
Terimakasih untuk pembaca yang sudah memberikan dukungan untuk karya ini😘
.
Lanjut ya🥰
.
POV Rama:
Hari ini, dua hari setelah Aku mengajak Irene membeli cincin, rencananya besok Aku akan membawa keluargaku ke rumah Kakek dan Nenek Irene untuk melamar. Siang nanti selepas mengajar, Aku akan menuju rumah Kakek untuk memberitahu perihal kedatanganku dan keluarga untuk melamar Irene. Aku bisa saja memberitahu Irene lewat chat, hanya saja ponsel gadis itu masih berada padaku. Tidak masalah Aku datang ke rumahnya nanti, sekaligus Aku ingin melihat gadis itu, apakah masih marah atau tidak padaku.
Pagi ini, Rumah orang tuaku ramai dengan cucu Ayah Ibu sekaligus keponakanku. Ibu kemarin menyuruh seluruh anak, menantu, serta cucunya untuk datang ke rumah. Apalagi kalau bukan soal lamaranku. Ibu ingin Iparku membantu mengemasi barang- barang yang akan dibawa.
"Ya ampun, Ram.. Besok lamaran loh, minta cuti dua hari pasti boleh..". Tegur Kakak keduaku.
"Hehe, Iya Bang.. Hari ini tugasnya banyak banget.. Rama sudah minta cuti untuk besok..". Jelasku.
"Oh iya Nak.. Kamu sudah kasih tahu keluarga Irene kan?". Ibu tertanya, beliau sedang menggendong anak kedua dari kakak pertamaku yang masih bayi.
"Belum Bu.. Ini nanti siang niatnya mau ke rumah Irene..".
"Ya Ampun Rama.. Harusnya dari kemarin kamu bilang Nak.. Pas beli cincin kamu tidak bilang ke Irene?". Ibu bertanya lagi, Aku menggeleng.
"Rama tidak bilang, Bu...". Ibu berdecak. Semua keluargaku menatap heran ke arahku.
'Memangnya kenapa?'. Aku bertanya- tanya.
"Rama berangkat dulu Yah, Bu, Kak". Aku beranjak dari depan pintu kamarku. Aku melambai tangan pada keponakan kecilku yang sedang asyik bermain mobil- mobilan.
Aku segera melajukan motorku membelah jalanan yang sudah ramai dengan kendaraan.
***
POV Ibu:
"Ibu mau kemana?". Hana, Menantuku menegurku. Aku menengok ke belakang.
"Ibu mau ke rumah Bu Irma, dia Bibi Irene.. biar nanti Bu Irma yang bilang soal lamaran ini.. Ibu dari tadi khawatir..". Hana mengangguk, mengerti maksudku.
"Biar Hana temani ya Bu..". Menantuku itu menawarkan diri. Aku mengangguk.
"Sebentar, Hana titip Haikal dulu ke Tata..". Tata adalah menantu keduaku. Beberapa saat kemudian, Hana sudah menyusulku ke teras. Kami segera berjalan menuju rumah Bu Irma. Jaraknya tidak terlalu jauh, bisa saja Aku menggunakan motor seperti saran Hana, namun jalan kaki jauh lebih sehat, menurutku.
"Ibu tu dari tadi khawatir.. Adikmu itu masa mau lamaran bilangnya dadakan begitu.. Waktu Kakaknya sebulan sebelumnya sudah bilang". Aku mengungkapkan kekhawatiranku.
"Iya Bu, mungkin Rama ingin memberi kejutan.. Hehe".
"Hishh.. Kejutan itu kalau tidak menyangkut keluarga, Ini kan melamar secara resmi, Na..". Aku masih tidak setuju dengan kata kejutan.
Beberapa menit kemudian, Aku sudah sampai di Rumah Bu Irma, tetanggaku sekaligus teman di majlis ta'lim.
"Assalamu'alaikum.. Wah lagi kumpul keluarga ya ini..". Aku melihat banyak sekali anggota keluarga calon menantuku di rumah Bu Irma.
"Eh Bu Pram.. Mari masuk Bu.. Iya ini, lagi kumpul keluarga". Bu Irma berdiri menyambutku dan mempersilahkan Aku dan Hana duduk. Ternyata mereka sedang membahas acara wisuda Irene tanggal 23 besok. Ah Aku jadi ingin ikut melihat wisuda gadis itu. Batinku.
"Jadi gimana Bu..". Bu Irma mulai bertanya padaku perihal maksud kedatanganku ke rumahnya.
"Begini Bu.. Jadi Rama, putra bungsu saya, berniat melamar Irene.."
"Alhamdulillah.. kita bisa jadi saudara ya Bu..". Ucap Bu Irma. Keluarga Irene yang lain juga turut mendengarkan.
"Anak saya itu Bu, belum mengatakan niatnya pada Kakek Irene.. Jadi jika berkenan, saya minta bantuan Bu Irma untuk mengabarkan perihal kedatangan Kami sekeluarga besok kepada Kakek Nenek Irene..". Bu Irma mengangguk.
"Alhamdulillah, Terimakasih banyak ya Bu.. Anak saya bilang nanti mengajar akan ke rumah, tetapi daripada saya khawatir, mending saya duluan saja..."
"Iya Bu.. Betul itu.. Memangnya Nak Rama tidak ambil cuti hari ini?". Tanya Bu Irma heran.
"Nah itu lah Bu.. Dia hanya ambil cuti besok..". Aku tersenyum malu dengan kelakuan anakku itu. Dia memang rajin bekerja, namun seharusnya dia juga memikirkan acara sakral ini juga.
Setelah mengobrol cukup lama, Aku berpamitan ke Bu Irma dan mengatakan sekali lagi permintaanku.
"Untung saja keluarga Irene itu tidak neko- neko.. coba kalo neko neko, begitu dapat kabar seperti ini pasti langsung bilang lamarannya jangan besok..".
"Iya Bu, alhamdulilah..". Respon Hana.
Setelah memohon bantuan pada Bu Irma, hatiku memang sedikit lega, namun masih ada hal lain yang tidak bisa ku pahami. Aku masih mengkhawatirkan sesuatu.
***
POV Rama:
"Jadi Irene berangkat ke Semarang kemarin?". Aku bertanya sekali lagi, memastikan bahwa informasi yang baru saja ku dengar benar adanya.
"Benar Nak.. Memangnya Anak itu tidak mengabari?" Tanya Nenek. Aku menggeleng pelan. Mendadak tubuhku menjadi lemas.
'Bagaimana besok Aku bisa melamarnya jika dia tidak ada di rumah?'.
"Nak?" Kakek menepuk bahuku. Aku terlonjak.
"Ah Iya Kek.. Maaf.."
"Lamarannya bisa diundur dulu, Nak.. Sehabis Irene wisuda saja..".
Aku menatap Kakek Irene. Aku bertanya- tanya, bagaimana beliau bisa tahu perihal lamaran itu, padahal Aku belum mengatakan apa- apa.
"Tadi Irma, menantu kami, bibinya Irene mengabari kalau keluarga Nak Rama besok akan melamar..". Aku mengangguk, mengerti alasan mengapa Kakek sudah tahu tentang lamaran itu.
"Irene sama sekali tidak mengatakan apa- apa, Nak..". Ucap Nenek, melengkapi kalimat Kakek.
"Saya juga belum memberitahu Irene, Kek.. Ini salah saya juga..". Aku berkata dengan lesu.
Aku kecewa dengan sikap Irene yang tidak memberitahu kepergiannya lagi. Aku pikir dia mengambil pelajaran dari kejadian bertahun lalu, ternyata dia malah mengulangi lagi.
Akhirnya Aku pamit dari kediaman Irene dengan membawa kekecewaan.
45 menit Aku mengendarai motorku dengan pikiran yang berkelana. Satu sisi, Aku kecewa dengan tindakan Irene, Namun di sisi lain, Aku takut kejadian bertahun lalu terjadi lagi, sehingga Aku ingin menyusul Irene ke Semarang. Aku turun dari motor dan berjalan dengan lemas menuju rumah. Pasti orang rumah sudah tahu perihal kepergian Irene.
"Assalamu'alaikum..". Aku memasuki Rumah, dan kulihat semua berkumpul di ruang tamu. Mereka semua menatapku. Aku tidak bisa mendefinisikan arti tatapan mereka. Mungkin kecewa. hmm..
Aku segera memasuki kamar, setelah berbasa basi sedikit dengan anggota keluargaku. Mereka sama sekali tidak membahas tentang lamaran. Syukurlah, Jadi tidak menambah kekecewaanku. Hari ini hingga besok, Aku ingin berdiam diri saja di kamar.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Capek setelah bertugas, ditambah mendengar kabar Irene telah kembali ke Semarang, benar- benar membuat tubuhku terasa lelah sekali. Aku menutup wajahku dengan bantal.
.
'Gagal Lamaran' Batinku frustasi.
.
.
Bersambung😘