dan segera di beri momongan.. aamiiin..". Aku tulus mendoakan sahabatku ini.


"Makasih ya mas.. doa yang sama untuk kalian". Raisa tersenyum simpul. Aku tahu senyuman itu, menggodaku soal gandenganku saat ini.


"Terimakasih..".


"Irene.. Kamu bisa kasih hadiahmu sekarang". Aku beralih ke Irene, anak itu diam dari tadi.


"Eh iya kak". Aku sedikit kaget dengan panggilan Irene padaku, namun Aku menguasai diriku. Aku sudah pernah mendapatkan panggilan itu dari dia.


"Selamat ya mba sama mas.. bahagia selalu..". Irene tersenyum, menyalami Raisa, kemudian menyerahkan paperbag yang dia bawa.


"Makasih yaa..". Raisa menerima dengan senang hadiah dari Irene.


"Pak, saya lihat ada Guru Bahasa Inggris masuk, bagaimana ini..". Irene berbisik padaku, masih mengikutiku mengambil makanan. Aku reflek mengedarkan pandanganku, Dan benar, Pak Hendri sedang berada di panggung pelaminan. Pak Hendri menengok ke arahku, Ahh pasti Raisa mengatakan padanya tentang kedatanganku.


Okeeyy selamat datang masalaah😌.


"Saya duduk di meja lain ya Pak..". Aku belum menjawab, Namun anak itu sudah berjalan cepat, mengambil arah yang berlainan denganku.


Bukankah jika menghindar begini malah membuat curiga ya? baiklaah..


Aku mengikuti arah Irene, dan duduk di meja yang sama dengan dia. Irene kaget dengan apa yang Aku lalukan. Namun dia diam saja.


"Kalau pisah begini malah nanti pikirannya aneh- aneh.. sudah tidak apa- apa..". Aku berkata.


Seperti yang sudah ku duga, Pak Hendri mendekat ke arah meja yang sedang ku duduki.


"Permisi.. ". Rekanku itu meletakkan piring berisi makanan, dan duduk. Aku tersenyum dan mengangguk pada-nya. Aku mengusahakan tersenyum seperti biasa.


"Saya kira sudah ikut rombongan yang pagi, Pak..". Aku bertanya begitu dia sudah mulai melahap makanannya.


"Iya Pak, niatnya begitu, ternyata pas pagi ada keperluan".


Irene yang duduk di bangku yang sama hanya diam dan memakan makanannya sambil menunduk.


"Ini Irene kan?". Pak Hendri bertanya tiba- tiba, Aku melihat ke arahnya. mengangguk.


"Eh??".


"Iyyaa Pak". Anak itu mendongak dan tersenyum canggung pada guru bahasa inggrisnya.


Pak Hendri tidak bertanya lebih lanjut tentang Irene yang menemaniku. Ah syukurlaah, setidaknya anak itu tidak semakin canggung. Biar nanti Resikonya kuterima sendiri. Aku tahu temanku itu tidak akan tinggal diam.🥴


Kami mengobrol biasa, sambil menikmati beberapa camilan yang ada di meja.


"Apa sudah selesai, Kak?". Irene bertanya sambil berbisik. Beberapa kali Aku melihat dia melirik ke arah guru bahasa inggris. Aku tahu dia merasa tidak nyaman, walaupun Pak Hendri tidak bertanya lebih lanjut soal keberadaannya.


"Iya ini sudah selesai, Saya pamit ke Raisa dulu yaa.. sebentar, Kamu di sini saja".


Aku mengajak Pak Hendri untuk pamit. Setelah berpamitan dengan pemilik acara, Aku meninggalkan gedung bersama Irene. Anak itu berjalan sambil menunduk seperti tadi.


"Kamu saya antar ke rumah saja ya?". Aku bertanya.


"Iya Kak".


"Oiya Pak, Apa tidak masalah soal tadi yaa..". Irene bertanya, saat kami sudah sampai di tempat parkir motor.


"Soal?"


"Iya soal tadi kita bertemu dengan Pak Hendri...".


Aku diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat, tentu saja agar anak itu tidak merasa khawatir lagi. Aku yang mengajaknya untuk datang bersama ke pernikahan Raisa, dan dia tidak perlu memikirkan resikonya.


"Tidak apa- apa.. tidak usah khawatir..".


.


.


entahlah, semoga benar tidak apa- apa.


.


.


Bersambung😘