360 DAYS

360 DAYS
Manis kecut



Terimakasih atas dukungan pembaca sekalian, jangan lupa selalu tinggalkan jejak yaa.. Like, komen, kritik maupun saran😊


.


.


Lanjut😘


.


.


PoV RAMA:


Tahun ajaran baru 2019/ 2020, bulan Juli.


Serangkaian kegiatan rutin sekolah telah dilewati. Dimulai dari berlangsungnya Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, disusul penerimaan peserta didik baru, ditambah lagi dengan acara wisuda kelas dua belas, menambah daftar panjang kesibukanku sebagai bagian dari keluarga besar SMA. Aku menikmati rutinitasku itu, termasuk hari ini, Hari pertama pembelajaran, setelah beberapa hari dilakukan masa orientasi bagi siswa baru.


Setelah kemarin Aku diberi amanat untuk menjadi walikelas kelas 11, kali ini Aku diberi amanat untuk menjadi wali kelas 10C. Aku memasuki kelas itu, tepat saat bel tanda masuk kelas berbunyi.


Aku duduk di kursi kebesaran, dan menyapukan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. 25 murid ini adalah tanggung jawabku untuk membimbing mereka meraih prestasi.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya..". Aku menyapa murid- muridku. Semua menjawab salam dengan kompak.


"Pagi Paakk...".


"Sebelum kita masuk lebih jauh, Kita perkenalan dulu ya.. Ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang.. Betul?". Semua menyahut dengan heboh, terutama siswa laki- laki.


Aku menuliskan biodata singkatku. Seperti sebelum- sebelumnya, Aku menulis Nama, tanggal lahir, nomor hape, dan status. Satu poin yang terakhir itu membuatku tersenyum penuh arti. Status. Jika dulu Aku tidak pernah menuliskannya, Maka mulai tahun ini dan tahun- tahun selanjutnya, Aku akan menuliskannya. Hehe.. I've married. Right?. (Aku sudah menikah. Betul kan?)


"Doakan semoga calon anak bapak dan isteri sehat- sehat yaa..". Pintaku, saat ada salah seorang murid yang menanyakan berapa jumlah anakku. Hehe.


Ya di hari ulang tahunku beberapa hari yang lalu, tanggal 14 Juli, Aku mendapatkan kabar itu. Kabar keberadaan bayi di dalam kandungan Irene, isteriku. Setelah 9 bulan pernikahan, Akhirnya Alloh memberikan kami amanah berupa anak. Itu adalah kado terindah yang Aku terima. Dan kabar itu juga menjadi kabar membahagiakan bagi keluarga besarku, dan Irene tentunya.


Aku memanggil satu persatu nama muridku, untuk mereka memperkenalkan diri. Setelah selesai, Aku mulai memberikan wejangan (nasehat) untuk mereka, dimulai dari proses belajar, menjaga sikap, menghormati guru, mencontoh senior yang berprestasi dan lain sebagainya. Aku juga berharap mereka bisa menjadi siswa yang berprestasi baik di bidang akademik dan non akademik.


"Dan itu dimulai dari sekarang.. Tidak ada yang bisa membuat kalian berprestasi selain kalian sendiri.. Usaha kalian sendiri.. Banyak contoh kakak kelas kalian, Ambil hal yang baik dari mereka, dan buang hal yang buruk..". Ucapku.


Bagiku, membangun motivasi di awal mulainya pembelajaran adalah penting. Langkah pertama sangat menentukan. Jika langkah pertama diambil dengan main- main, percaya kedepannya tidak akan baik. Aku mengamati semua murid- muridku, dari tahun ke tahun. Mereka yang serius belajar, keluar sebagai pemenang.


"Siap ya Kita belajar bersama- sama?". Tanyaku dengan penuh semangat.


"Siap Paakk!!". Kompak mereka menjawab. Aku tersenyum.


"Bagus.. Dan buktikan kesiapan kalian..". Tandasku di akhir.


***


Disela mengajar, Aku menyempatkan diri menghubungi Irene. Aku khawatir dia membutuhkan sesuatu, dan Aku tidak mengetahuinya.


"Iya Mas.. Aku baik- baik aja. Nggak pengin apa- apa kok..". Suara itu terdengar lembut. Aku tersenyum.


Mengingat usia kandungan Irene yang sudah 8 minggu atau kata dunia kedokteran disebut trimester pertama, Biasanya seorang wanita hamil akan mengalami mual- mual atau bisa juga ngidam.


Kehamilan Irene baru diketahui setelah memasuki usia 8 minggu, dan Aku tidak pernah menyangkanya. Aku tahu siklus menstruasi Irene tidak lancar. Makanya baru ketahuan kemarin.


Pernah waktu itu, 3 bulan setelah menikah, Dia telat datang bulan selama 2 siklus. Ku pikir dia hamil, ternyata setelah dicek, hasilnya negatif.


"Kalau pengin sesuatu, bilang sama Mas, biar nanti kalo sudah waktunya pulang, bisa bawakan sekalian". Ucapku.


"Ya sudah, Mas mau masuk ke kelas lagi.. Kayaknya sudah pada selesai ngerjain soal..".


"Iya Mas...".


Aku mengakhiri obrolan, kemudian masuk kembali ke ruang kelas 11.


***


Aku menghentikan motorku di depan gerobak penjual martabak. Di detik- detik terakhir sebelum Aku melajuka motor untuk pulang, Isteriku menelponku, mengatakan bahwa Dia menginginkan martabak.


"Mas pesen martabaknya ya..". Pesanku pada kang martabak.


"Siap Mas.. Topingnya apa?".


Aku menggaruk kepalaku dengan jari telunjuk. Semoga kang martabak bisa memenuhinya.


"Topingnya diganti sama acar yang buat martabak telor, bisa kah Mas?". Aku tersenyum kikuk. Kang martabak juga melirik ke arahku, dan seolah bertanya yang bener nih?


"Buat Isteri Mas.. lagi ngidam..". Jujurku.


"Iya bisa mas.. Pembeli adalah raja.. Hehe". Tukang martabak segera menyelesaikan pesananku. Selain menjadikan acar timun sebagai toping martabak manis, menggantikan meses keju kacang, Penjual memberiku bonus beberapa bungkus acar. Bilangnya untuk calon anakku, semoga bisa jadi langganan.


"Makasih ya Mas.. laris manis jualannya...". Doaku dengan tulus.


"Sama- sama Mas.. Semoga rasa martabaknya nggak aneh yaa.. Hehee". Kang martabak tertawa.


Setelah pesanan bumil ada di tangan, Aku segera melajukan motorku membelah jalanan kota. Tidak sabar rasanya melihat isteriku itu memakan pesanannya sendiri. Martabak manis, tetapi topingnya acar yang kecut itu? Rasanya gimana yaa.. Ahh.. Aku jadi ngeluarin liur, membayangkan rasa asam dari si acar.


Beberapa waktu kemudian, Aku sampai di halaman rumah. Aku melihat Isteriku dan Nenek sedang mengobrol. Begitu melihatku, Irene langsung bangkit berdiri. Aku menghampiri Irene.


"Assalamu'alaikum... Sudah nungguin yaaa". Aku tersenyum, dan kemudian mengangkat pesanan isteriku itu, agar dia dapat melihat, bahwa suaminya ini bisa diandalkan. Hehe..


"Waalaikumsalam.. Iya Mas.. sini..". Irene segera meraih bungkusan berisi sekotak martabak manis kecut.


"Rama membelikan Nenek martabak telor.. Nggak papa ya.. Biar beda dari Irene.. Hehe". Ucapku. Nenek tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih Nak..".


Kami bertiga segera masuk ke rumah. Aku berganti pakaian, kemudia menyusul isteriku ke dapur. Dia sudah siap dengan martabak manis kecut di hadapannya. Nenek yang melihat ngidamnya cucu, hanya menggelengkan kepala. Ada- ada saja.


Aku duduk dengan tenang di bangku yang berhadapan dengan Irene. Aku belum menyentuh martabak telur yang sudah di gelar di piring. Sedang Nenek sudah mulai menyantap makanan berminyak itu. Aku ingin melihat ekspresi Irene.


Satu potong diambil oleh Irene. Dia mulai memasukkan potongan itu ke dalam mulut. Aku yang melihatnya menelan air liur. Detik berikutnya, Mata Irene berbinar. Aku tidak menyangka, selera Ibu hamil memang se aneh itu.


"Mas mau? lihatin terus sih dari tadi.." Irene mencebik.


"Mas penasaran sama respon kamu pas makan martabak majis kecut itu...Hehe..".


Daripada membuat mood isteriku memburuk hanya karena martabak manis kecut, Aku mencomot satu potong martabak telor dan memasukkan nya ke dalam mulut. Paduan sempurna telor dan acar kecut, batinku.


.


.


Bersambung😘