
Terimakasih untuk pembaca yang sudah mendukung karyaku🥰
.
.
Lanjut yaaa😘
.
.
Satu minggu berlalu dengan cepat...
Hari ini Aku sudah berada di Rumah Sakit bersama Irene. Kakek hari ini sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat di rumah. Setelah tiga hari di rawat di RS, akhirnya kakek Irene tersadar. Hal itu tentu membuat Isteriku bahagia. Selama seminggu, hampir setiap hari Kami berada di rumah sakit. Aku mengerti bagaimana perasaan Irene, sehingga sesibuk apapun tugas yang sedang ku hadapi di Sekolah, Aku tidak keberatan jika harus menemani Irene mengunjungi dan menjaga Kakek nya.
"Hati- hati Kek..". Aku ikut merangkul pundak kakek, agar beliau dengan mudah duduk di kursi roda. Paman Irene masuk ke dalam ruang rawat dan mengatakan bahwa mobil sudah siap.
"Mas balik dulu ke sekolah ya... Nanti sore mas jemput di rumah Kakek..". Pamit ku pada Irene begitu kami berada di tempat parkir.
"Iya mas.. Hati- hati yaa..". Dia mencium tanganku, kemudian berlalu menuju mobil yang membawa sang Kakek. Setelah mobil menjauh, Aku mulai melajukan motorku, mengambil arah yang berlawanan dengan mobil yang membawa Irene.
***
"Bagaimana kondisi Kakek nya Isteri sampean Pak?". Tanya Bu Suci di sela- sela kegiatannya mengoreksi lembar jawab.
"Alhamdulillah sudah baik, Bu.. Hari ini sudah bisa pulang ke rumah..". Jawabku.
"Oh iya syukurlah".
Aku kembali melanjutkan aktifitasku, mengoreksi hasil tryout siswa kelas 12. Seminggu ini, kelas 12 sudah mulai tryout Ujian Nasional. Jadwal yang sibuk tentu saja, ditambah lagi dengan Ulangan semester gasal untuk kelas 11 dan 10.
Drtt drtttt... Aku melirik benda pipih di atas meja, tertera nama 'isteri'. Aku tersenyum dan segera mengangkat panggilan darinya.
"Mm..aass...". Belum Aku memberi salam, Ku dengar Irene memanggilku dengan nada pedih, dia menangis.
"Kenapaa??". Aku bertanya dengan khawatir.
"Kakek Maass.. hiks hikss". Berikutnya Aku hanya mendengar suara tangisan dari seberang telpon.
Aku segera bangkit dari duduk, dan tidak menghiraukan lembaran jawaban yang masih berada di meja ku.
"Bu saya pulang dulu.. Tolong sampaikan ke Kepala Sekolah.. Sepertinya terjadi sesuatu di rumah".
Pamitku dengan Buru- buru ke rekan kerjaku. Mereka yang belum mengetahui apa- apa, hanya mengangguk dan memberi pesan agar Aku tidak tergesa di jalan.
Aku segera memacu motor membelah jalanan. Mendengar suara tangis itu, hal buruk langsung terlintas di benakku. Kakek baik baik saja kan? Ya tadi Aku melihat wajah beliau segar dan cerah. Aku segera menepis pikiran burukku.
Empat puluh menit kemudian, Aku sudah sampai di halaman rumah. Sudah banyak kendaraan di halaman, dan beberapa tetangga juga datang.
"Yang sabar, yang ikhlas...". Aku menepuk- nepuk punggungnya.
Aku dan Irene mendekat ke pembaringan, dimana disitu, Kakek terbaring sudah tidak bernyawa. Aku tidak menyangka, bahwa senyum Kakek tadi pagi adalah senyum terakhir yang ku dapatkan dari Kakek.
"Ma..ss.. Kakekk...". Irene terus merintih, Aku hanya bisa memeluk dia dan memberikan penghiburan.
"Kakek sudah tenang, Yang.. Tugas kita sekarang mendoakan beliau..". Aku mengelus kepalanya, memberikan pengertian.
Aku melihat semua orang menangis, terlebih Nenek. Wanita lanjut usia itu tampak sangat terpukul. Yaa.. Bagaimana tidak, Lelaki yang sudah menemani lebih dari setengah abad itu, kini sudah pergi meninggalkannya.
Saat Irene tengah merangkul dan menangis bersama sang Bibi, Aku keluar ke teras dan menghubungi Ibu. Barangkali Ibu belum mengetahui kabar meninggalnya Kakek.
"Assalamu'alaikum Bu.."
"Iya Nak.. Kamu sudah di rumah Kakek mertuamu? Ibu nunggu Kakakmu.." Mendengar jawaban Ibu, Aku langsung tahu, bahwa beliau sudah mengetahui kabar duka ini.
"Iya Bu.. Ya sudah Rama mau masuk lagi Bu, Irene masih nanhis- nangis di dalam..". Ucapku sedih.
"Hibur isterimu, Nak..". Aku mengangguk, dan mengiyakan nasehat Ibu.
Aku segera masuk kembali ke dalam rumah.
***
Pemakaman Kakek berlangsung sore hari, selain menunggu orang yang bekerja menggali kubur, juga menunggu kedatangan Anak Kakek yang berada di perantauan.
Aku ikut mengantar Kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tadi Irene sempat memaksa untuk ikut, namun melihat kondisi isteriku itu, Aku dengan tegas melarangnya. Dia protes dan menatap sendu padaku, namun Aku lebih memikirkan kesehatan jiwanya.
Setelah selesai proses pemakaman, Aku kembali ke rumah Kakek. Masih ada banyak orang di sana. Aku melihat, Pak Hendri beserta beberapa murid ada di antara para pelayat.
"Kami turut berduka cita Pak...". Ucap Pak Hendri.
"Terimakasih Pak..". Aku tersenyum padanya dan beberapa muridku itu.
Aku masuk ke dalam rumah, dan tidak menemui Irene di ruang pembaringan Kakek tadi. Aku masuk ke kamar dan masih tetap tidak ada Irene.
Aku mulai khawatir. Dimana diaa???
"Bi, Bibi melihat Irene??". Aku bertanya pada Bibi Iren yang kebetulan lewat di depan kamar.
"Anak itu sedang di kamar Kakek, Nak.. Bersama temannya.. Biarkan saja dulu.. Kamu ke depan temani Paman nerima pelayat ya..". Saran dari Bibi. Aku mengangguk dan segera ke depan.
Semoga Isteriku segera baik- baik saja. Harapku.
***