360 DAYS

360 DAYS
kehilangan



Terimakasih atas dukungan pembaca sekalian untuk karya ini🙃 I'm nothing without you😁


.


.


Lanjut yaa


.


.


"Neneeekkkk!!!". Teriakan Irene dan suara tangis gadis (bukan gadis lagi sih, kan sudah hamil) itu, mengagetkan Rama yang tengah memegang ponselnya. Dia sedang menanyakan kabar Ayah dan Ibu.


Segera saja lelaki dewasa berusia 32 tahun itu bangkit dengan tergesa menuju kamar Nenek. Pikirannya sudah melayang membayangkan hal buruk yang terjadi.


"Ren?". Suami Irene itu meraih Isterinya yang terduduk di lantai sambil memeluk sang Nenek.


"Maas.. Ne.. Nenek tidak bernafass...". Suara bergetar Irene memperjelas semuanya. Rama mencoba berpikir tenang. Dia keluar kamar, kemudian meraih ponselnya. Tangannya mendadak tremor walaupun dia berusaha tenang. Dia menghubungi Bibi Irene, yang juga tetangga rumahnya. Dia juga menghubungi paman Irene, dan keluarganya sendiri.


Kabar ini begitu mengejutkan semua orang.


Rama kembali ke kamar, memeluk isterinya yang masih menangis sambil memeluk sang Nenek.


"Jangan tinggalin Irene Neekkkk....". Raung gadis itu untuk kesekian kalinya. Dunianya sudah runtuh sejak tadi. Lagi dan lagi. Dunianya runtuh. Dia ditinggalkan orang- orang yang sangat disayangi.


***


Beberapa waktu berlalu, tetangga di sekitar rumah Nenek berdatangan. Entah mendapat kabar dari mana.


Tubuh kaku nenek sudah diletakkan di atas ranjang oleh Rama. Setelah lelaki dewasa itu membujuk Isterinya untuk melepaskan pelukannya pada sang Nenek.


Anak- anak Nenek sudah datang, begitupun dengan beberapa cucunya. Mereka menangis, dan meratapi kepergian mendadak sang Ibu. Malaikat tanpa sayap. Sosok panutan bagi mereka. Pendidik terbaik mereka.


Di luar rumah, sudah dipasang bendera tanda sedang ada kabar duka. Tetangga sudah memasang tenda untuk para pelayat, bangku plastikpun sudah tertata. Keluarga Irene juga sudah meminta penggali kubur untuk membuat liang lahat tempat peristirahatan terakhir Nenek.


Rama mendampingi isterinya yang tengah hamil, tangis Irene sudah tidak sekencang tadi. Lelaki itu seperti merasa dejavu. Dia ingat beberapa bulan lalu, telah melewati kejadian ini. Ya.. Kematian kakek beberapa bulan lalu.


Rama mengkhawatirkan kondisi janin yang berada di perut sang Isteri. Melihat isterinya yang tertekan seperti itu.


"Ayo kita ke kamar dulu.. Kita tunggu sampai Jenazah Nenek sudah dimandikan..". Rama menuntun Isterinya. Irene hanya diam dan menuruti omongan suami.


Jika boleh, Dia merasa ingin pergi bersama Nenek.


"Ingat yang.. Bayi kita..". Ucapan sang suami menyadarkan Irene. Dia refleks mengelus perut datarnya.


"Kita boleh sedih dengan kepergian seseorang, tetapi yang diharapkan oleh orang itu bukan kesedihan kita Yang.. Justeru yang orang itu harapkan adalah doa dari kita". Rama menunduk demi melihat wajah Isterinya. Dia berbicara selembut mungkin.


"Tapi Nenek Mas.. Dia pergiii..." Lirih Irene.


"Kamu nggak ngerasain apa yang Aku rasain Mas..!! Aku kehilangan lagi dan lagi...". Ucap Ibu hamil itu kemudian. Antara kesal dan sedih.


"Siapa bilang Mas nggak merasakan sakit kamu?...". Rama bertanya. Dua tangannya meraup wajah sang Isteri, dia menatap ke dalam mata isterinya.


"Mas tahu rasa sakit kamu.. Apa Mas harus mengabaikan kamu, dan sibuk meratap agar mas terlihat sedang turut merasakan sakit kamu?". Tanya Rama lagi.


"Ayo kamu ganti baju dulu, Mas bantu..". Baju yang dipakai Irene saat ini adalah baju semalam. Penampakan ibu hamil ini seperti belum mandi satu minggu, dan bajunya seperti tidak pernah disetrika seumur hidup.


Selesai membantu sang Isteri berganti baju, Dia mengambilkan Irene air minum, susu ibu hamil dan sarapan pagi yang sudah lewat.


"Aku nggak mau makan Mas...". tolak sang isteri pelan. Bagaimana dia bisa makan di saat seperti ini??


"Bukan untuk kamu, Ini untuk anak kita Yang...". Kilah Rama. Dia segera menyendok nasi dan lauk, kemudian mendekatkannya ke mulut Irene. Bumil membuka mulutnya dan mengunyah makanannya dengan pelan. Dia tidak boleh egois. Bayinya membutuhkan asupan nutrisi. Irene hanya makan 5 sendok saja, kemudian dia menghabiskan susu ibu hamil serta air bening yang dibawakan sang suami.


"Ayo kita keluar.. Tapi ingat yang mas bilang tadi ya..". Irene mengangguk. Tetapi entah nanti saat dia sudah bersimpuh lagi di samping tubuh kaku Nenek.


***


Rama sudah menghubungi Pihak sekolah mengenai absennya ia hari ini. Ada 2 rapat guru yang telah Rama lewatkan di sekolah, serta jam mengajar di 3 kelas.


"Kami turut berduka Pak. Semoga Nenek di tempatkan di tempat terbaik, di terima amal baiknya.. Aammin".


Rama menerima pesan dari beberapa rekan guru. Tadi perwakilan guru dan murid juga sudah datang ke rumah duka.


Teman- teman Irene, yang juga mantan murid Rama datang. Mereka memberi penghiburan pada Irene. Meminta Ibu hamil itu tabah dan sabar.


Saat ini, Irene duduk di ruang tamu, tempat yang tadi menjadi tempat pembaringan sang Nenek. Dia ditemani oleh Fifi, dan Jojo. Dua gadis sahabat Irene itu sengaja datang dari jauh, mengabaikan kesibukan mereka, demi menemani Irene. Mengetahui kalau sahabat Mereka hamil, tugas Jojo dan fifi untuk menghibur harus lebih ekstra. Mereka paham bahwa kesedihan yang dirasakan wanita hamil, termasuk rasa depresi, ikut pula dirasakan oleh janin.


Rama membiarkan Irene ditemani oleh teman- temannya. Dia hanya memantau dari depan, di ambang pintu utama. Dia duduk bersama sepupu Irene. Menyambut pelayat yang baru datang.


Dia tadi hendak ikut mengantarkan Nenek ke makam, hanya saja sang Bibi melarangnya. Bilang bahwa Isteri hamilnya butuh pengawasan. Rama setuju. Dia sesekali melirik ke arah isterinya.


Rama bangkit berdiri begitu melihat Isterinya berdiri. Dia segera menghampiri Irene dan menanyakan sedang membutuhkan apa.


"Aku mau BAK (Buang Air Kecil) mas...". Jawab Irene.


Rama mengikuti Irene sampai depan kamar mandi. Ibu- ibu yang bertugas di dapur, memasak untuk acara doa nanti malam, bertanya mengenai kondisi Irene. Menasehati agar bisa meghibur Isteri yang tengah hamil. Rama menerima nasehat itu, karena memang hal itu yang saat ini dia lakukan.


"Sudah?". Rama bertanya, begitu sosok isterinya keluar dari kamar mandi. Irene mengangguk.


"Mau ke kamar?". Irene menggeleng pelan. Dia berjalan menuju samping pembaringan Nenek. Rama menunggu sampai Isterinya duduk, kemudian dia sendiri beranjak menuju teras, persis di ambang pintu utama, agar bisa kembali memantau sang Isteri.


"Ireneee ??!!!". Suara pekikan Jojo dan Fifi mengagetkan semua orang, termasuk Rama. Dia tergesa masuk ke dalam rumah, dan melihat Isterinya di pelukan Jojo dengan mata terpejam. Isterinya pingsan !


Rama mengangkat tubuh pingsan Irene. Membawanya masuk ke kamar. Dan membaringkannya di ranjang. Jojo dan Fifi mengekor di belakang rama, sepupunya juga begitu. Semua pasti khawatir dengan kondisi Ibu hamil muda itu.


"Biar dia Istirahat.. Kalian bisa keluar dulu..". Rama berkata pelan. Jojo dan fifi serta sepupu Irene mengerti, mereka segera keluar dari kamar, membiarkan Irene beristirahat, ditemani sang suami.


Rama memegang jemari Irene, mengelusnya. Dia juga mengelus wajah Irene yang sembab. Wajah yang biasanya bersinar itu kini terlihat keruh.


Sakitnya kehilangan memang sedahsyat itu.....


.


.


Bersambung😘