
Terimakasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya ini😘
.
.
.
Lanjut yaa..
"Ini punya siapa?" Tanya ibu.
Aku menerima benda yang diulurkan Ibu.
"Ahh Rama lupa Bu, itu kotak nasi punya teman belum dikembalikan hehe". Aku nyengir sambil menggaruk tengkukku. Tidak mungkin Aku mengatakan yang sebenarnya bahwa itu milik Muridku, nanti dikira Aku ada apa- apa.
"Besok dikembalikan, walaupun orangnya nggak minta, tapi kamu yang harus peka. Siapa tahu temenmu itu hanya punya satu kotak bekal kan?". Nasehat Ibu.
"Iya bu, besok Rama bawa kotaknya". Aku hendak berlalu saat Ibu malah menahan tanganku yang memegang kotak.
"Mau dikembalikan kosongan? Ya ampuun naak, kamu itu yaa". Ibu mengambil kotak nasi dengan paksa. Aku bingung.
"Eh? Terus gimana buu?".
"Biar besok ibu isi kotak nasinya, terus kamu bawa..". Selesai berkata Ibu langsung berlalu dari hadapanku, masuk ke dalam dapur lagi dan meletakkan kotak nasi itu di rak piring.
Aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Sabaarrr.
'Ah iya, Ibu benar juga, tidak ada salahnya membalas kebaikan seseorang, Kalau waktu Aku tidak makan tepat waktu bisa- bisa sudah masuk rumah sakit'. Batinku.
Aku kembali memasuki kamarku, dan melanjutkan aktifitas yang tadi sempat tertunda.
***
'Jangan lupa, bilang terima kasih ke temanmu Nak, dari Ibu'
'Memangnya ada apa, Bu?'. Ayah ikut berbicara.
'Itu, kotak nasi punya temen Rama, belum dikembalikan' Jawab Ibu.
'Oohh'. Ayah manggut- manggut.
Aku mengingat percakapan tadi pagi di meja makan. Benda yang dimaksud oleh Ibu masih berada di paperbag. Masalahnya sekarang adalah, Aku bingung bagaimana mengembalikan benda itu pada Irene. Ditambah lagi diary itu ada di paperbag yang sama dengan si kotak nasi.
'Ya ampun Ramaaa, mengembalikan aja bingung. Tinggal kasih ke orangnya, SELESAI'. Bisik hati kecilku.
'Masalahnya dia itu muridku, dan perempuan'. Timpal sudut hatiku yang lain dengan menekankan kata PEREMPUAN.
'Ya terus kenapaa??'.
"Pak Rama?". Tegur Pak Hendri. Aku yang sedang melamun pun terjengit kaget.
"Ya ada apa pak?" Tanyaku.
"Melamun pak? Hehe, Mikirin apa pak". Pak Hendri tersenyum lebar. Aku jadi malu sendiri. Haha, pagi- pagi sudah melamun tak jelas begini.
"Hehe nggak pak". Aku tersenyum.
Aku:
Irene, Bpk minta tolong nanti jam istirahat bku tugas klasmu diambil ya.
pesan TERKIRIM🆗️ Masalah selesai. Aku pun bisa bernafas lega. Setidaknya sekarang. Semoga nanti tidak ada yang meledekku ya.🥴
***
Bel tanda istirahat pertama telah berbunyi. Aku yang sejak pagi tidak memasuki kelas, dan hanya sibuk dengan bahan ajar, atau diselingi dengan mengobrol dengan sesama guru, ikut bernafas lega. Jadi ingat zaman sekolah dulu, yang paling ditunggu itu bel tanda istirahat. Saat sudah menjadi guru bel istirahat pun masih menjadi sesuatu yang ditunggu, tetapi kadang ada rasa jengkel juga kalau bel berbunyi di waktu yang tidak tepat, saat sedang memberi penjelasan materi namun belum selesai misalnya.
"Assalamu'alaikum..". Aku menengok ke sumber suara. Irene berdiri di depan pintu kantor, dia tersenyum takzim pada guru- guru di ruangan. Dia kemudian masuk ke kantor dan menuju ke mejaku.
"Oh iya, ini buku tugas kelasmu". Aku menunjuk satu tumpukan buku. Irene dengan sigap mengambil tumpukan buku itu.
"Saya permisi dulu pak..". Dia hendak berlalu, namun Aku mencegah. Misi belum selesai. Batinku.
"Sebentar, Ren.. ini..". Aku mengangsurkan paperbag yang pagi tadi sudah disiapkan Ibu. Dia tampak bingung dengan benda yang ku berikan.
"Itu kotak nasi yang tempo hari, Bapak lupa mengembalikan. Maaf ya, dan Terimakasih". Kata ku tulus, meminta maaf atas kealpaan ku mengembalikan barang miliknya sekaligus berterima kasih. Bibir gadis itu membentuk huruf o, kemudian tersenyum sangat lebar.
"Oh iya pak, Terimakasih, Maaf". Ucapnya, karena menerima menggunakan tangan kirinya.
Diapun berlalu dari mejaku. Akupun menghembuskan nafas lega. Misi selesai😁.
"Wah Pak Rama ini, diam- diam yaa menghanyutkan".
"Eh?". Aku menengok ke meja sebelahku. Kulihat Pak Hendri dan beberapa guru memperhatikanku sambil tersenyum lebar. Ya ampuuun🤦♀️. Aku mencoba tersenyum, berpura- pura untuk biasa saja, padahal Aku benar- benar malu. Sudah ku duga hal seperti ini akan terjadi. Hmmm..
"Saya baru saja meminta tolong dia mengambil buku tugas kelasnya, Pak". Aku memberi alasan.
"Ada bonusnya yah Pak..". Kali ini Bu Suci ikut meledekku.
"Betul sekali bu, ada bonusnya.. hehe". Pak Hendri menambahi. Mereka tertawa melihatku, Apa ada yang lucu? Jangan- jangan Aku terlihat salah tingkah. Ya ampuun😖.
***
Kejadian tadi di saat jam istirahat pertama tentangku dan murid kelas 10 masih dibahas di ruangan guru. Aku yang bingung harus menjawab macam apa lagi, hanya merespon dengan tertawa saja. Rekan- rekanku ini, terutama yang sudah senior, kalau ada kabar menggelikan, pasti akan dibahas bahkan hingga waktu pulang sekolah. hhh, Sabaar.. sabaar.. Besok juga sudah reda. Batinku.
Aku berkemas, dan segera bergegas pulang, karena sore ini ada jadwal les, jadi harus bersiap- siap. Terutama Aku harus tidur siang, agar tidak lelah saat nanti memberikan les pada muridku. Aku menaiki motor kesayanganku, kemudian segera meluncur meninggalkan parkiran sekolah.
Irene:
Terimakasih makan siangnya Pak.. enak sekali kentang baladonya hehee
Aku membaca pesan yang masuk ke hape jadulku. Aku tersenyum membacanya. Aku duduk di kasur dan mengetik balasan.
Aku:
Itu Ibu yg masak, klo Sya yg masak pasti kamu gk bilang enak.
Terkirim🆗️
Aku:
Maaf ya, kotaknya Bpak lupa mengembalikan, sekali lagi terimakasih.
Terkirim🆗️
Beberapa detik kemudian muridku itu membalas.
Irene:
Iya pak, tidak apa2, sama2🙃
Aku meletakkan Hapeku. Aku akan mandi kemudian tidur siang, setelah itu bersiap memberikan les. Aku hendak bangkit dari kasur, saat Aku tiba- tiba mengingat sesuatu.
Tapi tunggu dulu... Irene tidak membahas buku diary nya?? Aku bertanya- tanya dalam hati. Tadi pagi, saat sudah berada di ruang guru, Aku ingat dengan jelas, Aku sudah memasukkan diary itu ke dalam paperbag yang sama dengan si kotak nasi.
'Ah sudahlah, syukurlah Irene tidak membahasnya'. Ujarku dalam hati. Akupun segera bergegas mandi.
.
.
.
Bersambung😘
(Aduuh Pak Rama itu bagaimana ya.. Harusnya dipastikan kalau Irene juga menerima buku curhatannya.. Kalo paperbag itu langsung dimuseumkan sama Irene gimana coba?? Irene pasti akan sangat kehilangan.. hmmm)