
Terimakasih yang sudah berkenan membaca dan mendukung karya ini, jangan lupa like dan komen yaa🥰🙏
.
.
Lanjut😘
.
.
"Mak sud kakak apa?". Irene bertanya terbata. Dia terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Taqy. Suasana menjadi hening. Nenek Irene menyimak, dia sebenarnya ingin bertanya banyak hal, namun melihat gelagat cucu dan dua tamunya, dia mengurungkan keinginannya untuk bertanya.
"Saya ingin memperjelas hubungan Saya dan Irene, Nek". Taqy tak menjawab pertanyaan Irene, Dia menatap Nenek Irene dengan bersungguh- sungguh. Dia tidak main- main dengan ucapannya barusan. Irene bertambah syok.
'Nggak.. bukan seperti ini seharusnyaaa'. Irene berteriak dalam hati, frustasi. Dia menunduk dan menutup kedua telinganya, dan menghembuskan nafas berat.
Irene mendongakan kepalanya, beralih ke Rama. Lelaki itu memandangnya dengan pandangan seperti kecewa, dan terluka.
"Ehmm.. Nek, Saya pamit dulu ya, sepertinya Saya bisa menemui Kakek Irene besok..". Setelah mencoba menetralisir perasaannya yang tidak karuan, Dia akhirnya memutuskan untuk pulang saja.
"Iya, Nak.. Hati- hati di jalan ya..". Nenek mempersilahkan tamunya. Rama berdiri, dan beranjak. Melihat Rama yang berdiri, Irene ikut berdiri dia mengikuti Rama sampai ke teras.
Rama masih berdiri di teras, posisi nya berhadapan dengan Irene. Jarak mereka hanya satu meter. Rama bisa melihat dengan jelas wajah seseorang yang selama ini dia rindukan. Irene menatap mata itu juga, jujur dia sangat merindukan sosok itu, selama ini dia berusaha melupakan, namun tidak pernah bisa.
"Kak"
"Ren". Mereka berbicara bersamaan. Menyadarinya mereka tersenyum bersama.
"Bagaimana kabar Ibu, Kak?". Irene bertanya, Dia tidak mungkin menanyakan kabar orang yang di depannya ini kan?
"Ibu selalu baik, Ren..". Rama menjawab, dia merasa kecewa karena Irene tidak menanyakan kabarnya. Padahal Jika Irene bertanya dia akan menjawab bahwa dia tidak baik- baik saja, sejak kepergian mendadak waktu itu.
"Ah syukurlah.. salam untuk Ibu, Kak". Irene tersenyum. Rama hanya mengangguk. Dia segera beranjak dari teras, menuju motornya.
Irene masuk ke dalam rumah begitu motor Rama sudah meninggalkan gerbang.
Irene kembali duduk di samping Neneknya. Setelah perkataan Taqy tadi, Dia merasa tidak nyaman. Dia merasa Taqy menghianatinya. Lelaki itu tidak mengatakan niatannya terlebih dahulu, namun tiba- tiba mengatakan hal itu langsung pada Nenek.
"Kak Taqy hanya mengantar Irene saja, Nek.. Cucu nenek ini tidak dekat dengan siapapun di kota..". Irene menjelaskan pada Nenek. Sementara itu, Taqy merasa kecewa. Ya, ini pasti karena Lelaki itu.
'Aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini, Ren.. Aku akan meminta restu Kakek dan Nenek mu..'. Batin Taqy mantap.
"Jadi ini yang bener yang mana?". Nenek bingung. Cucunya menyangkal sedang dekat dengan Taqy, sedang Taqy kekeh mengatakan bahwa mereka dekat.
"Kalian bisa mengobrol dulu, Nenek tinggal ke belakang ya..". Nenek beranjak dari sofa.
Suasana hening tercipta setelah kepergian Nenek. Kedua manusia yang ada di ruang tamu tengah sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Bagaimana Kakak bisa berkata seperti itu?". Irene bertanya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada Taqy.
"Apakah karena Lelaki itu?". Bukannya menjawab, Taqy malah balik bertanya. Irene bertambah kesal. Dia baru tahu bahwa lelaki ini bisa juga membuat kesal, padahal selama beberapa kali bertemu, Lelaki itu tampak manis dan tidak banyak protes.
"Maksud kakak apa?". Mereka berdua saling melemparkan pertanyaan.
"Apa dia lelaki yang membuat kamu tidak bisa menerima perasaanku, Ren?".
"Apa yang membuat kamu masih berharap?".
Taqy bertanya dengan nada sedih. Matanya masih menatap Irene.
Irene terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Dia sendiri bingung. Apa yang bisa dia harapkan dari Lelaki itu, selain rasa kecewa dan sakit?
Taqy menghembuskan nafas berat. Dia membuang padangannya keluar pintu utama.
"Aku tetap akan mengatakan keseriusanku pada Kakekmu...".
Pernyataan Taqy membuat dada Irene sesak.
***
Hari sudah beranjak malam, saat Taqy memutuskan untuk kembali ke Semarang. Kakek meminta Taqy menginap, namun dia menolak, karena tidak enak menginap di rumah yang ada gadisnya.
"Sampai bertemu besok, Ren.. Nanti Kakak jemput ya..". Irene tersenyum kaku.
"Hati- hati di jalan, Kak".
Setelah kepergian Taqy, Irene masuk ke kamarnya. Dia ingin segera istirahat dengan tenang.
Dia merebahkan diri di kasur yang selama ini dia rindukan. Ya dia hanya pulang saat liburan semester, itupun tidak terlalu lama, karena dia harus kembali ke Semarang.
Irene membayangkan pertemuannya dengan orang dari masa lalunya. Dia benar- benar tidak menduga bahwa mereka akan bertemu dengan kondisi seperti tadi. Dia jadi berfikir, apakah kecemasan yang tadi pagi adalah firasat?.
Irene mencoba menjernihkan pikirannya.
Apa yang kamu khawatirkan Irene?
Kamu harus ingat, Dia bukan siapa- siapa.
Dia hanya berempati padamu.
Hentikan harapanmu yang setinggi langit.
Yang utama, dia sudah dimiliki orang lain....
Irene menutup matanya. Kenyataan bahwa Lelaki itu sudah menjadi milik orang lain sungguh sangat menyakitkan.
Irene mengingat kembali saat dulu mereka begitu dekat, Lelaki itu memperlakukannya dengan lembut. Mengantar pulang, memberi perhatian kecil, mengingatkan untuk menjaga kesehatan, bahkan mengajak jalan dan makan. Saat itu dia terlena dan menganggap bahwa Lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Yaa dia sangat naif mengartikan sikap lembut itu sebagai perasaan cinta. Dia tidak berpikir panjang, bahwa Lelaki itu adalah gurunya, dan selamanya akan seperti itu. Tidak ada Guru yang mencintai Muridnya sebagai lawan jenis.
'Apa yang kamu lakukan Irene? Mengapa kamu tidak mau bangun dari mimpi??'. Irene menangis, dadanya terasa sesak sekali, bantal sudah menutupi wajahnya, meredam suara isak tangis yang memilukan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun tangis lirih Irene masih terdengar. Dia menangisi kebodohannya selama ini.
***
"Hishhh kamu tuh yaa, bener- bener.. Nenek bilang kamu datang pagi.. Kenapa baru bilang sekarang????". Fifi memukul Irene menggunakan bantal.
"Terus juga kenapa matamu itu? Habis nangisin apa???". Fifi kepo.
"Iya kemaren Aku nggak sempet buka hape, Fi.. Maaf yaa.. Yang penting sekarang udah ketemu kan? kita bisa hangout heheheee". Irene memeluk Fifi dengan erat. Bersama sahabatnya sejak SD ini, dia berharap bisa menghapus kesedihannya.
"Kita kemana yaa... emmm". Fifi tampak berfikir,
"Ke YYY kayaknya seru yaa...". Mata Fifi tampak berbinar begitu menyebutkan tempat itu. Irene mengangguk setuju.
"Boleh juga tuh.. Sekarang??". Irene bertanya antusias.
"Besok aja lah.. belum siap kan? Butuh baju renang ehehe". Fifi meringis.
"Terus sekarang kita ngapain?".
"Kita ke Saung Yuk.. Aku traktir deeh..". Ajak Fifi.
"Yang bener nih.. Yok lah cusss". Irene berdiri dan menyambar tas kecil yang tergantung di tembok. Dua gadis itu segera pergi, setelah sebelumnya pamit ke Nenek Irene.
Fifi melajukan motornya pelan. Irene yang duduk di jok penumpang tampak menikmati sapuan angin di wajahnya. Dia menikmati momen pulang kampungnya saat ini. Fifi menghentikan sebentar kendaraannya dan melihat kanan dan kiri, barangkali ada kendaraan yang lewat.
.
.
"Kemarin Aku lihat Pak Rama di pertigaan ini, Kira- kira habis dari mana ya, Ren?" Tanya Fifi yang membuat Irene kaget.
.
.
Bersambung😘