360 DAYS

360 DAYS
Jangan bersedih



Terimakasih untuk pembaca yang sudah mendukung karya ini🥰


.


.


Lanjut ya😘


.


.


Dengan kecepatan di atas rata- rata, Aku mengendarai Motorku membelah jalanan kota. Aku mengabaikan kedua orang tuaku yang mengikutiku dari belakang. Yang ingin Aku lakukan sekarang adalah memeluk Isteri kesayanganku itu. Setelah setengah jam, dari waktu 45 menit yang seharusnya, Aku sampai di parkiran rumah sakit.


Segera saja Aku menuju ruangan rawat yang tadi disebutkan oleh Raka melalui chat.


Aku melihat Raka melambaikan tangannya padaku, rupanya bocah itu mengerti jika Aku akan memakan waktu lama untuk mencari ruangan.


"Lewat sini Pak..". Tanpa Ba Bi Bu, Aku mengikuti jalan yang diambil oleh muridku sekaligus ipar sepupuku itu.


Aku membuka pintu kamar rawat. Irene menengok ke arah pintu, begitu mendengar suara pintu terbuka. Aku mendekati Irene dan segera memeluk Isteriku yang tampak sangat sedih itu. Dia membalas pelukanku tanpa mengatakan apapun.


Mataku melirik ke ranjang perawatan dimana disitu ada kakek. Ada banyak peralatan medis yang berada di atas tubuh kakek, termasuk alat bantu pernafasan.


"Bagaimana kondisi Kakek, Bi?". Ada Dua orang Bibi Irene di dalam kamar perawatan, salah satunya ku ketahui sebagai Ibu dari Raka.


"Sudah stabil Nak.. Tinggal menunggu Kakek sadar saja". Bibi tampak tenang, Namun Aku bisa melihat bahwa bibi Irene juga tengah bersedih. Siapa yang tidak bersedih hati melihat kondisi orang tua yang sedang tak berdaya??


"Kamu sudah makan?". Aku bertanya dengan lembut pada Irene. Dia menggeleng pelan.


"Bi, Saya membawa Irene makan dulu ya.. Apa Bibi mau pesan sesuatu?". Aku bertanya pada Bibi.


"Iya ajaklah Isterimu makan, dia sejak tadi Bibi bujuk tidak nurut.. Bibi sudah kenyang.. Pergilah". Ucap Bibi.


Aku menuntun Irene untuk keluar ruangan. Dia tampak enggan, Namun Aku memaksanya.


"Kamu makan dulu, nanti bisa menjaga Kakek lagi.. Kakek pasti sedih jika kamu nanti ikut sakit..". Bujukku.


"iya". Jawabnya lemah. Akhirnya Irene mau juga untuk makan.


Kami menuju kantin rumah sakit, suasana tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan jam makan.


Ah Aku jadi teringat Ayah dan Ibu. Aku menghubungi Raka untuk meminta bantuan anak itu.


"Sudah di ruangan Kakek, Pak.. Tadi saya antar..". Lapor Raka padaku, Aku bisa menghembuskan nafas lega sekarang.


"Terimakasih ya..".


Aku memesan beberapa makanan untuk Irene dan diriku sendiri. Mantan Murid yang sekarang menjadi isteriku itupun tampak tidak berselera makan, Aku prihatin melihatnya.


"Mas suapin ya?".


Irene mendongak, menatapku datar. Tapi sesaat kemudian, dia mengangguk.


Setelah selesai makan dan menyuapi kesayangan, Aku mengajaknya jalan sebentar ke taman rumah sakit, yang kebetulan dekat dengan kantin.


Aku menggandeng tangannya, menggenggam dengan erat, menyalurkan energi positif pada isteriku itu.


"Mas tadi sangat khawatir.. Kenapa tidak menghubungi? Biar Mas tadi yang antar..". Aku bertanya padanya, setelah kami duduk di sebuah bangku beton di salah satu gazebo taman.


Lama Aku menunggu jawaban,


"Maaf.. Tadi Aku nggak bisa mikir panjang.. Aku khawatir Mas..". Jawabnya.


Aku mengelus punggungnya.


"Maaf.." Hanya itu yang lolos dari bibir mungilnya. Aku menghela nafas, situasi kali ini tidak mendukung untuk memberi nasehat.


"Tenangkan diri kamu, Yang.. Kakek pasti baik- baik saja..".


Kurang lebih satu jam, Kami berada di taman. Isteriku itu sudah mulai bisa tersenyum, dan Aku bahagia melihatnya.


"Mau menjaga Kakek malam ini?". Tawarku, begitu kami sedang berjalan di koridor rumah sakit.


"Besok Mas gimana?". Dia menengok ke arahku sebentar.


"Mas bisa pulang dulu ke rumah, Besok tidak mengisi jam pertama..". Terangku.


Kami memasuki ruang rawat Kakek lagi. Masih ada Ayah dan Ibu di ruangan itu, sedang mengobrol entah apa.


"Yah.. Bu.. Nanti malam Rama akan menjaga Kakek bersama Irene..". Aku memberikan info untuk Ayah dan Ibuku.


"Bibi bisa istirahat dulu di rumah, Irene yang jaga kakek malam ini yaa..". Irene mendekati sang Bibi dan duduk kemudian memeluknya.


"Iya Nak.. Tapi ingat, jaga kesehatan kamu juga.. Bibi tidak mau kamu sakit..". Pesan sang Bibi. Irene mengangguk mantap.


Waktu menjelang petang, Ayah dan Ibu pamit untuk pulang. Aku mengantar mereka hingga tempat parkir rumah sakit.


"Hati- hati di jalan, Yah Bu.."


"Jaga Isteri kamu, Nak..". Pesan Ibu padaku. Aku mengangguk.


Setelah kepergian Ayah dan Ibu, Aku segera kembali ke ruangan Kakek.


***


"Mas..."


"Hmm..."


"Maaf yaa.."


"Untuk?"


"Semuanya... mungkin..". Ucap Irene tidak yakin. Aku membalik posisi Irene untuk menghadap ke arahku.


Kami tadi menggelar karpet yang dibawa oleh Bibi, untuk beristirahat. Tidak apa tidur di lantai, asal ada guling hangat. Hehee...


Aku menatap mata Isteriku, begitu Dia sudah sempurna menghadapkan wajahnya ke arahku.


"Mas juga minta maaf untuk semuanya...". Ucapku. Yaa.. memohon maaf untuk semua kesalahan yang mungkin saja secara tidak sengaja Aku lakukan, dan membuat hati isteriku itu bersedih.


"Jika ada sesuatu, apapun itu, katakan sama Mas.. Inget, suamimu ini cuman guru Matematika, bukan peramal.. Mas nggak tau yang ada di pikiran kamu, kecuali kamu mengatakannya...". Ucapku.


Irene tertawa kecil. Dia mengangguk dengan lucu, seperti anak kecil yang baru saja menerima nasehat dari orang tuanya.


"Sudah, kita tidur dulu..". Aku kembali memeluk Irene. Daguku berada di puncak kepalanya, Aku bisa menghirup aroma shampo dari rambut Irene. Walaupun belum mandi, tetap saja wangi. Hehee...


Aku mempuk- puk punggung Irene, hingga dia memejamkan matanya dan tidur dengan lelap. Setelah memastikan Irene tertidur, Aku bisa juga tidur dengan tenang.


'Semoga besok Kakek sudah sadar, dan kembali sehat seperti sebelumnya'. Doaku.


.


.


Bersambung😘