360 DAYS

360 DAYS
Jangan tinggalkan Mas



Terimakasih untuk dukungan dari pembaca sekalian.. Aku selalu ingetin untuk selalu kasih like dan komennya yaa.. Itu cukup bikin Aku seneng😉


.


Lanjutkan💋


.


POV Author:


Rama melihat pantulan dirinya di cermin. Lelaki yang biasanya selalu rapih itu, kini terlihat acak- acakan. Dia tersenyum miris memandangi dirinya sendiri. Mata sembab dan tampak lelah, rambut awut- awutan seperti tidak pernah disisir, dan kemeja lusuh.


Tadi, setelah Ibu dan Ayahnya membujuk, Akhirnya Rama bersedia untuk sejenak beranjak dari depan ruangan tempat Irene menjalani perawatan Intensif. Bukan pulang ke rumah seperti Nasehat Ayah Ibunya, tetapi beranjak ke tempat yang bisa menenangkan dirinya. Mushola.


Sebelum memasuki tempat itu, Rama mengambil jalan menuju toilet yang ada di samping mushola.


"Irene tidak akan kenal kamu kalo tampangmu seperti itu". Rama tersenyum miris. Yaa.. Bisa jadi Irene tidak akan mau bangun, jika dia seperti ini terus.


Rama mengambil wadah perlengkapan mandinya yang ada di tas. Kemudian membersihkan diri, untuk bertemu dengan Sang Pemilik.


Rama memasuki mushola, setelah selesai membersihkan diri. Jika dia ingin Isteri dan anaknya bersama- sama ke sampingnya dengan selamat, maka dia harus memohon pada Sang Pemilik.


Rama mengambil sajadah yang tersedia di lemari mushola, kemudian menggelarnya. Dia kemudian sholat dan bersimpuh di hadapan Rabb nya.


Air mata lelaki itu meleleh begitu mengungkapkan permintaannya, Dia ingin Isteri dan anaknya kembali dengan selamat. Tidak sanggup jika harus ditinggalkan.


"Hanya kepada-Mu hamba meminta dan memohon perlindungan ya Rabb😭".


Rama menundukkan kepalanya, pikirannya berkelana ke masa- masa dimana Dia dan Irene bersama. Dia bahkan belum menepati janjinya untuk membawa Isterinya itu bulan madu ke tempat yang jauh. Padahal sudah hampir setahun mereka Menikah.


Rama mengingat juga perkataan sang Ibu, mengenai dirinya yang tidak bisa merawat Isteri. Hal itu membuat Lelaki dewasa itu semakin bersedih, perkataan Ibu benar adanya.


"Maafkan Mas... Jangan tinggalkan Mas sendirian".


***


Rama kembali ke depan ruangan perawatan irene. Ayah dan Ibu masih di sana. Melihat penampilan putranya yang jauh lebih manusiawi, Ayah dan Ibu tersenyum kecil.


"Apa belum boleh masuk Yah?" Tanya Rama kepada sang Ayah.


"Belum ada yang memberitahu, Nak..".


Beberapa jam sudah berlalu, mengapa lama sekali? keluh Rama.


"Pergilah cari makan dulu, jangan sampai nanti saat Isterimu sadar, kamu malah jatuh sakit Nak". Ibu ikut berbicara, Dia merasa putra bungsunya itu mendiamkannya.


"Rama tidak ingin makan, Bu".


"Ibu mohon dengarkan nasehat Ibu, Nak...".


Rama menoleh menatap ibunya. Dia melihat raut wajah sang Ibu dipenuhi rasa bersalah. Rama menghembuskan nafasnya.


"Ayah dan Ibu juga..". Rama bangkit berdiri, dan menunggu pergerakan orang tuanya. Rama mulai berjalan setelah melihat Ayah dan Ibu turut berdiri.


'Mas makan dulu ya Yang..' Pamit Rama pada Isterinya.


Ketiga orang itu menyebrangi jalan, kemudian mampir ke sebuah warung makan.


Mereka makan dalam diam. Rama melirik Ayah dan Ibu yang dilihatnya sangat kelelahan. Lelaki itu jadi merasa bersalah. Mereka berdua pasti merasakan kesedihan yang sama, kejam jika dia mendiamkan orang tuanya. Harusnya Dia bersyukur Karena Ayah dan Ibu mau menjaga menantu mereka.


"Ayah dan Ibu pulanglah dulu, Biar Rama yang berjaga.. Besok kalau mau kembali tidak apa- apa.. Biar Rama malam ini minta ditemani Raka, sepupu Irene".


Ayah dan Ibu menoleh bersamaan, menatap putra bungsu mereka.


"Anak itu sudah kamu hubungi?". Tanya Ibu. Dia mengenal Raka tentu saja, selain karena Raka sepupu Irene, tetapi anak murid Rama itu juga sering main ke rumah, menyambangi adik sepupunya.


"Sudah Bu".


Ibu mengangguk mendengar jawaban anaknya. Kemudian kembali melanjutkan makan.


"Kami pulang dulu, jika sudah ada kabar tentang Isterimu beritahu Ayah ya..". Pak Pram menepuk pundak anak bungsunya, sementara Rama mengangguk menyanggupi permintaan sang ayah.


***


Rama duduk di bangku tunggu seperti sebelum- sebelumnya. Kali ini kakinya sengaja diluruskan, lama duduk membuat pegal- pegal menghinggapi tulang.


Jam sudah menunjukkan setengah 9 malam saat Raka datang. Remaja itu datang sambil menenteng sebuah paper bag.


"Terimakasih sudah datang". Ucap Rama dengan tulus.


"Sudah ada kabar terbaru Pak?". Tanya Raka, Dia kaget saat mendapatkan kabar tentang Irene yang mengalami kecelakaan. Dia masih berada di sekolah, menjalani masa- masa pemadatan Mata pelajaran.


"Belum.. Doakan semoga Dia baik- baik saja".


Raka mengaminkan harapan guru matematikanya. Dia sangat sedih dengan kondisi sepupunya itu. Dia jadi mengingat sebelum ini, sepupunya pernah mengalami kecelakaan. Hanya saja mereka saat itu belum terlalu dekat seperti sekarang ini.


"Tadi Ibu nitip ini untuk Pak Rama..". Raka menyentuh paper bag yang tadi dia bawa. Rama melirik benda itu. Ibunya pasti mempersiapkan dengan terburu- buru.


"Terimakasih".


Keduanya kemudian diam, suasana hening. Beberapa tenaga kesehatan yang mendapat shift malam melewati mereka, dan Rama tidak mempedulikannya.


"Diklat Bapak gimana, Pak?". Raka bertanya, memecah keheningan di sekitar mereka.


"Belum selesai.. Tidak masalah..". Jawab Rama seadanya, Raka mengangguk tanda mengerti. Isteri tetap prioritas begitu pikir remaja itu.


Mengingat diklat, Dia jadi ingat koper yang belum dibawanya. Dia memang sudah menitipkan pada Pak Ari, semoga nanti jika diklat selesai, Rekannya itu tidak lupa membawakan kopernya.


***


Kring kringg...


Suara ponsel Rama memecah keheningan.


"Halo Assalamu'alaikum Pak.."


"...."


"Terimakasih Pak.. Saya masih menunggu dari dokter yang menangani Pak.. Doakan semoga Isteri dan Anak saya selamat...". Ucap Rama setegar mungkin. Ya, Dia harus tegar untuk menguatkan Isterinya yang saat ini masih berjuang.


"......"


"Aamiiin ya robbal 'alamiiin.. Iya Pak.. Wassalamu'alaikum".


Rama meletakkan hapenya kembali ke saku. Pak Ari menelpon, memberinya kabar bahwa Dia sudah memintakan Izin Rama untuk pulang, dan tidak melanjutkan diklat.


"Bagaimana belajarmu, Ka? Sudah kelas 3 tidak boleh malas- malasan.. Harus lulus dengan nilai terbaik..". Rama menoleh, mengajak ngobrol sepupu isterinya.


"Siyaappp Pak! Pasti, doanya Pak.. Dan les privatnya juga jangan lupa.. Heheee...". Raka nyengir. Dia tahu dengan jelas bahwa suami sepupunya ini punya kegiatan sampingan memberi Les.


"Belajar mandiri atau diskusi dengan teman juga bagus.. kalian bisa berbagi pengetahuan, nanti kalau ada yang bingung bisa ditanyakan ke guru pengampu nya..". Rama memberi nasehat.


"Iyaa Pak.. Betul itu". Kedua lelaki berbeda generasi itu melanjutkan obrolan mereka. Sejenak melupakan suasana sedih yang tengah dirasakan.


"Kamu dari dulu dekat dengan Irene?". Tanya Rama disela- sela bahan obrolan mereka.


Raka menggeleng,


"Nggak sih Pak.. Pas Irene lulus SMA, saya kan masih SMP.. Masih seneng main sendiri.. Kenapa Pak?". Raka penasaran.


"Tidak apa- apa, Saya hanya ingin tahu apa yang tidak saya ketahui dari Irene".


"Bapak baca buku yang dibuat Irene?". Remaja itu ingat dengan buku antologi puisi yang waktu itu diberikannya pada Guru Matematikanya sewaktu ulang tahun.


"Dia maksa saya untuk ngasih buku itu loh.. Lucu sekali Dia..". Raka tersenyum mengingat tingkah adik sepupunya, yang usianya 6 tahun lebih tua dari Dia.


Rama menoleh, Dia penasaran. Ada banyak hal yang dia lewatkan tentang Irene. Bagaimana gadis itu bisa bertahan dengan perasaan yang sama padanya, padahal jika Dia mau, Dia bisa menerima lelaki lain yang sedang mendekatinya.


"Dia bilang, kalo Raka mau ngasih buku itu, Dia akan ngasih uang jajan sebulan penuh...". Raka menggeleng, sampai sekarang dia bahkan tidak memahami tingkah sepupunya.


"Dan dia menepatinya?"


"Malah 3 bulan dia kasih saya uang jajan pak.. Heheee". Raka tertawa kecil. Rama menarik sudut bibirnya. Dia ingat, salah satu alasan Dia sangat ingin menemui Irene saat itu adalah karena buku antologi itu.


.


.


Bersambung💋



Mohon dukungannya untuk karya Author yang lain ya.. Ikut lomba novel horor heheee🙏🙏