360 DAYS

360 DAYS
menyusul



Terimakasih untuk pembaca yang sudah memberikan dukungan untuk karya ini😘


.


Lanjut ya🙃


.


.


Seperti niatanku kemarin siang, hari ini Aku sejak pagi tidak keluar kamar. Aku lebih memilih mengistirahatkan tubuhku. Ah bukan, Aku mengistirahatkan jiwaku, mungkin ini lebih tepat.


Tok tok.. Suara pintu diketuk menggangguku dari usaha untuk tertidur kembali. Aku bangkit dengan malas, lalu membuka pintu kamarku, yang tidak terkunci. Aku melihat Kakak sulungku tengah berdiri sambil menatapku. Aku kembali ke ranjang tanpa mempedulikan dia. Kakak mengikutiku dan duduk di tepi ranjang.


"Berdiam diri seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah..". Kakak menasehatiku.


"Dia yang pergi Kak, tanpa pamit, seperti dulu.. Biarkan saja". Responku. Aku masih menatap keluar jendela.


"Kamu sudah memberitahu dia kalau kamu akan melamar? Belum kan?". Tanya Kakakku. Hmm.. Sejak membeli cincin, harusnya gadis itu sudah tahu jika Aku akan datang melamar, bukan malah pergi begitu saja. Aku membatin.


"Dia tidak bersalah karena pergi tanpa pamit ke kamu, dari cerita Bibi gadis itu, dia pergi karena jadwal gladi bersih wisuda dimajukan..". Aku melirik kakak sulungku.


"Ya Aku tahu..".


"Kalau tahu, berarti kamu sudah paham apa yang harus Kamu lakukan tanpa perlu Kakak beritahu.. Jangan ulangi kesalahan yang sama..". Kakak bangkit berdiri, sebelumnya Dia menepuk pelan pundakku. Aku menghembuskan nafas kasar.


Aku mengambil ponsel Irene yang berada di laci mejaku. Aku menatap ponsel itu lama. Apa yang harus Aku lakukan?😔


***


POV Author:


"Sebentar lagi kita sampai Mas.. Ini mau langsung ke Universitas XXX?". Lelaki paruh baya yang sedang berada di kemudi bertanya pada lelaki muda di sebelahnya.


"Iya Pak ke sana saja". Lelaki muda itu menjawab sekenanya. Dia sedang memikirkan apa yang akan dia katakan pada seseorang setelah nanti mereka bertemu. Dia menghela nafas.


"Ibu sudah memberi restu, dan kamu seperti ini? tidak ingat 4 tahun yang sudah kamu lewati? Baiklah kalau begitu, biar Ayah dan Ibu melamar Laila saja hari ini juga". Ucapan sang Ibu terngiang kembali. Tadi pagi, selepas Kakak sulung Rama keluar kamar, tak berselang lama Ibu memasuki kamar dan mengucapkan kalimat yang begitu tidak adil untuknya. Menikah dengan Laila?. Rama menggeleng pelan. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Maka dari itu di sinilah dia sekarang, berada di mobil milik Kakak sulung, bersama dengan sopir pribadi Kakak. Rama memutuskan menyusul Irene ke Semarang.


Rama meraih hape Irene yang diletakkan di waistbagnya, kemudian menekan nama sebuah kontak untuk dihubungi.


"Halo..". Suara wanita dari seberang terdengar.


"Apa Kamu sedang bersama Irene?". Rama langsung bertanya. Hanya gadis ini yang dia kenal, walaupun hanya kenal nama saja.


"Irene sedang gladi Pak..". Jawaban gadis di seberang membuat Rama mendengus. Dia dipanggil Pak. 🥴


"Dimana letaknya?".


"Lha Bapak di sebelah mana? Atau saya samperin aja ya biar gampang..". Tawar gadis di seberang.


"Baiklah, nanti saya hubungi". Rama mematikan sambungan telpon. Dia menaruh lagi ponsel di tas.


Beberapa waktu kemudian, Mobil yang ditumpangi Rama telah memasuki gerbang Universitas XXX.


"Berhenti di tempat parkir di sebelah sana ya Pak". Rama menunjuk sebuah tempat berisi kendaraan yang tertata dengan rapih.


"Baik Mas.. Nanti Saya nunggu di mobil saja ya Mas". Ucap sang sopir. Rama mengangguk setuju.


Rama mengambil kembali ponsel yang tadi digunakan untuk menelpon Jojo, teman Irene.


"Saya sudah ada di tempat parkir, persis yang ada di dekat gerbang masuk kampus". Rama berkata setelah gadis di seberang mengangkat telpon dan menjawab salamnya.


Rama keluar dari mobil begitu melihat Seorang gadis yang baru saja memasuki gerbang kampus. Sekali melihat, dia langsung tahu bahwa itu Jojo.


"Pak..". Jojo menyapa kekasih Irene itu, dan mengangguk dengan ramah, tak lupa juga tersenyum.


"Dimana gladinya?". Rama terlihat tidak sabaran.


"Di auditorium Pak.. Mari saya antarkan". Jojo berjalan terlebih dahulu. Bagi gadis itu, daripada menjelaskan panjang lebar yang berujung pada kesasar, lebih baik dia memandu secara langsung, lebih aman. Lagipula dia sedang tidak sibuk.


"Nah ini Pak.. Tapi sepertinya belum selesai, mungkin sebentar lagi". Jojo berhenti tak jauh dari gedung besar di depannya. Rama memandang ke arah gedung itu.


"Saya akan menunggu di sini, terimakasih bantuannya ya..".


"Eh iya Pak.. sama- sama..". Jojo nampak berpikir apa yang akan dia lakukan, apakah menemani Lelaki dewasa di depannya ini, atau pergi saja kembali ke kos?.


'Baiklah Aku ikut nunggu saja'. Putus gadis itu. Dia mendekat ke arah gazebo. Gadis itu duduk di bangku yang jaraknya cukup jauh dari Kekasih Irene. Beberapa kali Jojo melirik ke arah Rama, yang Ia lihat seperti sedang berpikir dengan keras. Melihat Lelaki itu, Jojo jadi membayangkan kejadian 2 hari yang lalu, saat dia mampir ke rumah Irene untuk pamit kembali ke Semarang.


Dua hari yang lalu, Jojo melihat pengumuman jadwal ujian skripsi di Instagr@am fakultasnya. Sesuatu yang sangat dia tunggu. Melihat kabar itu, dia segera mengirim pesan ke Irene, Namun temannya itu tak membaca sama sekali pesan darinya, Akhirnya dia berniat mampir ke rumah Kakek dan Nenek Irene.


"Owalah pantesan Aku kirim pesan nggak dibales sama Kamu..". Jojo mengangguk- angguk mengerti. Irene baru saja menceritakan kalau hapenya sedang diambil alih oleh Rama.


"Eh berarti kamu nggak tahu kalau jadwal gladi dimajukan?". Tanya Jojo.


"Hah dimajukan? Serius?? Ya ampun Aku nggak tau Jo.. ". Irene tampak gelisah.


"Iya, Ada pengumumannya kok..". Jojo memperlihatkan pengumuman yang dibagikan oleh ig fakultas.


"Trus gimana ya Jo.. Aku kudu berangkat besok berarti yah..".


"Sekarang aja yuk bareng Aku.. Aku udah minta tolong Kak Taqy jemput Aku, Paling nanti siangan dia sampe..". Jojo nyengir lebar. Irene menyipitkan matanya.


"Kamu sekarang deket sama kak Taqy yah? cieeee....". Irene tertawa meledek temannya itu.


"Yee, ini nggak seperti yang kamu pikirin tau.. Dia sepupu Aku, Ren..". Jojo menjawab dengan serius, membuat Irene menghentikan tawanya.


"Kamu sepupu dia?". Irene bertanya, untuk memastikan. Selama ini dia tidak tahu Jika Jojo adalah sepupu Kak Taqy. Dia jadi berpikir, pantas saja selama ini Mereka terlihat dekat.


"Iya Ren.. Maaf yah karena baru ngasih tahu sekarang.. Adik sepupuku itu emang nyebelin banget". Gerutu Jojo.


"Heh? Dia Adikmu???". Jojo mengangguk, dan Irene dibuat tertawa oleh kenyataan itu.


"Hahah.. Kamu ternyata udah tua yah".


"Hishh Kamu tuh". Jojo menyikut lengan Irene.


Seperti perkataan Jojo, bahwa Taqy akan menjemput, menjelang sore sebuah mobil berwarna merah memasuki halaman rumah Kakek Irene. Irene yang sudah bersiap sejak tadi, segera mendekat. Setelah menyapa Kakek Nenek Irene, Akhirnya Taqy mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumah. Tujuannya adalah ke Semarang, mengantarkan sepupu dan orang yang masih dicintainya. hmm...


Jojo tersadar dari lamunannya. Dia memandang ke arah pintu Auditorium Kampus. Calon wisudawan mulai keluar dari dalam gedung. Gadis itu melihat Irene baru saja keluar lewat pintu kedua. Jojo melirik ke arah Lelaki yang duduk tak jauh darinya, Lelaki itu ternyata sudah berdiri dan menatap objek di depan sana dengan pandangan yang tak dapat didefinisikan oleh Jojo.


.


'Irene?'. Jojo bisa melihat bibir Lelaki itu menyebut nama temannya.


.


.


Bersambung😘